Perjalanan Panjang Gen Z Muba, dari Tungkal Jaya Jadi Relawan Piala Dunia 2026

- Nurul Ramadhan, pemuda asal Musi Banyuasin, berhasil menjadi volunteer Piala Dunia 2026 di Atlanta setelah perjalanan panjang dari program Pemuda Bangkit Berkarya hingga Asian Games 2018 dan Piala Dunia U-17 2023.
- Proses seleksi volunteer FIFA sangat ketat dengan jutaan pendaftar global, namun Nurul lolos dan bertugas dalam manajemen relawan, membantu pengelolaan ribuan peserta dari berbagai divisi selama turnamen berlangsung.
- Menghadapi kendala biaya keberangkatan, Nurul tetap berangkat berkat dukungan keluarga dan bantuan komunitas lokal, menjadikan pengalamannya simbol semangat anak daerah yang mampu menembus panggung dunia.
Palembang, IDN Times - Bagi banyak orang, keputusan Nurul Ramadhan (27) datang jauh-jauh dari Indonesia hanya untuk menjadi volunteer Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat terdengar tak masuk akal. Bahkan, tak sedikit yang mengira perempuan asal Desa Peninggalan, Kecamatan Tungkal Jaya, Musi Banyuasin, Sumatra Selatan (Sumsel) itu, telah lama tinggal atau bekerja di Negeri Paman Sam.
Mereka pun terkejut ketika mengetahui Nurul rela terbang belasan ribu kilometer dari kampung halamannya demi menjadi bagian dari Piala Dunia 2026.
"Mereka sampai bilang, masa cuma karena Piala Dunia kamu datang jauh-jauh dari Indonesia untuk jadi volunteer? Saya bilang, ini bukan cuma volunteer, bagi saya ini pencapaian luar biasa. Saya yang berasal dari daerah bisa sampai ke sini," ungkap Nurul kepada IDN Times dari Atlanta, Amerika Serikat, Senin (22/3/2026) melalui wawancara jarak jauh.
1. Perjalanan Nurul dimulai dari Asian Games 2018

Jauh sebelum menginjakkan kaki di Amerika Serikat, perjalanan Nurul berawal dari program Pemuda Bangkit Berkarya yang digelar ConocoPhillips saat dirinya masih berkuliah di UIN Raden Fatah Palembang. Dari program tersebut, ia bersama sejumlah penerima beasiswa mendapat pelatihan bahasa Inggris selama enam bulan di Palembang.
Kesempatan itu membawanya lolos sebagai liaison officer untuk tim sepak bola putri Jepang pada Asian Games 2018. Saat itu, Jepang keluar sebagai juara cabang olahraga sepak bola.
Pengalaman berinteraksi dengan delegasi dari berbagai negara membuat Nurul jatuh hati dengan dunia kerelawanan di event internasional.
"Sejak Asian Games itu saya jadi tertarik. Kita dapat ilmu banyak, ketemu orang dari berbagai negara dan punya pengalaman yang luar biasa," ujarnya.
2. Berawal dari World Cup U-17, Nurul mencoba peruntungan ke Piala Dunia 2026

Lima tahun berselang, ketika Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17 2023, Nurul kembali mendaftarkan diri sebagai volunteer. Kali ini ia bertugas di bidang teknologi informasi (IT) di Jakarta.
Dari kegiatan tersebut, ia bertemu banyak relawan dari berbagai daerah yang memiliki minat yang sama. Mereka saling bertukar informasi dan mendukung satu sama lain. Dari komunitas itulah Nurul mengetahui informasi perekrutan volunteer Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Ia pun mendaftarkan diri pada Juni 2025.
Proses seleksinya tidak mudah. Mulai dari pendaftaran online, seleksi administrasi, asesmen, pembuatan esai, hingga wawancara yang harus dijalani pada pukul 02.00 WIB karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Setelah itu, masih ada tahapan try out dan pemeriksaan latar belakang sebelum akhirnya ia dinyatakan lolos sebagai bagian dari volunteer management.
Dalam perannya itu, Nurul bertugas membantu pengelolaan ribuan relawan dari berbagai divisi, mulai dari absensi, pengaturan area kerja, hingga membantu kebutuhan para volunteer saat pertandingan berlangsung.
"Secara global, FIFA menerima sekitar 1,1 juta pendaftar, namun hanya sekitar 50 ribu orang yang terpilih dengan tingkat penerimaan sekitar 5 persen. Khusus untuk Atlanta, lebih dari 37 ribu orang mendaftar, dan hanya tiga ribu yang diterima setelah melewati background check dan training. Alhamdulillah, saya termasuk salah satunya," jelasnya.
3. Sempat pesimis karena biaya, tapi keluarga justru menjadi penyemangat

Meski berhasil lolos, perjuangan Nurul belum selesai. Biaya keberangkatan menuju Amerika Serikat menjadi tantangan terbesarnya. Ia bahkan sempat menyebarkan lebih dari 50 proposal ke berbagai lembaga dan perusahaan untuk mencari modal tambahan. Namun, tak satu pun bantuan yang didapat.
"Saya sempat pesimis. Kurs dolar juga lagi tinggi. Saya sempat berpikir bagaimana biaya ke sana," jelasnya.
Di tengah keraguan itu, keluarganya justru menjadi penyemangat terbesar. Sang ayah, kakak, hingga abang meyakinkan dirinya untuk tetap berangkat.
"Kata keluarga saya, uang bisa dicari, tapi kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Pengalaman, ilmu, dan relasi itu harganya jauh lebih mahal," ungkapnya.
Berbekal tabungan pribadi dan hasil patungan keluarga, Nurul akhirnya bisa membeli tiket pesawat serta memenuhi kebutuhan hidup selama di Atlanta. Ia juga mendapat bantuan pribadi dari Kepala Desa Peninggalan Sopan Sofyan dan anggota Komisi I DPRD Muba Afrizal.
"Dari uang yang dikumpulkan itulah modal saya berangkat ke Amerika," katanya.
4. Disambut hangat relawan AS dan terkejut melihat banyak volunteer berusia lanjut

Sebelum berangkat, Nurul sudah berkomunikasi dengan sejumlah volunteer di Amerika Serikat. Setibanya di Atlanta, ia langsung dijemput oleh seorang relawan yang kemudian menjadi sahabatnya.
Mereka membantu mencarikan tempat tinggal hingga mengenalkan sistem transportasi di Amerika pada hari-hari pertama tiba di sana.
"Jiwa solidaritas mereka tinggi sekali. Saya dijemput di bandara, dibantu mencari tempat tinggal, diantar ke mana-mana. Sampai sekarang saya lebih banyak jalan kaki dan naik transportasi umum," ungkap dia.
Ada satu hal yang membuatnya terkejut selama bertugas. Berbeda dengan Indonesia yang didominasi oleh anak muda, sebagian besar volunteer di Amerika justru berusia di atas 40 tahun. Bahkan ada yang sudah berumur lebih dari 80 tahun.
"Saya syok. Semangat mereka luar biasa. Mereka bilang harus tetap aktif, tetap berpikir, makanya mereka memilih menjadi volunteer. Mereka juga disiplin sekali, semuanya terjadwal dan inisiatifnya tinggi," katanya.
5. Bagi Nurul, ini bukan sekadar menjadi volunteer

Saat dinyatakan lolos menjadi volunteer Piala Dunia, Nurul masih bekerja di PT Tempirai yang bergerak di sektor pertambangan. Perusahaan tempatnya bekerja memberikan keleluasaan dengan mengizinkannya mengambil cuti untuk mengikuti ajang tersebut.
Atas dukungan yang diterimanya, Nurul bertekad membawa nama baik Indonesia, Sumatra Selatan, hingga perusahaan tempatnya bekerja selama bertugas di Piala Dunia.
Bagi anak muda asal Desa Peninggalan itu, menjadi bagian dari pesta sepak bola terbesar di dunia bukan sekadar soal pekerjaan sukarela. Lebih dari itu, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa mimpi besar juga bisa dimiliki anak daerah.
"Saya cuma orang dari daerah. Bisa sampai ke sini saja sudah pencapaian luar biasa. Makanya saya ingin membuktikan kalau anak daerah juga bisa punya mimpi yang mendunia," tuturnya.
















