Pengamat: Ekonomi Sumsel 2026 Tumbuh, Meski Ada Efisiensi Anggaran

- Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Sumsel pada tahun 2025 mencapai 5,35 persen, menunjukkan potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada 2026.
- Konsumsi rumah tangga tumbuh sekitar tiga persen dan berkontribusi sekitar 60 persen terhadap PDRB, menunjukkan efisiensi anggaran pemerintah yang tepat.
- Meskipun anggaran pemerintah mengalami pengurangan, dana hasil efisiensi tersebut tetap dapat dicairkan pada akhir tahun sehingga tak mengganggu stabilitas ekonomi daerah.
Palembang, IDN Times - Pengamat ekonomi Sumatra Selatan Sukanto, memprediksi pertumbuhan ekonomi 2026 mengalami pergerakan positif. Meski sempat terseok tahun lalu akibat efisiensi anggaran, tren pertumbuhan ekonomi diperkirakan membaik seiring dengan laporan Badan Pusat Statistik.
"Walaupun sempat terseok-seok karena adanya efisiensi anggaran, pertumbuhan ekonomi Sumsel mampu tumbuh cukup baik," ujarnya, Minggu (8/2/2026).
1. Efisiensi anggaran 2025 disebut tak hambat ekonomi Sumsel

Berdasarkan data BPS, tercatat pertumbuhan ekonomi Sumsel pada tahun 2025 di angka 5,35 persen. Nilai itu kata Sukanto, jadi bukti kuat ekonomi daerah bisa lebih baik pada 2026.
"Artinya, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah kemarin (2025) tidak menghambat pertumbuhan ekonomi daerah," kata dia.
Sukanto menyampaikan, pendorong ekonomi Sumsel tumbuh positif disokong dari konsumsi dan belanja masyarakat. Serta didukung pada pendapatan dana transfer pusat.
"Implikasi dari kebijakan efisiensi menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata bergantung pada belanja pemerintah," jelasnya.
2. Konsumsi rumah tangga sokong pertumbuhan ekonomi Sumsel

Beberapa sumber pertumbuhan ekonomi yang mampu menopang kinerja ekonomi daerah khususnya di Sumsel lanjut dia, dilihat dari sisi struktur pengeluaran. Sebab, ekonomi Sumsel masih sangat ditopang oleh konsumsi rumah tangga.
"Konsumsi rumah tangga tumbuh sekitar tiga persen dan berkontribusi sekitar 60 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)," kata dia.
Kontribusi tersebut, jelas Sukanto, menunjukkan efisiensi yang dilakukan pemerintah sudah tepat. Pemerintah katanya, berhasil menjaga ritme pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi rumah tangga pada triwulan IV tahun 2025.
"Konsumsi masyarakat meningkat karena adanya momen Natal dan Tahun Baru, di mana masyarakat cenderung meningkatkan belanja,” jelas dia.
3. Penurunan angka kemiskinan dorong ekonomi membaik

Meskipun anggaran pemerintah mengalami pengurangan, kata Sukanto, dana hasil efisiensi tersebut tetap dapat dicairkan pada akhir tahun sehingga tak mengganggu stabilitas ekonomi daerah.
Berdasarkan data BPS, terlapor pertumbuhan ekonomi Sumsel berada pada rentan normal dan angka kemiskinan terdata menurun menjadi 9,85 persen. Kondisi itu menunjukkan inklusivitas pertumbuhan ekonomi mendorong pendapatan per kapita dan pemerataan kesejahteraan.
"Ini membuktikan bahwa efisiensi anggaran tidak berdampak negatif. Dengan anggaran yang lebih terbatas, pemerintah justru mampu menjaga pertumbuhan ekonomi dan menurunkan angka kemiskinan melalui kerja keras dan diversifikasi ekonomi," katanya.


















