Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pasokan Berkurang, Pemprov Sumsel Pastikan Beras Premium Belum Langka
ilustrasi beras (freepik.com/freepik)
  • Pemprov Sumsel menyatakan beras premium belum langka, meski stok di sejumlah ritel modern turun dari kondisi normal dan volumenya lebih sedikit.
  • TPID Sumsel akan mengecek pabrik serta penggilingan untuk menelusuri penyebab keterbatasan pasokan beras premium dalam rantai distribusi.
  • Pemerintah daerah mendorong penambahan distribusi beras SPHP melalui depo, gudang, dan penyaluran langsung kepada masyarakat guna menjaga kebutuhan pangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Sekda Sumatra Selatan (Sumsel) Edward Chandra membantah ada kelangkaan beras premium di pasaran meski pasokan di sejumlah ritel modern berkurang. Menurutnya, kondisi beras premium berada di bawah harga normal namun, tidak dapat dikategorikan sebagai kelangkaan karena produk masih tersedia.

"Kita sudah melihat ketersediaan beras, utamanya beras premium. Memang kalau kita lihat, stok berkurang dari rutin biasanya. Sebab mereka ini mengisi untuk lebih 600 gerai," ungkap Edward usai mengecek gudang ritel modern, Selasa (1/9/2026).

1. Pemprov akan tinjau langsung ke pabrik

Ilustrasi beras premium. (IDN Times/Anata Siregar)

Menurut Edward, persoalan pasokan tidak hanya dapat dilihat dari kondisi gudang ritel. Berkurangnya stok juga berkaitan dengan pasokan yang diterima dari pabrik maupun penggilingan.

Karena itu, Pemprov Sumsel bersama TPID akan melanjutkan pengecekan ke sumber produksi untuk mencari tahu titik persoalan dalam rantai pasokan beras premium.

"Setelah ini TPID juga akan melihat langsung ke pabrik. Kita akan melihat persoalannya seperti apa sehingga ada keterbatasan stok. Ini baru salah satu, mungkin tempat lain menurut informasi juga mengalami keterbatasan," ujarnya.

2. Stok beras diakui berkurang

Ilustrasi pekerja menjemur gabah di penggilingan padi. (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

Edward menegaskan masyarakat tidak perlu menyimpulkan beras premium tidak tersedia di pasaran. Menurutnya, beras tersebut masih tersedia, hanya jumlah yang masuk ke jaringan ritel tidak sebanyak biasanya.

"Sejauh ini barangnya ada, hanya sedikit. Biasanya yang mereka masukkan itu lebih banyak, sekarang berkurang. Barangnya ada, tetapi volumenya berkurang," katanya.

3. SPHP akan disalurkan ke masyarakat

Perum BULOG menegaskan bahwa stok beras yang saat ini mencapai sekitar 5,25 juta ton per 9 Agustus 2026 yang tersebar di jaringan gudang BULOG di seluruh Indonesia. Besarnya stok tersebut merupakan hasil akumulasi penguasaan stok awal tahun dan penyerapan gabah petani dalam negeri yang terus dilakukan sepanjang 2026, sekaligus mencerminkan kuatnya kapasitas BULOG dalam menjaga ketersediaan pangan nasional. (Dok. BULOG)

Kondisi pasokan tersebut menjadi perhatian karena ritel modern harus membagi beras yang datang ke ratusan gerai. Dengan jumlah toko yang banyak, pasokan dalam jumlah terbatas dapat dengan cepat terserap setelah tiba di gudang.

Di tengah kondisi itu, pemerintah daerah mulai menyiapkan langkah untuk menjaga agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Salah satunya dengan mendorong penambahan distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

"Kita mendorong penambahan beras SPHP, baik yang didistribusikan melalui depo-depo atau gudang maupun ke masyarakat secara langsung," jelas Edward.

Curated For You

Editorial Team

Related Article