Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Asap Karhutla Makin Menyesakkan, Puskesmas Sumsel Siaga 24 Jam

Kota Palembang
Asap Karhutla Makin Menyesakkan, Puskesmas Sumsel Siaga 24 Jam
Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
  • Gubernur Sumsel Herman Deru meminta puskesmas di wilayah terdampak asap karhutla membuka layanan ISPA selama 24 jam.
  • Masyarakat terdampak karhutla yang berobat karena ISPA diharapkan tidak dipungut biaya oleh puskesmas.
  • Pemerintah menyesuaikan jam masuk sekolah dan menganjurkan penggunaan masker, sambil mengajak warga berperan dalam pencegahan serta penanganan karhutla.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Gubernur Sumatra Selatan (Sumsel) Herman Deru menyiapkan langkah penanganan karhutla di tengah kepungan asap yang terjadi di beberapa wilayah di Sumsel. Deru mengatakan, puskesmas di daerah terdampak kabut asap diminta membuka pelayanan selama 24 jam, khususnya untuk menangani keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Bagi daerah yang terdampak karhutla, puskesmas dibuka 24 jam untuk pelayanan ISPA," ungkap Herman Deru, Senin (31/8/2026).

  1. 1. Pengobatan karena ISPA juga gratis

    Gubernur Sumsel Herman Deru
    Gubernur Sumsel Herman Deru (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Deru menjelaskan, pembukaan puskesmas 24 jam dilakukan agar masyarakat dapat mengakses fasilitas kesehatan dengan cepat saat keluhan ISPA terjadi. Dirinya juga meminta masyarakat terdampak untuk tidak dikenakan biaya oleh pihak puskesmas.

    "Masalah kesehatan sudah berkoordinasi dengan kabupaten/kota yang terdampak karhutla agar puskesmasnya buka pelayanan 24 jam untuk layanan ISPA dan diharapkan tidak dipungut biaya kalau terdampak ISPA," jelasnya.

  2. 2. Jam sekolah berubah

    Gubernur Sumsel Herman Deru
    Gubernur Sumsel Herman Deru (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Selain layanan kesehatan, pemerintah juga melakukan penyesuaian terhadap kegiatan belajar-mengajar di sekolah sebagai langkah perlindungan terhadap siswa dari paparan asap karhutla.

    Kegiatan sekolah tetap berjalan dengan penyesuaian jam masuk. Penyesuaian tersebut dilakukan agar aktivitas pendidikan tetap berlangsung tanpa mengabaikan kondisi kesehatan siswa di tengah kualitas udara yang terdampak asap karhutla.

    "Sekolah baru di-extend jam masuknya dan dianjurkan pakai masker," jelasnya.

  3. 3. Penyebab kebakaran adalah manusia

    Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
    Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Menurut Herman Deru, penanganan karhutla tidak hanya menjadi persoalan pemadaman api. Masyarakat juga perlu mendapat perlindungan karena dampak kebakaran pada akhirnya kembali dirasakan manusia, terutama melalui kualitas udara yang buruk.

    Ia menilai peran masyarakat menjadi penting dalam seluruh tahapan penanganan karhutla, mulai dari pencegahan hingga penanganan dampaknya.

    "Menitikberatkan pada peran manusia di sini. Jadi kalau hasil investigasi penyebab mayoritas ini adalah ulah manusia dan yang terdampak manusia," ujarnya.

    Karena itu, Herman Deru mengajak masyarakat Sumsel mengambil bagian dalam upaya penanganan karhutla sesuai kapasitas masing-masing.

    "Kita semua warga Sumsel, masing-masing paling tidak kita ada peran pada posisi promotif, preventif dan penanganan juga," katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More