Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Palembang Jadi Wilayah Terbesar Sebaran Virus Flu Singapura di Sumsel
ilustrasi wabah (pixabay.com/fernando zhiminaicela)
  • Palembang mencatat 102 kasus flu Singapura dari total 523 kasus di Sumsel hingga pekan ke-23 tahun 2026, menjadikannya wilayah dengan sebaran tertinggi.
  • Kasus mulai meningkat sejak April 2026 dan mayoritas menyerang anak usia di bawah tujuh tahun, dengan gejala demam, sariawan, serta ruam di tangan dan kaki.
  • Dinkes mengimbau masyarakat menerapkan PHBS, menjaga kebersihan lingkungan bermain anak, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila muncul tanda-tanda HFMD.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Kota Palembang menjadi daerah dengan kasus flu Singapura atau Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) terbanyak di Sumatra Selatan (Sumsel) sejak awal 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel mencatat terdapat 102 kasus di ibu kota provinsi itu dari total 523 kasus yang ditemukan hingga pekan ke-23 tahun ini.

"HFMD memang penyakit musiman. Kasus di Sumsel biasanya meningkat saat pancaroba maupun musim kemarau ketika anak-anak lebih banyak berkumpul di ruangan ber-AC atau taman bermain indoor," ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa Ogatiyah, Senin (29/6/2026).

1. Ingatkan untuk jalani PHBS

ilustrasi ruam merah di dalam mulut pada flu Singapura (medicinenet.com)

Menurut Ira, penularan flu Singapura mulai meningkat sejak April 2026. Pada pekan pertama hingga pekan ke-15, jumlah penderita masih berkisar 1-19 orang per pekan sebelum kemudian melonjak menjadi puluhan orang setiap minggu.

"Flu Singapura atau HFMD merupakan penyakit infeksi virus yang umumnya menyerang bayi dan anak-anak di bawah usia 5-7 tahun. Penyakit ini juga dapat menyerang dewasa, orang rentan terinfeksi saat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tidak diterapkan dengan baik," jelasnya.

2. Sebaran Virus Singapura di Sumsel

ilustrasi luka mulut atau sariawan pada anak dengan flu Singapura atau hand, foot and mouth diseases (HFMD) (commons.wikimedia.org/1006will)

Selain Palembang, jumlah penderita cukup tinggi juga tercatat di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sebanyak 75 kasus, Musi Banyuasin 61 kasus, Prabumulih 58 kasus, Lahat dan Muara Enim masing-masing 54 kasus, serta Lubuk Linggau 49 kasus.

Ira mengatakan, penderita flu Singapura umumnya mengalami demam, sariawan di lidah, gusi, atau bagian dalam pipi. Selain itu muncul ruam atau bintil kecil di sekitar mulut, telapak tangan, telapak kaki, hingga bokong yang disertai nyeri tenggorokan.

"Masa inkubasi terjadi 3-6 hari setelah terinfeksi virus. Yang bahaya, kalau anak lemas banget, kejang, susah napas, tangan kaki dingin. Bisa jadi komplikasi ensefalitis. Harus langsung dibawa ke IGD RS," ungkapnya.

3. Orang tua diminta bawa anaknya ke faskes jika temukan tanda-tanda Flu Singapura

ilustrasi hand, foot and mouth disease (HFMD) atau flu Singapura (flickr.com/John C Bullas BSc MSc PhD MCIHT MIAT)

Ira menjelaskan, virus penyebab flu Singapura menular melalui kontak langsung dengan cairan hidung dan tenggorokan, air liur, cairan dari lepuhan, maupun feses penderita. Karena itu, penyakit ini mudah menyebar, terutama di lingkungan yang melibatkan banyak anak, seperti tempat penitipan anak dan sekolah.

Ia menyarankan anak yang terinfeksi beristirahat di rumah selama 7-10 hari atau hingga demam hilang dan bintil mengering agar tidak menularkan virus kepada orang lain.

"Anak harus istirahat di rumah minimal 7-10 hari sampai bintik kering dan tidak demam," katanya.

Selain itu, masyarakat diimbau menerapkan PHBS dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun, membersihkan mainan serta permukaan yang sering disentuh, dan menghindari kontak dekat dengan penderita.

"Orang tua juga diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala HFMD agar mendapat penanganan sedini mungkin," ujarnya.

Editorial Team

Related Article