Asap Karhutla di Sumsel Kembali Pekat, Mengapa Dry Ice Terus Dicoba?

Kabut asap kembali pekat di Palembang akibat anomali atmosfer dan lapisan inversi rendah yang menahan asap di dekat permukaan bumi.
Pemerintah melanjutkan penyemaian dry ice sejak 15 Oktober untuk memecah lapisan inversi sekitar 300 meter, sambil operasi pemadaman tetap berjalan.
Hingga 20 Oktober, penyemaian dilakukan enam hari dengan 800 kilogram per sorti; rencana dua sorti membutuhkan 1,6 ton per hari, sementara kebakaran masih terjadi di OKI.
Palembang, IDN Times - Kabut asap kembali menyelimuti Kota Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel), setelah kondisi udara sempat membaik. Di tengah kondisi tersebut, pemerintah terus melakukan penyemaian dry ice untuk mengurangi kepekatan asap.
Gubernur Sumsel Herman Deru menyebut, kembali pekatnya kabut asap kali ini dipengaruhi oleh anomali kondisi atmosfer dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kondisi tersebut membuat pemerintah tetap melanjutkan operasi penyemaian dry ice, meskipun udara di Palembang kembali memburuk.
"Terjadi kepekatan asap karena ada anomali dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Jadi, masyarakat perlu tahu bahwa bukan berarti operasi dry ice berhenti," ungkap Herman Deru, Rabu (21/10/2026).
1. Dry ice dinilai bisa mengurai asap

Kondisi kabut asap di Palembang pagi ini (IDN Times/Rangga Erfizal) Deru mengungkapkan, penyemaian dry ice dinilai dapat membantu mengatasi kabut asap yang terperangkap di lapisan udara dekat permukaan Bumi. Kondisi ini terjadi ketika lapisan inversi menghambat pergerakan udara ke atas sehingga asap sulit menyebar ke atmosfer yang lebih tinggi dan akhirnya terkumpul di sekitar wilayah Palembang.
"Kita berharap sekitar 15 menit setelah ditaburkan dry ice bisa memecah lapisan inversi yang berada di ketinggian sekitar 300 meter," jelasnya.
Deru juga menilai pelaksanaan dry ice dapat terus berlangsung sampai musim hujan tiba. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kenyamanan masyarakat dalam beraktivitas.
"Terus kita lakukan dry ice untuk kenyamanan aktivitas masyarakat khususnya di Palembang. Namun, operasi pemadaman juga terus berjalan," jelasnya.
2. Penyebab asap kembali tebal di Palembang

Kondisi kabut asap di Palembang pagi ini (IDN Times/Rangga Erfizal) Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan bahwa posisi lapisan inversi yang terlalu rendah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kabut asap kembali pekat di Palembang.
Lapisan inversi merupakan kondisi ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan tertentu. Kondisi ini dapat menghambat pergerakan vertikal udara sehingga asap tertahan di dekat permukaan bumi.
"Lapisan inversi ini sejatinya hampir setiap hari ada. Namun, pagi ini posisinya terlalu dekat dengan permukaan sehingga asap yang masuk ke Palembang tidak bisa menyebar lebih tinggi dan akhirnya terperangkap," jelas Wandayantolis.
3. Kebakaran masih terjadi di OKI

Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal) Operasi penyemaian dry ice untuk mengurangi kepekatan kabut asap di Sumsel telah dimulai sejak 15 Oktober 2026. Hingga 20 Oktober, operasi tersebut telah berlangsung selama enam hari.
Dalam satu sorti penerbangan, tim satgas udara menyebarkan sekitar 800 kilogram dry ice. Pemerintah merencanakan akan menambah upaya penyemaian menjadi dua sorti penerbangan sehingga kebutuhan material mencapai 1,6 ton per hari.
Meski operasi telah berjalan beberapa hari, kabut asap kembali pekat di Palembang pada 20 Oktober. Kondisi ini tidak terlepas dari titik panas yang masih tinggi dan kejadian kebakaran di wilayah seperti Ogan Komering Ilir (OKI).
"Kebakarannya masih terjadi di sana (OKI)," ungkap Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, Selasa (20/10/2026).



















