Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kisah Pilu Korban Bus ALS: Satu Keluarga Asal Lampung Tewas di TKP

Kisah Pilu Korban Bus ALS: Satu Keluarga Asal Lampung Tewas di TKP
Keluarga korban asal Lampung tragedi Bus ALS (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
  • Kecelakaan maut antara bus ALS dan truk tangki BBM di Musi Rawas Utara menewaskan 16 orang, termasuk satu keluarga asal Lampung yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak kecil.

  • Hambali, ayah korban, datang ke Palembang untuk menunggu hasil identifikasi keluarganya di RS Bhayangkara setelah mengetahui anak, menantu, dan cucunya menjadi korban kecelakaan tersebut.

  • Sebelum tragedi terjadi, keluarga muda itu berencana merantau ke Pekanbaru untuk menggarap lahan sawit dan membangun rumah impian mereka, namun takdir berkata lain.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Palembang, IDN Times - Isapan rokok yang tak henti dari tangan yang bergetar menunjukkan kegelisahan Hambali. Pria berusia 56 tahun itu merupakan keluarga korban kecelakaan maut Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki BBM di Musi Rawas Utara, Rabu (6/5/2026).

Hambali tampak mengenakan kaus hitam dan duduk termenung di posko darurat RS Bhayangkara Moh. Hasan Palembang. Ia menunggu kepastian nasib keluarganya yang masih dalam proses identifikasi oleh tim forensik Polda Sumatra Selatan.

"Baru sampai sini (Palembang) jam 7 pagi tadi diantar saudara naik travel," ujarnya, Kamis (7/5/2026).

1. Satu keluarga korban tewas Bus ALS berangkat dari Lampung 4 Mei 2026

Kondisi bus ALS terbakar di Muratara. (Dok. IDN Times)
Kondisi bus ALS terbakar di Muratara. (Dok. IDN Times)

Sejak mendapatkan kabar kecelakaan maut bus ALS yang terbakar di Jalinsum Kecamatan Karang Jaya, Musi Rawas Utara, Hambali langsung berangkat menuju ke Palembang dari Way Kanan, Lampung. Sebab, anak, menantu dan cucunya merupakan penumpang dalam tragedi bus ALS. Mereka adalah Aldi (27), Rani (24) dan Bella (2). Mereka berangkat dari Lampung pada 4 Mei 2026.

"Ada cucu dan anak saya di bus tersebut," kata dia sambil menarik napas panjang.

2. Sang anak pergi untuk mencari rezeki

identifikasi jenazah korban bus ALS di Muratara (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
identifikasi jenazah korban bus ALS di Muratara (Dok. Polda Sumsel)

Sembari berkali-kali menghisap tembakau, tatapan mata Hambali tampak tak karuan. Ia pun sesekali tertunduk sambil menggelengkan kepala. Sorot matanya kosong meski menatap layar ponsel.

“Tidak tahu lagi hati saya ini seperti apa. Cucu, anak saya ada dalam bus," ceritanya lagi.

Dia menyampaikan, Aldi hendak berangkat ke Pekanbaru, Riau, untuk menggarap lahan kebun sawit milik keluarganya. Ia pun membawa anak istrinya ke tanah rantau untuk mengubah nasib. Namun, niat itu kandas setelah tragedi kecelakaan bus ALS yang menghantam truk tangki minyak hingga 16 orang tewas terbakar.

“Anak saya itu (Aldi) kerja di Way Kanan serabutan, mau dapat penghasilan lebih jadi berangkat ke Pekanbaru untuk menggarap lahan kebun sawit milik keluarga,” jelas dia.

Sebelum berangkat menaiki bus ALS, Aldi sebetulnya sempat ketinggalan bus. Karena jadwal pada saat itu hanya ada satu bus, ia kemudian langsung berangkat menggunakan bus ALS.

“Sebetulnya berat melepas anak saya mau merantau, tapi terjadi seperti ini akhirnya," kata dia dengan mata berkaca.

3. Harapan satu keluarga bangun rumah kandas karena tragedi Bus ALS

identifikasi jenazah korban bus ALS di Muratara (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
identifikasi jenazah korban bus ALS di Muratara (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Sementara, kata Kamdi (45), paman dari Rani mengatakan, keponakannya itu punya mimpi membangun rumah sendiri untuk keluarga mereka. Karena niat baiknya, Kamdi pun sempat patungan bersama keluarga lain untuk membeli semen dan pasir untuk mencetak batako.

“Karena saya tukang bangunan, saya belikan pasir dan semen untuk cetak batako. Aldi sempat mencetak batako itu 200 buah," cerita Kamdi.

Belum sempat rumah dibangun, Aldi pun mengutarakan rencananya kepada Kamdi untuk merantau ke Pekanbaru menggarap lahan sawit keluarga. Meski sedikit berat, Kamdi akhirnya merestui rencana mereka untuk berangkat.

Namun, takdir berkata lain. Mimpi memiliki rumah di tanah rantau yang diidamkan Aldi pun kandas. Mereka satu keluarga tewas terbakar dalam kecelakaan maut. Saat ini, pihak keluarga masih menunggu hasil identifikasi Polda Sumsel

“Rencananya Rani sama anaknya mau dimakamkan satu liang, suaminya di pisah,” kata Kamdi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More