Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kemarau Sumsel Diprediksi Lebih Panjang, 7 Wilayah Kini Berstatus Awas
Ilustrasi kekeringan (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha)
  • BMKG memprediksi kemarau Sumsel pada September 2026 lebih panjang dengan curah hujan di bawah normal; tujuh wilayah, termasuk PALI, Muba, OKU Timur, Banyuasin, Ogan Ilir, OKI, dan Muara Enim berstatus awas.
  • Palembang dan Prabumulih berstatus siaga, sementara empat daerah waspada. Minimnya tutupan awan menurunkan peluang hujan; El Nino turut meningkatkan risiko kekeringan, krisis air, serta kebakaran hutan dan lahan.
  • BPBD Sumsel mencatat 2.676 kejadian karhutla hingga 10 September 2026. Sebanyak 15 dari 17 kabupaten dan kota masuk zona merah, sedangkan Pagar Alam dan Empat Lawang tercatat di bawah 30 kasus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Sumatra Selatan (Sumsel) masih harus menghadapi periode kering pada September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dari biasanya dengan curah hujan di bawah normal.

Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah mulai masuk dalam peta peringatan dini kekeringan meteorologis. Pada dasarian 1 September 2026, tujuh wilayah Sumsel bahkan telah berada pada status awas.

“Ada tujuh wilayah meliputi Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Musi Banyuasin (Muba), Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Muara Enim yang berstatus awas dengan kondisi rawan kekeringan,” ungkap Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sumsel, Nandang Pangaribowo, Senin (14/9/2026).

1. Peluang turunnya hujan menurun

Ilustrasi kekeringan. (Unsplash.com/Mike Erskine)

Tak hanya ketujuh wilayah, beberapa daerah lainnya, seperti Palembang dan Prabumulih, berada pada status siaga. Adapun Musi Rawas, Empat Lawang, Lahat, dan Lubuk Linggau masuk kategori waspada.

Menurut BMKG, kondisi kering yang terjadi saat ini tidak terlepas dari minimnya tutupan awan. Rendahnya pembentukan awan membuat peluang turunnya hujan di Sumsel ikut menurun.

“Minimnya tutupan awan serta potensi awan yang mengandung curah hujan terpantau sangat minim,” ujarnya.

2. Masyarakat diminta waspada potensi kekeringan

Ilustrasi kekeringan (unsplash.com/Md. Hasanuzzaman Himel)

Saat ini Sumsel masih berada dalam periode puncak musim kemarau yang berlangsung pada September. Situasi ini membuat sejumlah wilayah perlu bersiap menghadapi periode tanpa hujan yang lebih panjang.

Selain faktor musim, fenomena El Nino juga turut meningkatkan potensi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumsel.

BMKG mengingatkan bahwa dampak kekeringan perlu diantisipasi sejak dini, terutama terhadap ketersediaan air. Kondisi lahan yang semakin kering juga dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Masyarakat dan pemangku kepentingan diminta meningkatkan kewaspadaan selama periode puncak kemarau, khususnya di wilayah yang telah masuk status awas dan siaga.

3. Sebanyak 15 wilayah berada di zona merah karhutla

ilustrasi kekeringan (pixabay.com/Tama66)

Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat 15 dari 17 kabupaten/kota di Sumsel masuk kategori zona merah karhutla.

Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel hingga 10 September 2026, tercatat 2.676 kejadian karhutla di berbagai wilayah.

“Untuk di Sumsel ada 2.676 kejadian karhutla. Ada 15 daerah yang masuk kategori zona merah karhutla. Hanya Pagar Alam dan Empat Lawang yang belum masuk karena kejadiannya di bawah 30 kasus,” ungkap Kabid BPBD Sumsel Sudirman.

Curated For You

Editorial Team

Related Article