Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Ayam Ras di Sumsel Dorong Kenaikan NTP Sektor Peternakan

Kota Palembang
Harga Ayam Ras di Sumsel Dorong Kenaikan NTP Sektor Peternakan
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pemerintah daerah perlu mewaspadai kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras yang terjadi di 188 kabupaten/kota, meskipun harga rata-rata nasional mencapai Rp39.712 per kilogram atau masih di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen sebesar Rp40.000 per kilogram. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan
  • NTP sektor peternakan Sumatra Selatan naik 0,9 persen pada Agustus 2026, karena indeks harga yang diterima peternak meningkat 0,95 persen, melampaui kenaikan indeks harga dibayar 0,05 persen.
  • Ayam ras pedaging menjadi penyumbang utama kenaikan harga komoditas peternakan sebesar 2,08 persen, disusul telur ayam ras 0,16 persen dan sapi potong 0,04 persen.
  • NTNP turun 0,10 persen karena indeks harga yang dibayar pelaku perikanan naik 0,23 persen, lebih tinggi daripada harga diterima 0,13 persen; NTN khusus turun 0,33 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Harga jual unggas, khususnya ayam ras pedaging di Sumatra Selatan mendorong kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) pada sektor peternakan. Peningkatan NTP tersebut mencapai 0,9 persen pada Agustus 2026.

"Kenaikan terjadi karena indeks harga yang diterima peternak naik 0,95 persen dan indeks harga yang dibayar peternak naik 0,05 persen," ujar Kepala Badan Pusat Statistik Sumsel Mohammad Wahyu Yulianto, dikutip Senin (14/9/2026).

  1. 1. Nilai tukar petani peternak ayam naik 0,16 persen

    Danang, peternak ayam petelur, berada di kandang ayam miliknya di Desa Gelung, Kecamatan Paron, Ngawi.
    Danang peternak ayam petelur di Desa Gelung, Kecamatan Paron Ngawi. IDN Times/Riyanto.

    Sementara berdasarkan data BPS Sumsel, kenaikan indeks harga yang diterima petani terjadi karena adanya peningkatan harga sejumlah komoditas peternakan. Kelompok unggas, khususnya ayam ras pedaging, menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan kenaikan harga sebesar 2,08 persen.

    "Kemudian, harga pada kelompok hasil ternak, terutama telur ayam ras, juga meningkat 0,16 persen. Sementara harga ternak besar, khususnya sapi potong, naik 0,04 persen," jelasnya.

  2. 2. Harga komoditas ternak kecil di Sumsel menurun

    Seorang peternak berdiri di area kandang bersama sejumlah kambing peliharaan yang disiapkan untuk kebutuhan kurban.
    Peternak kambing (flickr.com/Amri Knowledge Enterpreneur-24)

    Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa harga komoditas, khususnya kelompok ternak kecil seperti kambing, justru mengalami penurunan sebesar 0,18 persen. Kondisi itu, katanya, membuat kenaikan harga yang diterima peternak lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan biaya yang harus dikeluarkan.

    Sedangkan pada Agustus 2026, indeks harga yang dibayar sektor peternakan tercatat naik tipis 0,05 persen, dari 130,37 menjadi 130,44. Kenaikan biaya dipengaruhi oleh peningkatan pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga 0,01 persen dan biaya produksi serta penambahan barang modal (BPPBM) 0,09 persen.

    "Namun, kondisi berbeda terjadi pada sektor perikanan," kata dia.

  3. 3. Nilai tukar nelayan di Sumsel mengalami penurunan

    Ilustrasi nelayan yang bekerja di laut menggunakan perahu dan perlengkapan untuk menangkap ikan di perairan.
    Ilustrasi nelayan. (IDN Times/Muhaimin)

    Wahyu menyampaikan bahwa nilai tukar nelayan dan pembudidaya ikan (NTNP) pada Agustus 2026 justru mengalami penurunan 0,10 persen. Hal itu karena indeks harga yang diterima pelaku usaha perikanan hanya naik 0,13 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar naik lebih tinggi, senilai 0,23 persen.

    "Sementara untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) secara khusus, BPS mencatat penurunan sebesar 0,33 persen," jelasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More