Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kebun Raya Sriwijaya Terbakar, Api di Lapisan Gambut Capai 1 Meter
Tim Manggala Agni Daops Banyuasin saat berjibaku melakukan pemadaman di Kebun Raya Sriwijaya (Dok. Manggala Agni)
  • Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi dapat menjalar ke lapisan gambut di bawah tanah

  • Tim harus memastikan bara dan titik api di dalam lapisan gambut benar-benar padam agar kebakaran tidak kembali menyala

  • Untuk sementara ini, total luas lahan di Kebun Raya yang terbakar mencapai 20 hektar

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ogan Ilir, IDN Times - Kawasan Kebun Raya di Desa Bakung, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel ini terbakar pada Jumat (4/9/2026). Wilayah yang merupakan ekosistem berbagai jenis gambut tersebut membuat api sulit dituntaskan dan asap berpotensi terus mengepul meski kobaran api di permukaan mulai mereda.

Kondisi ini menjadi salah satu kendala bagi tim pemadam, mengingat kedalaman gambut yang terbakar di kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar satu meter. Kementerian Kehutanan bahkan mengerahkan dua regu Manggala Agni untuk menangani kebakaran tersebut.

Satu regu berasal dari Daops Banyuasin, Sumsel, sementara satu regu lainnya didatangkan dari Sarolangun, Jambi.

1. Tanah bersifat gambut sehingga susah dipadamkan

Tim Manggala Agni Daops Banyuasin saat berjibaku melakukan pemadaman di Kebun Raya Sriwijaya (Dok. Manggala Agni)

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengatakan karakteristik lahan gambut menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Sebab api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat menjalar ke lapisan gambut di bawah tanah.

"Kondisi itu membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan kebakaran di lahan mineral. Tanahnya bersifat gambut sehingga susah dipadamkan. Bahkan ke dalam gambut di wilayah tersebut sekitar satu meter, jadi susah menghilangkan asap,” ujarnya.

2. Proses pemadaman diperkirakan tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat

Tim Manggala Agni Daops Banyuasin saat berjibaku melakukan pemadaman di Kebun Raya Sriwijaya (Dok. Manggala Agni)

Ferdian menambahkan, karakter gambut yang mudah terbakar membuat kebakaran berisiko meluas apabila tidak segera dikendalikan. Api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul di titik lain. Selain memperluas area terdampak, kebakaran gambut juga menghasilkan asap dalam jumlah besar.

Karena itu, proses pemadaman tidak cukup hanya dengan mengatasi api yang terlihat dari permukaan.

"Tim harus memastikan bara dan titik api di dalam lapisan gambut benar-benar padam agar kebakaran tidak kembali menyala. Dengan luas area yang terbakar dan kondisi gambut yang cukup dalam, proses pemadaman diperkirakan tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Perhitungannya bisa beberapa hari selesainya kalau seluas itu,” jelasnya.

3. Total luas lahan di Kebun Raya yang terbakar sementara mencapai 30 hektar

Tim Manggala Agni Daops Banyuasin saat berjibaku melakukan pemadaman di Kebun Raya Sriwijaya (Dok. Manggala Agni)

Untuk sementara ini, total luas lahan di Kebun Raya yang terbakar mencapai 30 hektar. Tim Manggala ini masih berjibaku melakukan pemadaman dengan terus menyemprotkan air bertekanan tinggi di bawah permukaan.

"Kalau sumber air masih cukup. Kesulitan saat ini dikarenakan kebakaran terjadi di wilayah gambut, bahan bakaran jadi melimpah dan asapnya tebal," ucapnya.

Diketahui, Kebun Raya Sriwijaya merupakan kebun raya lahan basah gambut pertama di Asia Tenggara yang terletak di Desa Bakung, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel. Kebun dengan luasan 100 hektare ini diresmikan oleh Gubernur Sumsel, Alex Noerdin, pada 27 Juli 2018.

Kebun Raya ini berfungsi sebagai pusat penelitian, rehabilitasi, dan penyelamatan keanekaragaman hayati flora khas ekosistem lahan basah serta hutan gambut dan daerah aliran sungai.

Curated For You

Editorial Team

Related Article