Sumsel Kejar Swasembada Daging, Lepas Ketergantungan Pasokan Luar Daerah

- Sumsel masih mendatangkan sapi dari Lampung untuk penggemukan dan menargetkan pengurangan ketergantungan melalui pembiakan, termasuk kawin alami, inseminasi buatan, serta transfer embrio.
- OKI, OKU Timur, Banyuasin, Lubuklinggau, dan Muara Enim diproyeksikan sebagai sentra ternak baru untuk menambah populasi, memenuhi kebutuhan daging daerah, dan mendukung pasokan wilayah lain.
- Banyuasin mengembangkan kerbau rawa di Pampangan dan Rambutan sebagai sumber daging serta susu; produktivitas susu yang kini sekitar satu liter per ekor per hari ditargetkan meningkat bertahap.
Palembang, IDN Times - Sumatra Selatan (Sumsel) menjadi wilayah yang setiap tahunnya mendatangkan sapi dari luar daerah untuk digemukan. Langkah ini dinilai perlu diubah untuk menuju swasembada daging nasional sehingga tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar daerah.
"Kalau dalam arti penggemukan, kita ingin ternak kita berasal dari kita, bukan impor. Bisakah kita menghasilkan itu dengan populasi? Kita belum bisa saat ini. Semuanya masih harus didatangkan," ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel, Ruzuan Efendi, Rabu (19/8/2026).
1. Sumsel ingin kurangi ketergantungan pasokan daging sapi dari luar

Kadis Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumsel, Ruzuan Efendi (IDN Times/Rangga Erfizal) Menurut Ruzuan, Sumsel masih bergantung pada pasokan sapi dari Lampung. Kondisi ini membuat pemerintah dan peternak perlu mulai beralih dari pola penggemukan ke pembiakan agar bisa menghasilkan bibit ternak sendiri.
Pembiakan atau breeding pun dinilai sebagai bagian penting dalam upaya tersebut. Metodenya dapat dilakukan melalui perkawinan alami, inseminasi buatan, hingga teknologi transfer embrio.
"Apa yang disampaikan Pak Prabowo itu untuk lima tahun ke depan, dengan penambahan populasi dalam arti breeding, bukan penggemukan," jelasnya.
2. Sejumlah daerah Sumsel berpotensi jadi sentra ternak

Kandang hewan kurban jelang hari raya Idul Adha di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal) Ruzuan mengatakan Sumsel memiliki sejumlah wilayah yang berpotensi dikembangkan untuk meningkatkan populasi ternak. Beberapa di antaranya yakni Ogan Komering Ilir (OKI), OKU Timur, Banyuasin, Lubuklinggau dan Muara Enim.
Pengembangan kawasan tersebut diharapkan dapat membentuk sumber populasi ternak baru. Dengan begitu, Sumsel tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan daging masyarakat di dalam daerah, tetapi juga berpeluang mendukung pasokan untuk wilayah lain.
"Indonesia bisa, Sumsel bisa. Karena Sumsel salah satu provinsi yang bisa mendukung program swasembada daging," ujarnya.
3. Kerbau Rawa Banyuasin Juga Jadi Potensi

Kandang hewan kurban jelang hari raya Idul Adha di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal) Selain sapi, pemerintah daerah melihat peluang dari pengembangan kerbau rawa. Banyuasin menjadi salah satu kawasan yang memiliki ekosistem kerbau rawa, terutama di wilayah Pampangan dan Rambutan.
Ruzuan menyebut populasi kerbau rawa di kawasan tersebut masih terus berkembang. Potensi itu tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan daging, tetapi juga mulai dikembangkan sebagai sumber produksi susu.
"Kita ada ekosistem kerbau rawa di Banyuasin yang berkembang, apalagi di Pampangan dan Rambutan. Secara populasi terus bertambah," katanya.
Saat ini, produksi susu kerbau disebut masih berada di kisaran satu liter per ekor setiap hari. DKPP Sumsel ingin meningkatkan produktivitas tersebut secara bertahap melalui pengembangan bibit dan pola pemeliharaan.
"Kita berharap bisa lima liter sampai 15 liter. Produksi susu kerbau ini akan kita kembangkan secara perlahan," jelas dia.

















