Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jelang Lebaran DPP Gapasdap Catat 2 Masalah di Pelabuhan Tanjung Api-Api

Jelang Lebaran DPP Gapasdap Catat 2 Masalah di Pelabuhan Tanjung Api-Api
Pelabuhan Tanjung Api-api (TAA) Banyuasin (IDN Times/Rangga Erfizal)
Intinya Sih
  • DPP Gapasdap menyoroti dua masalah utama di Pelabuhan Tanjung Api-Api menjelang Lebaran, yaitu pendangkalan alur pelayaran dan keterbatasan jumlah dermaga aktif.
  • Kedalaman alur hanya sekitar 2,8 meter membuat kapal harus menunggu air pasang untuk beroperasi, sehingga berpotensi menyebabkan keterlambatan dan antrean penumpang.
  • Gapasdap mendesak pemerintah segera melakukan pengerukan serta menambah dermaga agar kapal besar bisa bersandar optimal dan arus mudik berjalan lancar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Palembang, IDN Times - Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) menyoroti dua persoalan krusial menjelang arus mudik Lebaran di Pelabuhan Tanjung Api-Api (TAA), Sumsel Pendangkalan alur pelayaran serta keterbatasan dermaga dinilai berpotensi menghambat kelancaran layanan angkutan penyeberangan saat puncak mobilitas penumpang.

"Sejak TAA operasional, belum pernah ada pengerukan. Akibatnya, kapal-kapal harus menunggu air pasang untuk bisa beroperasi," ungkap Ketua Bidang Tarif dan Usaha DPP Gapasdap, Rahmatika Ardianto, Selasa (3/3/2026).

1. Tunggu air pasang agar kapal dapat berlayar

Ketua Bidang Tarif dan Usaha DPP Gapasdap, Rahmatika Ardianto (Dok: GAPASDAP)
Ketua Bidang Tarif dan Usaha DPP Gapasdap, Rahmatika Ardianto (Doumentasi GAPASDAP)

Rahmatika menjelaskan, kedalaman alur dan muka air dermaga di TAA saat ini rata-rata hanya sekitar 2,8 meter. Padahal, idealnya kedalaman berada di kisaran 3,5 hingga 4 meter agar kapal dapat bersandar dalam berbagai kondisi pasang surut.

"Contohnya kemarin, air surut sejak pukul 17.00 WIB dan baru bisa operasional kembali setelah pasang sekitar pukul 23.00 WIB," jelas dia.

Menurutnya, kondisi yang ada dapat mempengaruhi operasional harian dan berpotensi menimbulkan keterlambatan kapal. Diperlukan upaya pemerintah pusat dan daerah dalam melakukan pengerukan alur pelabuhan menjadi kebutuhan mendesak agar kapal besar dapat bersandar dengan optimal.

"Kalau dikeruk, kapal besar bisa masuk ke TAA. Masyarakat akan lebih nyaman dan antrean bisa berkurang. Saat ini kapal besar cukup sulit masuk karena keterbatasan kedalaman," jelas dia.

2. Penumpukan dan kemacetan berpotensi terjadi di Pelabuhan TAA

Pelabuhan Tanjung Api-api (TAA) Banyuasin (IDN Times/Rangga Erfizal)
Pelabuhan Tanjung Api-api (TAA) Banyuasin (IDN Times/Rangga Erfizal)

Tak hanya itu, dirinya menyoroti kebutuhan dermaga baru bagi Pelabuhan TAA. Saat ini, baru ada satu pasang dermaga aktif, sementara untuk mendukung kelancaran operasional dibutuhkan dua pasang dermaga.

"Keterbatasan dermaga dan alur yang dangkal berdampak langsung pada masyarakat. Saat angkutan Lebaran, kondisi ini bisa memicu penumpukan dan kemacetan di pelabuhan," jelas dia.

3. Kapal beroperasi lebih sedikit karena keterbatasan pelabuhan

Pelabuhan Tanjung Api-api (TAA) Banyuasin menuju Tanjung Kalian Muntok, Bangka Barat (IDN Times/Rangga Erfizal)
Pelabuhan Tanjung Api-api (TAA) Banyuasin menuju Tanjung Kalian Muntok, Bangka Barat (IDN Times/Rangga Erfizal)

Saat ini tercatat sebanyak 16 izin kapal diterbitkan untuk melayani angkutan Lebaran. Namun dari jumlah tersebut, hanya 14 kapal yang bisa berpartisipasi karena dua kapal lainnya belum memperoleh jadwal operasional.

Dalam praktiknya, jumlah kapal yang benar-benar beroperasi bahkan lebih sedikit. Keterbatasan fasilitas dermaga membuat hanya 10 kapal yang dapat melayani penyeberangan. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada kapasitas angkut dan berpotensi menimbulkan antrean saat puncak arus mudik.

"Jika dermaga bisa dimaksimalkan, kapasitas angkutan tentu lebih optimal. Tapi karena hanya satu pasang dermaga yang bisa digunakan, banyak kapal yang tidak dapat beroperasi penuh," jelas dia.

DPP Gapasdap berharap pemerintah segera melakukan langkah konkret, baik melalui pengerukan alur maupun penambahan dan optimalisasi dermaga. Perbaikan infrastruktur dinilai krusial untuk menjamin kelancaran mobilitas masyarakat antara Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.

"Kalau dermaga dan alur pelabuhan diperbaiki, kami yakin kemacetan dan keterlambatan bisa ditekan. Kapal lebih besar bisa beroperasi, membawa lebih banyak penumpang, dan perjalanan masyarakat akan lebih lancar," jelasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More