Cuaca di Palembang Terasa Lebih Panas, Ini Penyebabnya Menurut BMKG

- BMKG SMB II Palembang mencatat suhu maksimum siang hari meningkat hingga 34 derajat celsius akibat berkurangnya tutupan awan dan intensitas sinar matahari yang lebih kuat.
- Gerak semu matahari yang kini berada hampir tepat di atas Indonesia membuat Februari menjadi periode puncak panas tahunan bagi wilayah Palembang dan sekitarnya.
- Meskipun masih dalam musim hujan, pembentukan awan menurun sehingga hujan bersifat lokal, sementara kelembapan tinggi membuat udara terasa lebih panas dan menyengat.
Palembang, IDN Times - Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II mencatat kenaikan suhu maksimum di siang hari. Tercatat, dalam beberapa waktu terakhir kondisi suhu udara mencapai 33,1 hingga 34 derajat Celsius akibat tidak adanya awan hujan di wilayah Sumsel.
"Ketika tutupan awan berkurang, pancaran sinar matahari ke permukaan bumi menjadi lebih besar. Ini yang menyebabkan suhu maksimum meningkat pada siang hari," ungkap Ketua Tim Data dan Informasi BMKG SMB II Palembang, Veronica Sinta Andayani, Senin (2/3/2026).
1. Suhu udara dapat menyentuh 34 derajat

Sinta mencatat potensi cuaca di Sumatra Selatan dalam beberapa waktu terakhir cenderung menurun. Meski demikian, wilayah Sumsel masih berpeluang diguyur hujan. Namun, hujan yang turun diperkirakan tidak merata dan cenderung bersifat lokal di sejumlah daerah.
"Suhu udara pada siang hari secara maksimum dapat menyentuh 34 derajat Celsius," jelas dia.
2. Matahari terasa di atas kepala

Koordinator Pokja Analisis, Diseminasi, Informasi dan Edukasi BMKG Sumsel, Nandang Pangaribowo, menambahkan bahwa saat ini gerak semu Matahari berada persis di atas Indonesia. Khusus saat ini, gerak semu matahari bergerak dari Lintang Selatan menuju Ekuator sehingga cuaca terasa mencapai puncak suhu maksimum.
"Februari adalah salah satu puncak panas tahunan bagi kota Palembang, karena matahari sedang berada hampir tepat di atas kepala," jelas dia.
3. Faktor geografis pengaruhi kelembapan udara di Sumsel

Nandang menjelaskan, saat ini Sumsel masih berada pada kondisi musim hujan. Hanya saja, pembentukan awan hujan di sebagian wilayah mengalami penurunan.
"Sehingga panas matahari langsung memancar ke permukaan bumi tanpa penghalang, membuat suhu terasa jauh lebih panas pada siang hari," jelas dia.
Kelembapan udara tinggi dikarenakan faktor geografis wilayah yang dikelilingi sungai dan lahan gambut. Kondisi ini menyebabkan uap air di udara sangat tinggi.
"Kelembapan yang tinggi membuat panas terasa lebih menyengat dan menyesakkan meskipun suhu yang diukur tidak selalu mencapai angka ekstrem," jelas dia.


















