Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ikan Seluang Mudik di Musi Banyuasin, Warga Panen saat Sungai Surut
Warga Lumpatan Muba saat menangkul Ikan seluang. (Facebook: Riza Asneta)

  • Warga Musi Banyuasin ramai menangkap ikan seluang saat musim kemarau karena air sungai surut, menjadikannya sumber penghasilan tambahan dengan harga jual terjangkau.
  • Ikan seluang diolah menjadi berbagai hidangan khas seperti pepes, pempek, dan pundang seluang yang menjadi oleh-oleh favorit dengan harga mencapai Rp250 ribu per kilogram.
  • Pemerintah daerah melalui Dinas Perikanan Muba melatih masyarakat mengolah hasil tangkapan ikan agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Musi Banyuasin, IDN Times - ‎Dengan bermodalkan jala, jaring, corong, hingga tangkul, warga di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) berbondong-bondong turun ke sungai untuk menangkap ikan seluang yang saat ini sedang melimpah di perairan Sungai Musi maupun sungai besar lainnya.

Setiap memasuki musim kemarau, air sungai mulai surut membuat ikan yang berukuran 2 hingga 4 inci ini berkumpul dan sangat mudah ditangkap. Warga setempat mengenalnya dengan fenomena 'Seluang Mudik'. Ikan kecil yang dikenal memiliki cita rasa gurih ini menjadi salah satu santapan favorit masyarakat Sumatra Selatan, khususnya Muba.

Berlimpahnya ikan seluang ini menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga setelah banjir surut. Musim seluang mudik ini adalah masa-masa yang ditunggu warga Sekayu dan sekitarnya karena hal ini hanya terjadi satu tahun sekali. Tak heran jika harganya dibanderol sangat murah dibandingkan bulan-bulan lainnya.

1. Ikan seluang ditangkap tunggu momen air sungai surut

Penampakan ikan seluang di sungai. (Facebook: Riza Asneta)

Fajri, salah satu warga Balai Agung Sekayu mengatakan, saat air tinggi apalagi musim banjir maka persediaan ikan seluang sudah berlimpah di sungai. Hanya saja, saat Ayo Nalam (air pasang) menangkap ikan ini cukup sulit sehingga warga menunggu debit air sedikit surut.

"Maka itu sekarang sudah masuk kemarau dan sungai sudah surut. Dari sanalah istilah seluang mudik ini muncul karena ikan akan memiliki kebiasaan berpindah tempat menuju hulu Sungai Musi," ujarnya.

Menurutnya, sejak menangkul ikan seluang, dirinya mendapat keuntungan dan bisa menambah uang belanja sehari-hari.

"Seluang putih harganya Rp30 (ribu) per kilo. Biasanya yang kecil sering digiling dan dibuat pempek. Lalu untuk seluang yang agak gelap Rp25 ribu per kilo," jelasnya.

Meski hasil tangkapan melimpah, tidak semua jenis ikan memberikan keuntungan yang sama bagi nelayan. Ikan seluang yang menjadi komoditas paling diminati pembeli sering bercampur dengan ikan lambak, ikan berukuran kecil yang sulit dipasarkan.

"Sekali nangkul itu bisa puluhan kilo ikan terjaring. Namun harus dipilih, karena seluang bercampur dengan lambak. Ikan lambak ini disebut oleh warga sini dengan ikan sampah, yang kurang laku dijual. Bentuknya mirip tapi ikan seluang lebih gurih dan sangat mudah dijual," ucapnya.

2. Pundang seluang merupakan oleh-oleh khas Muba

Warga Muba saat menjemur pundang. (Facebook: Riza Asneta)

Olahan ikan seluang pun sering menjadi lauk favorit bagi warga. Bisa langsung digoreng, dibuat pepes, bahkan dibuat pempek. Rasanya manis gurih dengan tulang lunak membuat seluang menu wajib di setiap rumah makan. Namun jika sedang musim seperti sekarang, masyarakat suka mengawetkan menjadi ikan asin atau yang disebut pundang seluang.

"Kalau orang luar menyebutnya ikan asin, namun di tempat kami pundang. Rasanya enak dan khas. Kalau musim seluang mudik, pasti ramai atap atau pekarangan rumah warga yang menjemur pundang," ungkap Septian.

Pundang seluang merupakan salah satu oleh-oleh khas Muba yang sangat diminati oleh masyarakat. Proses pembuatannya yang rumit dan panjang menjadikan pundang seluang terus diburu meskipun harganya lumayan tinggi. Untuk menghasilkan pundang yang berkualitas, ikan seluang harus dibelah menyerupai kipas dan dikeringkan selama 9 jam lebih setelah sebelumnya diberi garam.

Tidak sulit untuk menemukan Pundang Seluang di Muba. Terdapat banyak warung dan toko oleh-oleh di Sekayu yang menjual produk ini dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp125 ribu hingga Rp250 ribu per kilogram.

3. Masyarakat dilatih untuk mengolah ikan menjadi produk bernilai ekonomis

(Ikan seluang) IDN Times/Yuliani

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Muba, Sunaryo, mengatakan karakteristik seluang mudik yang bersifat musiman dan tidak terjadi sepanjang tahun menjadi tantangan dalam pengembangan usaha berbasis hasil tangkapan tersebut. Meski demikian, pihaknya optimistis sektor perikanan dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar apabila dikelola secara baik dan berkelanjutan.

"Kami terus mendorong peningkatan nilai tambah hasil perikanan melalui berbagai pelatihan pengolahan produk. Sejumlah kelompok masyarakat telah mendapatkan pelatihan pembuatan produk olahan seperti rusip, pempek, kemplang, pundang, dan berbagai produk berbahan dasar ikan lainnya. Namun ini membutuhkan proses, tidak bisa seperti seluang yang langsung laku di pasar," ujarnya.

Editorial Team

Related Article