Hotspot Sumsel Masih Tinggi, Terpantau 1.111 Titik dalam 24 Jam

Hotspot Sumsel kembali naik menjadi 1.111 titik dalam 24 jam hingga 19 Oktober 2026; akumulasi 108.191 titik sejak Januari–17 Oktober menjadi tertinggi sejak 2015.
OKI mencatat hotspot terbanyak dengan 386 titik, disusul Banyuasin 257 dan Muba 161; aktivitas kebakaran serta dampak asap meningkat di sejumlah wilayah.
Palembang dan PALI berstatus udara sangat tidak sehat dengan ISPU 296 PM2,5; satgas mengoptimalkan pemadaman dan menguji dry ice melalui empat sortie penerbangan.
Palembang, IDN Times - Sempat turun ke angka 794 titik pada Minggu (18/10/2026), jumlah titik panas atau hotspot di Sumatra Selatan kembali bergerak naik dan memicu kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumsel melaporkan jumlah hotspot kembali ke angka 1.111 titik berdasarkan data Sipongi pada Senin (19/10/2026) atau dalam 24 jam terakhir.
Hingga 19 Oktober, angka tersebut nyaris menyusul perolehan September sekaligus tertinggi sepanjang 2026. Bahkan, secara akumulatif, jumlah hotspot sepanjang 1 Januari–17 Oktober 2026 menjadi yang tertinggi sejak 2015 dengan mencatat angka 108.191 titik.
1. Kabupaten OKI masih menyumbang hotspot terbanyak

Tim Manggala Agni saat melakukan pemadaman di tengah lahan terbakar di SM Padang Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan. (Dok. Manggala Agni) Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan kondisi karhutla di Sumsel masih menjadi perhatian bersama. Berdasarkan pemantauan terbaru, terdeteksi 1.111 titik hotspot dalam 24 jam terakhir, dengan beberapa wilayah mengalami peningkatan aktivitas kebakaran dan dampak asap.
"Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) masih menjadi daerah dengan hotspot terbanyak, yakni 386 titik, disusul Banyuasin 257 titik, Muba 161 titik, Muara Enim 61 titik, OKU Timur 51 titik, Muratara 46 titik, dan Mura 32 titik," ujarnya.
2. Kualitas udara Palembang dan PALI masuk kategori sangat tidak sehat

Indeks kualitas udara (AQI+) di Sumsel. (Dok. DLHP Sumsel) Pihaknya juga menyoroti kualitas udara yang diakibatkan oleh kabut asap di sejumlah wilayah. Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Sumsel pada Senin (19/10/2026) melaporkan Kota Palembang kini berada di zona merah atau kategori sangat tidak sehat untuk Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dengan angka 296 PM2,5. Disusul Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dengan ISPU 296 PM2,5.
Selanjutnya, untuk wilayah di zona kuning atau kategori tidak sehat, yakni Muba dengan ISPU 136, Prabumulih dengan ISPU 152, Ogan Ilir dengan ISPU 115, Musi Rawas dengan ISPU 175, dan Lahat dengan ISPU 103. Sementara berdasarkan Aviation KH, jarak pandang di Bandara SMB II Palembang pada Senin (19/10/2026) pukul 06.00 WIB berkisar 700 meter.
3. Tim satgas udara melakukan uji coba teknologi dry ice

Tim satgas udara saat melakukan uji coba teknologi dry ice di atas wilayah Palembang. (Dok. BPBD Sumsel) Sudirman menambahkan, Operasi Pemadaman Udara pada 18 Oktober mencatat total 7 sortie dengan estimasi luas lahan yang berhasil dipadamkan melalui water bombing sekitar 27 hektare. Pemadaman darat dan udara terus dioptimalkan oleh satgas gabungan untuk mengendalikan titik api dan mencegah meluasnya kebakaran.
"Uji coba teknologi dry ice juga dilaksanakan dan memasuki hari keempat, sebagai salah satu upaya mendukung pengurangan polusi udara di wilayah Sumsel. Kita menggunakan 4 sortie penerbangan dengan wilayah sasaran di atas Palembang, Banyuasin, dan perbatasan Palembang seperti OKI dan Banyuasin," ucapnya.



















