Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Negara Merugi hingga Rp123 Triliun Akibat Karhutla, Sumsel Sangat Terdampak

Kota Palembang
3 min read
Negara Merugi hingga Rp123 Triliun Akibat Karhutla, Sumsel Sangat Terdampak
ilustrasi karhutla di Indonesia (pexels.com/Vladyslav Dukhin)
  • Karhutla periode Januari–Agustus 2026 diproyeksikan menimbulkan kerugian ekonomi dan kesehatan Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun, dengan Sumsel termasuk wilayah penyumbang terbesar.

  • Kabut asap mengganggu aktivitas ekonomi Sumsel pada kuartal III 2026, membatalkan lebih dari 150 jadwal penerbangan serta menekan transportasi dan kunjungan pariwisata.

  • Dampak karhutla mencakup peningkatan ISPA, gangguan pendidikan anak, dan kerugian sosial; peringatan dini BMKG tentang kemarau ekstrem dinilai perlu menjadi acuan mitigasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebabkan sejumlah sektor mengalami kerugian. Khususnya, kesehatan, lingkungan, dan sosial. Bahkan, finansial masyarakat Sumatra Selatan juga turut menerima imbas dalam kondisi finansial. Apalagi, Sumsel jadi salah satu wilayah penyumbang karhutla terbesar.

'Dari proyeksi CELIOS (Center of Law and Economic Studies), total kerugian ekonomi dan kesehatan akibat karhutla periode Januari–Agustus 2026 diperkirakan mencapai Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun," ujar pengamat ekonomi dari Universitas Sriwijaya Sukanto, dikutip Jumat (16/10/2026).

  1. 1. Rata-rata kerugian per sektor di angka Rp40-60 triliun

    Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang
    Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Menurut beberapa studi, total kerugian rata-rata wilayah yang terdampak karhutla berada di kisaran Rp40 triliun hingga ratusan triliun. Berdasarkan rincian simulasi menengah, potensi kerugian berada pada rentang Rp40-60 triliun akibat kehilangan aset fisik, gangguan aktivitas ekonomi dan biaya penanganan.

    Lebih lanjut, Sukanto menyampaikan, pada skala yang lebih besar, biaya kerugian juga diperkirakan lebih besar.

    "Efeknya, karhutla membuat banyak sektor terdampak langsung dan tidak langsung, sehingga menimbulkan kerugian langsung dan tidak langsung," kata dia.

  2. 2. Sektor maskapai ikut kena efek karhutla

    Suasana ruang tunggu Bandara SMB II Palembang dengan area tempat duduk bagi penumpang yang menanti penerbangan.
    Ruang tunggu Bandara SMB II Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

    Sukanto menambahkan, dampak karhutla berpotensi menekan aktivitas pertemuan ekonomi di wilayah Sumsel pada kuartal III tahun 2026, mengingat fenomena ini telah berlangsung selama beberapa bulan dan bertepatan dengan periode kuartal ketiga.

    Dia menambahkan, dampak langsung karhutla berupa gangguan kabut asap beruntun dan telah mengganggu lebih dari 150 jadwal penerbangan hingga menyebabkan kerugian signifikan bagi maskapai.

    "Kerugian ini juga dirasakan penumpang. Kondisi seperti ini harus diantisipasi agar tidak terulang pada tahun-tahun mendatang," jelas dia.

  3. 3. Karhutla dianggap kondisi biasa dan dinormalisasi tanpa mitigasi

    Asap pekat menyelimuti area kebakaran hutan dan lahan di Palembang, Sumatera Selatan, saat penanganan.
    Karhutla di Palembang (Dok. Kominfo Palembang)

    Dari sisi domino, efek karhutla, kata Sukanto, berimbas pada sektor kesehatan yang terganggu. Peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah persoalan utama. Kemudian, dari segi kesehatan dan pendidikan, perkembangan anak-anak juga terganggu.

    "Termasuk sektor sosial mengalami kerugian ekonomi baik di sektor transportasi udara, darat, juga sungai terdampak," katanya.

    Sukanto menyampaikan, di sektor pariwisata angka kunjungan wisatawan ke Sumsel juga menunjukkan kurva ke bawah. Akibat berbagai kerugian itu, pemerintah seharusnya bisa mencegah karhutla agar tidak terjadi. Namun, secara struktural, karhutla dianggap sebagai kondisi biasa dan dinormalisasi.

    "Pencegahan harusnya bisa, karena sebelumnya BMKG sudah mengeluarkan peringatan dini cuaca potensi kemarau yang lebih panjang dan lebih kering," ujar Sukanto.

    Sebelumnya, BMKG telah memprediksi kemarau pada 2026 bukan kemarau reguler, melainkan diperparah oleh fenomena El Niño dengan intensitas ekstrem atau dijuluki El Niño Godzilla. Kondisi itu berdampak pada kekeringan berlebih dan meningkatkan potensi karhutla.

    "Seharusnya, peringatan dini itu dapat dijadikan acuan utama dalam mitigasi bencana serta perumusan langkah antisipatif sebelum karhutla terjadi," jelasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More