Menakar Dampak Asap Karhutla terhadap Bisnis Perhotelan Palembang

Kabut asap akibat karhutla menekan bisnis Batiqa Hotel Palembang; tren pra-reservasi harian turun dari 40–45 persen menjadi 20–25 persen sejak akhir September hingga Oktober 2026.
Batiqa Hotel merespons penurunan kunjungan dengan promo Sunday dan Monday Deals, menawarkan sarapan serta signature drink kopi sebagai benefit tambahan bagi tamu.
BPS mencatat perjalanan wisatawan nusantara ke Sumsel Januari–Agustus 2026 turun 1,11 persen secara tahunan; hotel Palembang terdampak signifikan karena aktivitas bisnis dan konektivitas udara terganggu.
Palembang, IDN Times - Tak ramai, tidak pula sepi. Siang itu, Lobi Batiqa Hotel Palembang terlihat tenang. Silih berganti tamu bergilir dan mengantre menuju meja resepsionis. Seorang staf pun tak lelah tersenyum menyapa tiap orang yang datang.
"Ada yang bisa dibantu," katanya saat reporter IDN Times di depan meja frontliner.
1. Beberapa tamu masih beraktivitas di hotel meski kabut asap

Situasi di salah satu hotel Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Kebetulan, di pekan kedua Oktober 2026, IDN Times sengaja melihat suasana hotel. Tujuannya, ingin melihat bagaimana aktivitas perhotelan Palembang saat kabut asap melanda akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Tunggu sebentar ya, saya informasikan terlebih dahulu," sambungnya ketika reporter IDN Times meminta untuk bertemu dan mewawancarai pejabat Batiqa Hotel Palembang.
Waktu berselang, sekitar 10 menit IDN Times diarahkan berkomunikasi lebih lanjut bersama Front Office Manager, Nando Febri Hariyanto.
Sembari menunggu, langkah kaki masuk ke lift di lantai lobi menuju lantai atas restoran hotel. Setibanya di sana, beberapa buffet berwana keemasan tersusun rapi menghidangkan pilihan kuliner.
Sejumlah tamu tampak duduk di sisi dekat buffet. Kira-kira 4-6 orang duduk di meja terpisah. Ada yang menikmati makanan, ada pula yang hanya nongkrong mengobrol.
Di bagian balkon outdoor restoran juga terlihat beberapa pria paruh baya berdiskusi sambil menyeruput kopi.
Beberapa waktu kemudian, samar-samar terdengar dari arah pintu lift langkah sepatu melangkah ke luar mendekati kursi, posisi duduk reporter IDN Times.
"Bagaimana, ada yang bisa dibantu?," sapa pria berpostur proporsional merapat duduk berhadapan.
Dia adalah Front Office Manager, Nando Febri Hariyanto.
3. Hotel siapkan strategi promo dan benefit tarik kunjungan tamu

Situasi di salah satu hotel Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Nando sudah dari tahun 2000 bergelut di sektor perhotelan. Katanya, banyak lika-liku sepanjang ia berkarir. Termasuk mengalami tantangan industri, seperti saat kondisi karhutla hingga menyebabkan kabut asap.
"Ini (kabut asap) terparah selama saya (kerja) di hotel. Ada dampaknya (karhutla terhadap sektor perhotelan) termasuk okupansi (tingkat keterisian)," katanya membuka obrolan.
Dia bercerita, dampak asap dan karhutla memengaruhi tren pra-reservasi. Khususnya di pemesanan someday pick up (istilah pemesanan tamu di waktu tertentu).
"Sangat berdampak, sangat berdampak dari tren pra-reservasi tentunya. Kita ada namanya trennya di someday pick up. Biasanya kita bisa mengoptimalkan di 40-45 persen di hari yang sama. Namun, dikarenakan kabut asap, khususnya dari akhir September hingga di bulan Oktober ini, kita hanya bisa mendapatkan dari sisi trennya 20-25 persen, sangat berdampak di bisnis perhotelan, terutama di Batiqa Hotel Palembang," jelasnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan, strategi hotel untuk meningkatkan kunjungan tamu dengan cara menawarkan berbagai promo menarik.
"Strategi dari sisi kita sendiri, bagaimana untuk meningkatkan kunjungan dan juga pendapatan. Strategi sudah kita rancang, dalah satunya promotion yang kita lakukan yang kita jalankan di sosial media saat ini adalah promo di Sunday dan Monday Deals," kata Nando.
Dia menyampaikan, tamu hotel tak saja mendapatkan fasilitas room only. Tetapi juga menerima benefit lain seperti layanan breakfast dengan tambahan signature drink kopi khas Batiqa.
"Kita memberlakukan promosi tersebut. Harapannya yang kita alami sebagai masyarakat Palembang, kasus karhutla semoga bisa teratasi dengan baik sehingga perekonomian bisa optimal lagi di sisi bisnis dan kita bisa back to normal sama-sama menghirup udara segar," katanya.
3. Kabut asap juga memengaruhi angka kunjungan wisatawan nusantara

Situasi di salah satu hotel Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan mencatat, jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Sumsel mengalami penurunan.
Pada periode Januari hingga Agustus 2026, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tujuan Sumsel, termasuk Kota Palembang mencapai 17,46 juta perjalanan. Angka tersebut turun 1,11 persen dibandingkan periode sama tahun lalu atau secara year on year (yoy).
Kondisi kunjungan wisnus ke Sumsel yang mengalami penurunan disebabkan berbagai faktor. Kemungkinan paling besar adanya angka yang melandai dipengaruhi kondisi ekonomi yang perlahan melesu sepanjang tahun 2026.
Menurut Kepala BPS Sumatera Selatan, Moh. Wahyu Yulianto, dari angka yang ada, menjadi bukti konkret aktivitas perjalanan wisnus secara tidak langsung menggambarkan perkembangan ekonomi wilayah yang terbilang lesu.
4. Okupansi hotel di Palembang paling terdampak karena wilayah pusat bisnis

Situasi di salah satu hotel Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Sedangkan dari pernyataan Pengurus BPD Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumsel Leofaragusta yang dikutip IDN Times dari laman pariwisata Sumsel, sedikitnya tujuh general manager hotel melaporkan penurunan tingkat hunian.
Dampak paling terasa terjadi di Kota Palembang yang selama ini tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga pusat aktivitas bisnis.
"Sebagian yang kita dapat kabar khususnya di Kota Palembang terjadi yang cukup signifikan sekali karena centernya kota Palembang ini bukan sebagai bagian dari tempat tujuan pariwisata tapi tempat bagian bisnis,” ujar Leofaragusta.
Dia mengatakan, tekanan pada hotel tidak berdiri sendiri. Sebab orang dari luar Sumsel yang menjadi salah satu penopang aktivitas hotel ikut terganggu ketika kabut asap menghambat konektivitas udara di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang.



















