Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dari Dapur ke APAR, Inovasi Kulit Singkong KWT Embun Pagi dan Pertamina

Kab. Musi Banyuasin
5 min read
Dari Dapur ke APAR, Inovasi Kulit Singkong KWT Embun Pagi dan Pertamina
Pemanfaatan kulit singkong untuk APAR di Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi memanfaatkan limbah (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • KWT Embun Pagi di Simpang Bayat mengolah kulit singkong, yang sebelumnya dibuang atau jadi pakan hewan, menjadi bubuk untuk bahan pengembangan APAR rumah tangga.

  • PHE Jambi Merang dan Universitas Jambi mengembangkan inovasi ini sejak 2025; prototipe bola APAR efektif memadamkan api kecil, lalu disempurnakan menjadi tabung isi ulang.

  • APAR kulit singkong masih melalui uji laboratorium, evaluasi efektivitas, dan sertifikasi keamanan; belum siap edar atau diproduksi massal, dengan fokus mitigasi kebakaran kecil di rumah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kulit singkong itu awalnya hanya onggokan limbah dari pengolahan di Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Sumatera Selatan. Setelah umbinya dikupas, bagian yang kasar dan kecokelatan tersebut biasanya dibuang atau dimanfaatkan sebagai pakan hewan.

Namun, kulit yang mulanya dianggap tak berguna tersebut kini menempuh perjalanan berbeda. Di tangan Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi, limbah singkong dikeringkan, digiling menjadi bubuk, lalu diuji untuk menjadi salah satu bahan alat pemadam api ringan (APAR) skala rumah tangga. Dari limbah, kulit singkong terlebih dahulu dikumpulkan dan dicuci. Setelah itu, kulit dikeringkan di dalam oven selama beberapa jam sebelum digiling hingga berubah menjadi bubuk.

Bubuk inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam percobaan pembuatan APAR. Kandungan potasium sitrat pada bubuk kulit singkong dicampurkan dengan dry chemical powder. Bukan menjadi makanan, melainkan menjadi bahan utama untuk pengembangan APAR untuk skala rumah tangga.

Inovasi tersebut kini dikembangkan oleh Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang bersama Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jambi (Unja). Gagasannya bermula pada 2025 ketika mereka mencari cara agar pengolahan singkong tidak hanya menghasilkan produk pangan, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan.

"Fokus kami di Jambi Merang ini, selain ekonomi masyarakat, juga ke lingkungan. Ternyata selama ini kulit singkong belum dikelola dengan baik, cuma dibuang atau jadi pakan hewan," kata CDO Pertamina Jambi Merang, Cut Mutia.

Dari persoalan limbah tersebut, muncul gagasan untuk mencoba memanfaatkan kulit singkong dalam pengembangan bahan pemadam api.

  1. Bermula dari Bola APAR

    Percobaan pertama, Pertamina Jambi Merang bersama Unja terlebih dahulu membuat bola APAR berbahan kulit singkong, belum menghasilkan APAR berbentuk tabung seperti yang dikenal masyarakat Simpang Bayat saat ini. Produk tersebut kemudian dicoba untuk memadamkan api berskala kecil di rumah.

    Hasil uji coba menunjukkan bola tersebut dapat digunakan untuk memadamkan api kecil. Namun, percobaan itu juga menemukan persoalan lain. Saat digunakan, bola APAR menimbulkan suara cukup keras. Sejumlah ibu-ibu yang mencobanya bahkan sempat terkejut karena bunyinya terdengar seperti ledakan.

    Bagi tim pengembang, pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi. Produk kemudian dikembangkan agar lebih mudah digunakan oleh masyarakat. Bentuk bola ditingkatkan menjadi tabung yang dapat diisi ulang (refill).

    "Ternyata efektif untuk kebakaran kecil di rumah. Kendalanya, ibu-ibu ini kaget karena awalnya ada bunyi seperti meledak, jadi kurang ramah untuk mereka. Akhirnya, kami kembangkan lagi produknya supaya lebih ramah dan mudah digunakan," jelasnya.

    Produksinya memang belum sempurna. Inovasi terus dilakukan oleh PHE Jambi Merang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Bersama Unja, inovasi ini diharapkan menjadi kemajuan bagi masyarakat di lingkungan PHE Jambi Merang agar berdampak lebih luas.

    Tahun ini, pengembangan kembali dilakukan bersama Unja. Produk tersebut masih berada dalam tahap trial and error untuk melihat efektivitasnya lebih lanjut sekaligus menjalani pengujian laboratorium. Karena masih dalam tahap pengembangan, APAR berbahan kulit singkong tersebut belum menjadi produk siap edar.

    "Untuk saat ini sudah bisa dilakukan, belum ada sertifikasi aman untuk disebarluaskan. Ada beberapa kandungannya yang masih perlu diuji. Belum diproduksi secara massal," kata Cut Mutia.

    Pemanfaatan kulit singkong untuk APAR di Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi memanfaatkan limbah
    Pemanfaatan kulit singkong untuk APAR di Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi memanfaatkan limbah (IDN Times/Rangga Erfizal)
  2. Dari Singkong, Tak Ada yang Terbuang

    Bagi KWT Embun Pagi, pengembangan APAR menjadi bagian dari upaya memanfaatkan singkong secara lebih menyeluruh. Singkong yang ditanam dan dipanen oleh masyarakat dapat diolah menjadi berbagai produk pangan. Sementara kulit yang tersisa dicoba untuk mendapatkan fungsi baru.

    Ketua KWT Embun Pagi, Rianti, mengatakan kulit singkong yang tidak digunakan dalam proses pengolahan kemudian dimanfaatkan sebagai bahan dalam pengembangan APAR.

    "Limbah yang tidak bisa digunakan dari pengolahan singkong diolah lagi untuk membuat APAR. Jadi semua bahan bisa digunakan untuk kebutuhan masing-masing," kata Rianti.

    Meski begitu, Rianti mengakui proses pembuatan APAR lebih panjang dibandingkan dengan mengolah singkong menjadi produk pangan. Baginya, semua produk turunan singkong memiliki nilai guna ketika diolah.

    Prosesnya dimulai setelah singkong dikupas. Kulit dikumpulkan, kemudian dicuci selama sekitar 30 menit dan dibilas menggunakan air bersih. Setelah itu, kulit dikeringkan di rak oven pada suhu sekitar 150 derajat Celsius selama tiga hingga empat jam.

    Kulit yang telah kering kemudian digiling hingga menjadi bubuk. Bubuk kulit singkong ditimbang dan dicampur dengan dry chemical powder menggunakan perbandingan 2:1. Kedua bahan tersebut kemudian diaduk hingga tercampur merata.

    Campuran dimasukkan ke dalam tabung APAR dan diisi dengan nitrogen hingga tekanan sekitar 15–20 bar. Dari proses itu, kulit yang sebelumnya hanya menjadi sisa pengolahan singkong mulai mendapatkan fungsi baru.

  3. Ketika Mitigasi Dimulai dari Rumah

    Inovasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan limbah. Di Sumatra Selatan dan Jambi, kebakaran hutan dan lahan menjadi persoalan yang membutuhkan pencegahan dan penanganan. Namun, upaya mitigasi juga dapat dimulai dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat. PHE Jambi Merang kemudian mengarahkan pengembangan APAR tersebut untuk kebutuhan rumah tangga di desa binaannya.

    Gagasannya bukan menjadikan APAR berbahan kulit singkong sebagai alat untuk menangani kebakaran hutan dan lahan, melainkan mencoba menghadirkan alternatif penanganan awal untuk kebakaran kecil di lingkungan rumah.

    "Isunya di Sumsel ini kan karhutla. Jadi kami mencoba memitigasi sehingga dari rumah-rumah di desa binaan kami dalam skala rumah tangga," ujar Cut Mutia.

    Di titik itu, dua persoalan dipertemukan. Ada kulit singkong yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan pengetahuan dan peralatan untuk menghadapi risiko kebakaran dalam skala kecil. Pengembangannya juga tidak dilakukan sendirian. Masyarakat menjadi bagian dari proses, sementara perguruan tinggi dilibatkan dalam pengembangan dan pengujian produk.

    Rumah Produksi singkong KWT Embun pagi
    Rumah Produksi singkong KWT Embun pagi (IDN Times/Rangga Erfizal)
  4. Inovasi yang terus berkembang

    APAR berbahan kulit singkong saat ini belum menjadi produk yang siap dipasarkan. Masih ada pengujian laboratorium, evaluasi efektivitas, dan sertifikasi keamanan yang harus dilalui. Produksi secara massal pun belum dilakukan.

    Namun, justru proses panjang itulah yang menjadi bagian dari perjalanan inovasi ini. Kulit singkong yang sebelumnya dibuang kini dikumpulkan dan diolah. Ia melewati proses pencucian, pengeringan, penggilingan hingga menjadi bubuk sebelum kembali masuk ke tahap pengembangan.

    Bagi masyarakat, proses tersebut membuka kemungkinan baru dalam memanfaatkan limbah yang selama ini kurang diperhitungkan.

    Harapannya, pengolahan kulit singkong tidak berhenti sebagai percobaan. Jika nantinya memenuhi persyaratan keamanan dan efektivitas, inovasi tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, baik dalam pemanfaatan limbah maupun untuk kebutuhan keselamatan masyarakat.

    Dari kulit singkong yang sebelumnya dianggap tak berguna, sebuah kemungkinan sedang diuji: mengubah sisa pengolahan desa menjadi bagian dari solusi untuk lingkungan dan keselamatan masyarakat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More