Harga Cabai di Sumsel Fluktuatif, Picu Inflasi 1,45 Persen

- Harga cabai di Sumsel fluktuatif sepekan belakang dipengaruhi cuaca dan permintaan pembelian.
- Kondisi naik turun harga cabai tergantung pada panen cabai yang dipengaruhi cuaca, distribusi terhambat, dan produksi minim.
- Harga cabai rawit merah dan rawit besar tembus Rp75-100 ribu per kilogram di Pasar Soak Batu dan Pasar Lemabang Palembang.
Palembang, IDN Times - Harga cabai di Sumatra Selatan (Sumsel) bergerak fluktuatif sepekan terakhir. Kondisi harga naik dan turun ini juga dipengaruhi banyak faktor, terutama kondisi cuaca dan permintaan pembelian yang meningkat.
"Cabai ini bergerak naik turun dan berpengaruh terhadap pergeseran harga yang berbeda jauh," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumsel, Ruzuan Effendi, Kamis (20/2/2025).
1. Prediksi harga cabai saat Ramadan turun

Menurut Ruzuan, faktor harga cabai tak tentu ini karena komoditas cabai panen tergantung cuaca. Apabila banjir daerah penyuplai, harga ikut menurun. Apabila harga cabai naik bisa disebabkan karena distribusi terhambat akibat produksi minim.
"Bisa saja saat Ramadan harga menurun, karena kondisi cuaca tak memungkinkan panen," jelasnya.
2. Cabai merah di Pasar Lemabang Palembang tembus Rp100 ribu

Sementara dari data Dinas Perdagangan (Disdag) Palembang, untuk harga sembako di Pasar Soak Batu untuk cabai rawit merah dan rawit besar tembus Rp75 ribu per kilogram.
Kemudian di Pasar Lemabang Palembang, cabai rawit merah dan rawit besar menembus harga tertinggi Rp100 ribu per kilogram.
3. Komoditas hortikultura Sumsel sumbang inflasi

Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto menambahkan, saat ini Sumsel mengalami inflasi atau kenaikan harga komoditas, terutama dari komoditi hortikultura cabai rawit dan merah.
"Komoditas pangan cenderung naik seperti cabai merah dan cabai rawit. Bahkan cabai merah menyumbang inflasi Sumsel 1,45 persen secara month to month (mtm)," jelas dia.

















