Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gambut Sumsel Kehilangan Fungsi Ekologis, Karhutla Terus Berulang
Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
  • Gambut Sumsel seluas sekitar 2,1 juta hektare kehilangan fungsi tata air akibat tekanan izin HTI dan perkebunan; 44 persen kawasannya telah dibebani izin korporasi.
  • Kerusakan gambut membuat kawasan lebih kering dan rentan karhutla bawah tanah. Walhi mencatat 542 hotspot di sejumlah KHG sejak 1 Januari, meski hotspot bukan otomatis titik api.
  • Walhi menekankan kebutuhan sumur bor, embung, dan restorasi berkelanjutan untuk menjaga tata air serta memperbaiki pemadaman, karena penanganan tidak cukup dilakukan saat api muncul.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan (Sumsel) tidak hanya menyisakan persoalan di permukaan. Pada kawasan gambut, kerusakan fungsi ekologis membuat api berpotensi menjalar hingga lapisan bawah tanah, sehingga jauh lebih sulit dipadamkan dan rentan kembali terbakar.

Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel, Galang Sukanda, mengatakan gambut memiliki fungsi ekologis yang sangat penting, terutama dalam menjaga tata air. Namun, fungsi itu kini tertekan karena kawasan gambut dibebani izin hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan berskala besar.

"Wilayah gambut ini unik ketika musim hujan, dia banyak menyimpan cadangan air. Di musim kemarau dia bisa mendistribusikan air," ungkap Galang Sukanda kepada IDN Times, Jumat (28/8/2026).

1. Risiko kebakaran meningkat sejalan dengan kerusakan gambut

Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Sumsel, Galang Sukanda (IDN Times/Rangga Erfizal)

Berdasarkan data Walhi Sumsel, luas kawasan gambut di Sumsel mencapai sekitar 2,1 juta hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 44 persen telah dibebani izin korporasi.

Menurut Galang, tekanan terhadap kawasan gambut tersebut berpengaruh terhadap fungsi ekologisnya. Ketika tata air gambut terganggu dan kawasan menjadi lebih kering, risiko kebakaran meningkat.

Persoalannya, karakter kebakaran gambut berbeda dengan kebakaran pada ekosistem biasa. Api tidak selalu terlihat membesar di permukaan, tetapi dapat menjalar dan membakar lapisan gambut di bawahnya.

"Ketika api membakar permukaan, bukan cuma permukaan terbakar, tapi juga menghabiskan rongga-rongga di bawahnya," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat kebakaran gambut sulit dideteksi sekaligus dipadamkan. Api yang berada di bawah permukaan juga dapat bertahan dan kembali muncul ketika kondisi mendukung.

2. Api di kawasan gambut sulit dipadamkan

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Kondisi tersebut turut tergambar dari hasil analisis WALHI terhadap sejumlah Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) di Sumsel. Sejak 1 Januari, terdapat 542 hotspot pada wilayah KHG gambut yang dianalisis.

Namun, Galang menegaskan bahwa hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan titik kebakaran.

"Memang tentu hotspot bukan fire spot, tapi ini merupakan bukti kerusakan ekologis gambut. Di beberapa wilayah juga kita temukan beberapa titik api yang terbakar di wilayah gambut," katanya.

Menurut Galang, kebakaran di kawasan gambut memiliki tantangan tersendiri karena api dapat berada di bawah permukaan dan sulit dijangkau.

"Yang bisa menghentikan kebakaran di kawasan gambut hanya hujan. Kalaupun ada water bombing, pemadaman darat itu hanya memadamkan di permukaan saja," ujarnya.

3. Sumur bor dibutuhkan di kawasan gambut

Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Sumsel, Galang Sukanda (IDN Times/Rangga Erfizal)

Karena itu, Galang menilai ketersediaan sumber air di sekitar kawasan gambut menjadi penting. Sumur bor dan embung dapat membantu menjaga tata air sekaligus menyediakan sumber air ketika terjadi kebakaran.

Menurutnya, sumber air yang berada lebih dekat dengan lokasi kebakaran akan membantu petugas menangani titik api yang sulit dijangkau.

"Ketika api ini berada di luar jangkauan dan sulit digapai, ini memang kerjanya pesawat water bombing. Tapi yang jadi persoalan, air ini tidak cukup tersedia di titik hotspot sehingga pemadaman tidak optimal," katanya.

4. Restorasi gambut perlu diperkuat

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Galang menilai upaya restorasi gambut tetap penting dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan. WALHI tidak menolak restorasi, tetapi menilai keberlanjutan program tersebut perlu diperkuat.

Menurut dia, program restorasi yang sebelumnya berjalan mengalami penurunan. Ketika proyek berakhir, kembali terjadi lonjakan kebakaran di wilayah yang rentan terbakar maupun di kawasan yang hampir setiap tahun mengalami kebakaran.

Galang menilai, pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pembangunan embung dan sumur bor menjadi penting karena kebutuhan tersebut juga berkaitan dengan upaya restorasi gambut.

"Penting sebenarnya pernyataan Presiden Prabowo soal embung dan sumur bor ini yang sebenarnya bagian dari proyek restorasi ini. Sekarang kan ini jadi kebutuhan, di lapangan tidak ada," ujarnya.

Bagi Walhi, penanganan karhutla di kawasan gambut tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah muncul. Pemulihan fungsi ekologis dan pengelolaan tata air perlu diperkuat agar gambut tidak semakin rentan terbakar dan mengalami kebakaran berulang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article