Herman Deru Minta Pemda Waspadai Potensi Karhutla karena El Nino
- Gubernur Sumsel Herman Deru mengingatkan potensi karhutla meningkat akibat fenomena El Nino yang diprediksi membuat musim kemarau lebih kering dibanding tahun-tahun sebelumnya.
- Pemerintah daerah diminta siaga menghadapi ancaman kebakaran, mengingat pengalaman El Nino sebelumnya pada 2015, 2019, dan 2023 yang sempat memicu kabut asap parah di Sumsel.
- BMKG memperkirakan kemarau 2026 di Sumsel berlangsung lebih panjang, dimulai Mei hingga Agustus, dengan durasi sekitar tiga hingga lima bulan yang berpotensi meningkatkan risiko karhutla.
Palembang, IDN Times - Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) mewaspadai potensi peningkatan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat fenomena El Nino. Fenomena ini diperkirakan dapat menyebabkan kondisi kemarau yang lebih kering di wilayah Sumsel.
"Ini mungkin sedikit lebih ekstrem, karena kita menghadapi El Nino. Dampaknya itu kering, jadi harus cepat antisipasi," ungkap Gubernur Sumsel Herman Deru, Selasa (31/3/2026).
1. BMKG sudah keluarkan peringatan dampak El Nino

Menurut Deru, dalam beberapa tahun terakhir Sumsel menghadapi fenomenal La Nina di mana kemarau yang terjadi lebih basah. Namun, pada tahun ini BMKG memberikan peringatan potensi El Nino yang berdampak pada potensi kekeringan.
"Kemarin sebelumnya itu kita menghadapi La Nina, sekarang El Nino. Dampaknya kering, lebih ekstrem jadi harus cepat," jelasnya.
2. Minta semua pihak mulai siaga

Fenomena El Nino tercatat beberapa kali berdampak signifikan terhadap Karhutla di Sumsel, terutama pada 2015, 2019, dan 2023. Puncaknya terjadi pada 2015, saat El Niño kuat memicu kemarau ekstrem hingga menyebabkan karhutla besar dan kabut asap pekat yang melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Pada 2019, kondisi kembali memburuk dengan meningkatnya titik panas dan meluasnya karhutla, meski dampaknya tidak separah 2015. Sementara pada 2023, El Niño kembali memperpanjang kemarau, namun dampaknya relatif lebih terkendali.
"Sebentar lagi apel siaga karhutla, biasanya kan di April. Jadi semua pihak siaga," jelasnya.
3. Kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang

Diberitakan sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperediksi Sumsel akan memasuki puncak musim kemarau dalam beberapa bulan ke depan. Dalam perhitungan BMKG, kondisi kemarau akan dimulai pada Mei 2026 dan mencapai puncaknya di Juli hingga Agustus sehingga berpotensi mengakibatkan Karhutla.
"Durasi musim kemarau di Sumsel tahun ini diperkirakan berlangsung antara 7-15 dasarian, atau sekitar 3-5 bulan," ungkap Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sumsel Wandayantolis, Senin (23/3/2026).

















