Musi Banyuasin, IDN Times - Pandangan Siti, guru SD Negeri 8 Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), ini tak pernah lepas dari arah muridnya yang saat itu berdatangan ke gerbang sekolah, Senin (24/8/2026). Pagi itu kabut masih tebal, dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang menunjukkan angka 171. Nilai tersebut merupakan alarm tanda bahaya, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak yang beraktivitas di luar ruangan.
"Kami masih upacara, belum ada imbauan resmi terkait kabut asap. Anak-anak banyak izin tak masuk sekolah karena sakit," ujarnya.
Guru kelas 1 ini dengan sabar menuntun langkah kecil muridnya masuk kelas usai upacara bendera digelar. Baginya, membatasi aktivitas anak-anak di luar ruangan cukup untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan.
"Banyak yang mengeluh batuk dan pilek. Tadi ada juga yang izin tak masuk karena demam dan sesak. Kami memaklumi karena anak-anak sangat mudah terpapar polusi asap. Kepala sekolah juga sudah mengimbau untuk memakai masker," ucapnya dengan nada khawatir.
Bergeser sedikit ke arah ibu kota Sumsel, Palembang, seorang ibu muda bernama Novi (30) mengaku kewalahan menghadapi tangis bayinya yang masih berusia 7 bulan. Tinggal di Jakabaring yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Ogan Ilir dan Banyuasin membuatnya dilema. Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kiriman dari Indralaya membawa abu bekas pembakaran yang begitu terasa hingga memenuhi seisi rumah.
"Seluruh pintu dan jendela sudah ditutup rapat, tapi asapnya masih tercium. Kipas angin nonstop 24 jam. Bayi saya rewel tanpa henti, mungkin faktor kepanasan karena sering dikurung. Tapi mau bagaimana lagi, dibawa ke luar rumah banyak asap," keluhnya.
