Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bebas Bea Ekspor ke Amerika Serikat, Petani Karet Dorong Hilirisasi

Bebas Bea Ekspor ke Amerika Serikat, Petani Karet Dorong Hilirisasi
Petani karet Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)
Intinya Sih
  • Asosiasi Petani Karet Indonesia Sumsel mendesak pemerintah memasukkan karet sebagai prioritas hilirisasi, karena komoditas ini berperan besar dalam ekonomi daerah dan kontribusi devisa nasional.
  • Rudi Arpian menyoroti perlunya peremajaan kebun karet rakyat yang sudah tua dan tidak produktif, serta mendorong pembentukan Gerakan Nasional Peremajaan Karet untuk memperkuat industri hilir.
  • Kebijakan tarif 0 persen ekspor ke Amerika Serikat dinilai membuka peluang besar bagi produk olahan karet, namun petani berharap manfaatnya juga dirasakan hingga tingkat akar rumput.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Palembang, IDN Times - Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumatra Selatan (Sumsel) mendorong program hilirisasi perkebunan tidak hanya difokuskan pada komoditas seperti tebu, kelapa, kopi, kakao, jambu mete, lada, dan pala. Petani menilai, karet juga layak menjadi prioritas, mengingat selama ini komoditas tersebut menjadi produk unggulan daerah sekaligus penyumbang devisa negara yang signifikan.

"Karet pernah menghidupi jutaan keluarga petani. Karet juga pernah membangun desa-desa di Sumatra," ungkap Sekretraris APKARINDO Sumsel, Rudi Arpian, Selasa (24/2/2026).

1. Komoditas karet harus didorong ke hilirisasi industri

Perkebunan karet Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)
Perkebunan karet Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)

Rudi menilai kebijakan hilirisasi nasional saat ini belum berpihak pada komoditas karet. Padahal, menurutnya, karet merupakan komoditas strategis dengan potensi besar untuk dikembangkan ke sektor hilir, mulai dari kebutuhan infrastruktur, industri otomotif, alat kesehatan, hingga pemanfaatan aspal karet untuk pembangunan jalan nasional dan daerah.

"Pemerintah harus serius mendorong transformasi sektor perkebunan dari bahan mentah ke industri bernilai tambah, maka karet seharusnya berada di barisan depan, bukan di pinggir kebijakan," jelas dia.

2. Banyak perkebunan karet mencapai usia tua

Petani karet Sumsel tengah menyadap hasil kebunnya (IDN Times/Rangga Erfizal)
Petani karet Sumsel tengah menyadap hasil kebunnya (IDN Times/Rangga Erfizal)

Rudi menjelaskan, untuk mencapai tujuan hilirisasi karet diperlukan peremajaan dibanyak perkebunan karet rakyat. Fakta di lapangan menunjukkan, saat ini karet rakyat banyak yang mencapai usia tua, dengan kondisi produktivitas yang menurun, dan terserang penyakit daun.

"Karena peremajaan membutuhkan biaya yang besar, banyak petani terdesak. Sehingga saat ini banyak terjadi alih fungsi lahan," jelas dia.

APKARINDO terus mendorong terciptanya Gerakan Nasional Peremajaan Karet (GERNAS) sebagai pondasi utama hilirisasi. Pihaknya berharap hal ini mendapat dukungan pemerintah baik di pusat maupun daerah.

"Kita ingin karet diremajakan untuk industri, bukan sekadar untuk dijual mentah," jelas dia.

3. Tarif dagang nol persen ke pasar US diharapkan jadi peluang

Getah Karet saat dikumpulkan (IDN Times/Rangga Erfizal)
Getah Karet saat dikumpulkan (IDN Times/Rangga Erfizal)

Rudi menambahkan, kebijakan tarif dagang 0 persen untuk komoditas karet yang masuk ke pasar Amerika Serikat menjadi peluang besar bagi industri karet dalam negeri. Terlebih, kesempatan tersebut tidak hanya terbuka untuk ekspor bahan mentah, tetapi juga produk setengah jadi maupun produk jadi berbasis karet yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

"Ini menjadi peluang, terutama untuk mendorong inovasi pemanfaatan karet sebagai bahan baku aspal. Jangan sampai kebijakan tarif 0 persen hanya menguntungkan pelaku industri besar, sementara petani tetap dibiarkan menghadapi persoalan mereka sendiri," jelas dia.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More