Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
40 Tahun Lebih Menenun, Udin Abdullah Jaga Pakem Kain Tajung Sambil Kejar Tren Anak Muda
Seorang pegawai tengah merapikan kain yang dipajang di Centra Tenun Tajung, Tuan Kentang, Palembang. (IDN Times/Hafidz Trijatnika)
  • Udin Abdullah, pengrajin generasi keempat di Palembang, menekuni kain tajung sejak 1982 dan mempertahankan pakem motif Palembang meski warna serta aksen mengikuti tren.
  • Untuk menjangkau milenial dan Gen Z, Udin mengembangkan kain menjadi busana dan suvenir, berpromosi daring, serta membuka peluang kolaborasi dengan desainer dan batik.
  • Bank Mandiri Region II/Sumatera 2 menyalurkan kredit UMKM Rp21,8 triliun hingga September 2026 kepada 214 ribu debitur, didukung layanan digital dan kolaborasi pembiayaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Udin Abdullah mempertahankan pakem motif Palembang dalam produksi kain tajung sambil menyesuaikan warna, motif tambahan, dan produk fashion untuk mengikuti tren pasar.
  • Who?
    Udin Abdullah, pengrajin kain tajung berusia 66 tahun di Palembang, bersama istrinya menekuni usaha tenun keluarga generasi keempat yang berdiri sejak 1982.
  • Where?
    Produksi kain tajung dilakukan di kawasan Tuan Kentang, Palembang. Promosi produknya terutama berputar di Palembang, dengan pameran sesekali di Jakarta Convention Center.
  • When?
    Udin memulai usaha pada 1982 dan belajar menenun bersama istrinya sejak 1983. Hingga saat ini ia terus memproduksi kain tajung, blongsong, dan jumputan.
  • Why?
    Udin membidik milenial dan Gen Z karena pembeli lama semakin menua, sembari menjaga identitas kain Palembang agar motif khasnya tetap terlihat.
  • How?
    Ia membuat kain lembaran, busana, dan suvenir; mempromosikan produk secara daring; serta mengombinasikan warna dan motif bunga. Udin berharap bekerja sama dengan desainer untuk mengikuti tren.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pak Udin Abdullah di Palembang sudah menenun kain tajung lebih dari 40 tahun. Ia menjaga motif khas Palembang, walau warna dan bunga boleh berubah. Sekarang ia membuat kain dan baju agar anak muda suka. Ia juga belajar jualan lewat internet. Bank Mandiri memberi banyak pinjaman untuk usaha kecil di Sumatera.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Keteguhan Udin Abdullah menjaga pakem kain tajung sambil membuka ruang bagi warna, motif, dan kolaborasi baru memperlihatkan bahwa tradisi dapat bergerak tanpa kehilangan identitasnya. Upayanya menjangkau pasar fashion, suvenir, dan promosi daring juga selaras dengan geliat pembiayaan UMKM yang terus meluas di Sumatera 2.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Ada satu hal yang tak bisa ditawar Udin Abdullah dalam menenun, yaitu pakem. Warna boleh berganti mengikuti tren, bunga boleh ditambahkan di sudut kain. Namun, motif khas Palembang harus tetap terlihat sebagai motif Palembang.

“Pakem tidak bisa saya tinggalkan. Itu ciri khasnya, motif-motif Palembang seperti ini.” ujar pria 66 tahun itu.

Udin adalah pengrajin kain tajung di kawasan Tuan Kentang, Palembang. Ia generasi keempat dari keluarga pengrajin kain. Usahanya berdiri sejak 1982, ketika ia memutuskan meninggalkan Jakarta dan pulang menyusul orang tuanya yang lebih dulu menekuni kerajinan di Palembang.

1. Belajar dari nol bersama istri

Udin Abdullah (66) pemilik Centra Tenun Tajung di Tuan Kentang, Palembang. (IDN Times/Hafidz Trijatnika)

Saat itu Udin belum paham apa pun soal tenun. Orang tuanya pernah menyekolahkannya dari hasil kerajinan itu, dan dari situlah ia melihat prospek. Pada 1983, ia belajar mandiri dari nol bersama istrinya, mulai dari kain blongsong hingga tenun. Sejak itu, menurut pengakuannya, ia nyaris tak pernah beranjak.

“Sampai sekarang belum pernah ke mana-mana, hanya menekuni," kata dia.

Kini ia memproduksi kain tajung dan blongsong sebagai produk unggulan, selain jumputan. Kain tajung dikenal sebagai turunan songket dari tradisi Melayu. Benangnya pun masih dibuat sendiri. Harganya Rp250 ribu hingga Rp350 ribu untuk kain non-sutra, dan lebih dari Rp1 juta untuk sutra, tergantung bahan baku. Dulu, kain ini lekat dengan kalangan menengah ke atas pada masa sutra sedang tren, dan pemakainya umumnya berusia 40 tahun ke atas.

2. Dari kain ke fashion dan suvenir

Centra Tenun Tajung di kawasan Tuang Kentang, Palembang. (IDN Times/Hafidz Trijatnika)

Persoalannya, pembeli yang dulu setia kini menua. Udin mengaku mulai membidik segmen milenial dan Gen Z lewat produk fashion. Ia membuat busana untuk kalangan bapak-bapak, selain kain lembaran.

Pasar lain datang dari pesanan suvenir. Menurut Udin, kain tajung kerap dipesan untuk acara, termasuk suvenir pergantian atau rotasi pejabat. Menjelang Lebaran, pemerintah kota maupun provinsi juga pernah memesan kain untuk dibagikan sebagai hadiah Idulfitri. Biasanya hadiah semacam itu berupa baju batik.

Soal selera anak muda, Udin terbuka bahwa ia belum punya strategi khusus. Promosinya kini kebanyakan lewat daring, dan ia mengaku masih belajar berjualan online. Namun, promosi itu masih bersifat umum, belum menyasar khusus kaum milenial atau Gen Z. Ia tahu tren itu penting, tetapi merasa tak bisa menentukannya sendiri.

“Harus ada sentuhan dari desainer,” ujarnya.

Desainerlah yang tahu warna apa yang sedang digemari tahun ini, dan Udin mengikuti arahan itu. Gagasan kolaborasi sudah ada di kepalanya. Salah satunya menyandingkan tenun dengan batik. Udin menyebut sudah ada gambaran untuk ke depan, meski belum dijelaskan rinci.

Kolaborasi yang sudah berjalan sebatas pada kombinasi warna dan penambahan motif bunga. Dengan sentuhan itu, kainnya tak monoton. Motif jumputan dan blongsong tetap menjadi tulang punggung.

3. Rambah pasar luar kota

Seorang pegawai tengah merapikan kain yang dipajang di Centra Tenun Tajung, Tuan Kentang, Palembang. (IDN Times/Hafidz Trijatnika)

Di titik inilah harapan Udin bertemu dengan cerita awalnya. Promosi UMKM kerajinan, menurutnya, selama ini berputar di sekitar Palembang. Sesekali ia diajak ke pameran di Jakarta Convention Center (JCC). Ia ingin kerajinan Palembang tak lagi kaku di dalam kota, tetapi dikenal sejauh mungkin.

“Kita mengikuti perkembangan,” ucapnya.

Di Tuan Kentang, Udin tetap bekerja dengan prinsip yang sama sejak 1982: boleh berganti warna, jangan sampai kehilangan pakem. Baginya, naik kelas berarti kain tajung dikenal lebih jauh, tanpa berhenti menjadi kain Palembang.

4. Mandiri menjadi bagian dalam pembiayaan UMKM

Transaksi menggunakan mesin EDC mandiri di Centra Tenun Tajung, Kawasan Tuang Kentang, Palembang (IDN Times/Hafidz Trijatnika)

Cerita pelaku usaha seperti Udin berlangsung di tengah geliat pembiayaan UMKM di kawasan ini. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Region II/Sumatera 2 mencatat penyaluran kredit UMKM Rp21,8 triliun per September 2026. Angka itu naik 5,8 persen dari akhir Desember 2025 (year-to-date) yang sebesar Rp20,6 triliun, dan tumbuh 4,1 persen secara tahunan dari Rp20,9 triliun.

Jumlah debitur UMKM mencapai 214 ribu. Itu bertambah sekitar 5 ribu dari Desember 2025 (209 ribu), atau 2,3 persen YTD. Dibandingkan dengan September 2025 (207 ribu), jumlahnya naik 3,4 persen YoY, dengan tambahan sekitar 7 ribu debitur.

Regional CEO Bank Mandiri Region II, Sri Dono Indarto, mengatakan pertumbuhan ini sejalan dengan upaya memperluas inklusi keuangan dan mendorong pelaku usaha lokal naik kelas.

“Akselerasi penyaluran pembiayaan UMKM di wilayah Sumatera 2 menunjukkan optimisme dan geliat aktivitas ekonomi masyarakat yang terus membaik. Kami berkomitmen untuk tidak hanya hadir memberikan dukungan permodalan, tetapi juga mendampingi para pelaku usaha melalui solusi perbankan terintegrasi agar dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menyebut capaian itu ditopang oleh penyaluran kredit yang prudent dan optimalisasi layanan digital. Ke depan, Bank Mandiri Region II akan memperkuat kolaborasi dengan pemangku kepentingan agar pembiayaan makin tepat sasaran.

Curated For You

Editorial Team

Related Article