Erupsi Marapi. IDN Times/Andri Nh
Menurut Hendra, pasca erupsi 3 Desember 2023, erupsi lanjutan masih berlangsung hingga saat ini. Jumlah erupsi harian tercatat cenderung menurun. Namun sebaliknya, jumlah gempa Low Frequency dan Vulkanik Dalam (VA) cenderung meningkat, sehingga mengindikasikan pasokan magma dari kedalaman masih terjadi dan cenderung meningkat.
Kondisi itu juga terlihat dari grafik baseline RSAM yang masih di atas normal dan data tiltmeter yang cenderung mendatar. Aktivitas erupsi yang teramati secara visual dan masih terekamnya gempa erupsi serta gempa hembusan disertai dengan tremor menerus, menunjukkan aktivitas Gunung Marapi di Sumbar masih tergolong tinggi.
Data dari satelit Sentinel juga menunjukkan bahwa laju emisi (fluks) gas SO2 yang dihasilkan dari aktivitas Gunung Marapi saat ini tergolong tinggi. Kehadiran magma di dalam dasar kawah yang terindikasi sejak teramatinya pancaran sinar api di puncak pada 6 Desember 2023 malam hari, dan teramatinya lontaran material pijar pada erupsi-erupsi berikutnya, menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan tipe erupsi atau letusan dari tipe freatik menjadi tipe magmatik.
Kondisi itu kata Hendra dapat berpotensi menyebabkan terjadinya akumulasi tekanan di dalam tubuh gunung yang dapat menyebabkan erupsi, dengan energi yang meningkat dan jangkauan lontaran material pijar yang lebih jauh dari pusat erupsi. Oleh karena itu, potensi ancaman bahaya Gunung Marapi juga dapat menjadi lebih luas.