Cocok tanam masyarakat kampung untuk ketahanan pangan (IDN Times/Rangga Erfizal)
Perangkat kampung beserta warga masyarakat menyusun lima program untuk mendukung keberlangsungan PSBK kampung Margoyoso. Pertama, aspek keamanan yang dinilai penting untuk mengawasi setiap kegiatan. Kedua, protokol kesehatan yang mengatur fungsi disiplin masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan.
Ketiga, aspek ketahanan pangan. Sutrisno memandang, aspek ini harus dipenuhi agar masyarakat dapat bertahan hidup di tengah pandemik. Apalagi banyak warganya yang terdampak sehingga perangkat kampung memutuskan untuk memanfaatkan lahan kosong untuk berkebun, menanam sayur-sayuran, dan membudidayakan ikan seperti lele, nila, hingga ikan patin.
"Kita manfaatkan lahan kosong milik warga. Kita tanami tanaman obat dan sayuran. Sedangkan untuk budi daya ikan menggunakan saluran sungai kecil dengan membentuk 12 jerambah. Paling banyak ikan lele, sisanya patin dan nila. Total ada 12.500 bibit ikan. Itu semua bisa dikonsumsi oleh masyarakat yang nantinya akan dibagikan ke RT masing-masing. Kita jual harga di bawah pasar untuk keperluan bibit lagi," ungkap dia.
Aspek keempat adalah ketahanan ekonomi. Untuk menjaga aspek tetap berputar di masa pandemik, warga sepakat memproduksi makanan yang dapat dijual sesama mereka melalui grup WhatsApp. Kegiatan itu pun cukup membantu antar warga.
Aspek terakhir yakni pembinaan generasi muda. Sejak PSBB diberlakukan, anak muda di kampung tersebut tidak lagi bersekolah. Untuk membinanya, kampung Margoyoso mengaktifkan lagi kegiatan TPA sebagai sarana belajar bagi anak-anak kampung.
"Nah kelima aspek inilah yang kami gunakan untuk bertahan di masa pandemik. Alhamdulilah, sampai sejauh ini kita masih bertahan. Warga tetap sehat, keamanan terlindungi, pangan terjaga, ekonomi bergeliat dan pembinaan tetap jalan," tandas dia.