Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pengamat Politik Sebut Lembaga Survei Pengaruhi Pemilih Tradisional

Pengamat Politik Sebut Lembaga Survei Pengaruhi Pemilih Tradisional
Tiga Capres yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo diundang Presiden Jokowi makan siang di Istana Negara, Senin (30/10/2023) (IDN Times/Muhammad Ilman Na'fian)

Palembang, IDN Times - Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan tiga pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres-Cawapres). Sejumlah lembaga survei telah mengeluarkan hasil elektabilitas dan simulasi hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) dengan kemungkinan berlangsung satu putaran.

Pengamat Politik Sumsel, Ardian Septawan, menilai hasil survei akan berpengaruh besar bagi pemilih tradisional. Kondisi ini berbeda jika ditanggapi oleh pemilih rasional, karena pemilih tradisional cenderung mengikuti cara berpikir mayoritas yang berpotensi menang.

"Jika hasil survei itu sampai ke masyarakat tradisional, hal ini akan mempengaruhi mereka, kebanyakan pemilih tradisional berada di daerah. Bagi pemilih rasional tidak terlalu berpengaruh karena mereka banyak sumber informasi," ungkap Ardian, Rabu (15/11/2023).

1. Pilpres satu putaran mustahil terjadi

Tiga Capres yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo diundang Presiden Jokowi makan siang di Istana Negara, Senin (30/10/2023) (IDN Times/Muhammad Ilman Na'fian)
Tiga Capres yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo diundang Presiden Jokowi makan siang di Istana Negara, Senin (30/10/2023) (IDN Times/Muhammad Ilman Na'fian)

Adrian menyebutkan, pada pilpres kali ini dengan kemungkinan satu putaran akan sulit tercapai mengingat elektabilitas ketiga Capres-Cawapres belum mencapai angka ideal.

"Sukar untuk satu putaran, kemudian juga konfigurasi persentase yang didapat mereka juga dinamis, tidak stabil. Maka dari itu kemungkinan bisa dua putaran," jelas dia.

2. Narasi satu putaran untuk menggiring opini

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Ardian menilai narasi yang dikeluarkan masing-masing paslon untuk memenangkan Pilpres satu putaran dinilai tidak demokratis, karena memaksa orang berpikir untuk menang dan kalah semata, sehingga cenderung bermotif intimidasi atau tidak menjunjung asas suara aspiratif.

"Ini kan menggiring opini, jadi bukan tentang benar atau salah," ujar dia.

3. Nomor urut paslon tidak akan pengaruhi pemilih

Ilustrasi Pemilu (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi Pemilu (IDN Times/Arief Rahmat)

Sedangkan untuk proses penentuan nomor urut, Ardian menilai tidak akan terlalu memengaruhi pemilih menentukan Capres-Cawapres.

"Nomor urut tidak berpengaruh karena pasangannya sedikit," tutup dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deryardli Tiarhendi
Rangga Erfizal
Deryardli Tiarhendi
EditorDeryardli Tiarhendi
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More

Pertamina dan Telkomsel Luncurkan Paket Data Plus Voucher BBM untuk Ojol

04 Mar 2026, 20:59 WIBNews