Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pendapatan Rp2,8 Juta Sebulan di Sumsel Masuk Kategori Miskin
ilustrasi uang (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Pendapatan Rp2,8 juta per bulan masuk kategori miskin untuk lima orang dalam satu KK
  • 10,51 persen penduduk Sumsel masuk kapita kemiskinan, terbanyak di Kabupaten Musi Rawas Utara
  • Garis kemiskinan harus diperhatikan secara absolut di daerah dengan jumlah penduduk paling banyak
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Badan Pusat Statistik Sumatra Selatan (BPS Sumsel) merilis kategori masyarakat miskin per 2024. Berdasarkan perhitungan garis kemiskinan,dalam satu rumah tangga masuk kapita miskin dengan pendapatan Rp2,8 juta sebulan.

"Garis kemiskinan per rumah tangga rata-rata 2.844.888 per bulan," ujar Kepala BPS Sumsel, Moh. Wahyu Yulianto, Kamis (16/1/2024).

1. Pendapatan Rp2,8 juta sebulan untuk lima orang per KK masuk kategori kapita miskin

ilustrasi menghitung gaji (freepik.com/katemangostar)

Menurut Wahyu, kapita kemiskinan diangka Rp2,8 juta per bulan ilmasuk kategori miskin jika dalam satu rumah tangga terdapat hingga 5 anggota dalam satu Kepala Keluarga (KK). Besaran pendapatan tersebut dipaksa memenuhi keperluan bulanan lima orang.

"September 2024, secara rata-rata rumah tangga miskin di Sumsel memiliki 5,04 orang anggota rumah tangga," katanya. 

2. Kabupaten Muratara jadi daerah tertinggi penduduk miskin di Sumsel

ilustrasi tak punya uang (pexels.com/Nicola Barts)

Berdasarkan persentase 2024, angka kemiskinan di Sumsel mencapai 10,51 persen dari jumlah penduduk menyeluruh. Persentase tersebut tercatat untuk 948,84 ribu orang di Sumsel yang masuk kapita kemiskinan.

"Penduduk miskinnya secara persentase ada di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muaratara)," jelas Wahyu. 

3. Persentase kemiskinan untuk daerah padat penduduk harus dihitung secara absolut

Ilustrasi uang yang disimpan dalam dompet (pexels.com/Ahsanjaya)

Namun menurut Wahyu, garis kemiskinan untuk daerah dengan jumlah penduduk paling banyak di Sumsel seperti Palembang dan Banyuasin, kapita kemiskinan harus diperhatikan absolut.

"Jangan terkecoh dengan persentase, karena harus diperhatikan angka secara absolut," katanya

4. Akses pangan murah bisa memengaruhi penurunan angka kemiskinan Sumsel

ilustrasi riset gaji (pexels.com/Christina Morillo)

Terkait penyebab kemiskinan terjadi di Sumsel, paling sering diakibatkan permasalahan kompleks program pemerintah kurang tepat sasaran. Semestinya kata Wahyu, agar sesuai target sasaran, pemerintah perlu melalukan pendekatan menggunakan tingkat konsumsi.

"Ketika dapat menjaga tingkat konsumsi masyarakat di atas garis kemiskinan dan terjaga dari sisi pendapatan, akses pangan murah bisa membeli, maka bisa terjaga," jelas dia.

Editorial Team

Related Article