Kisah Pilu Musrizal, Kehilangan 2 Anak saat Banjir di Palembayan Agam
- Musrizal kehilangan 2 anak saat banjir bandang di Palembayan Agam
- Anaknya tak terselamatkan, Musrizal luka-luka dan tidak bisa mencari
- 112 korban tewas di Palembayan, 129 orang korban tewas di Sumbar
Agam, IDN Times - Musrizal (55), warga Nagari Salareh Aia berjalan tertatih menelusuri lokasi bekas 'galodo' alias banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Minggu (30/11/2025) siang. Pria paruh baya tersebut mengais puing, memandang alat berat yang sedang membulak-balikkan reruntuhan rumah, untuk mencari korban-korban yang hilang.
Serupa dengan niat Musrizal, yang mencari dua orang anaknya yang masih hilang belum diketahui keberadaannya sejak banjir pada Kamis, 27 November 2025 lalu.
"Anak saya masih belum ketemu. Saya juga baru bisa keluar hari ini untuk mencari tahu keberadaan kedua anak saya yang hilang ini, karena saya juga luka-luka dan dirawat sejak Kamis kemarin," katanya.
Berjuang selamatkan keluarga, tapi dua anak tak tertolong
Musrizal mengungkapkan, saat banjir bandang menimpa daerah tersebut, ia sedang berada di rumahnya bersama istri dan kedua anaknya. Anak perempuannya yang berusia delapan tahun tengah bermain di rumah, sementara anak laki-lakinya sedang tertidur.
"Saat itu, saya mendengar adanya suara dentuman keras dari arah atas. Waktu itu sekitar pukul 16.30 WIB," katanya.
Saat mendengar suara itu, ia mendengar teriakan dari warga lainnya bahwa ada 'galodo' dari arah hulu sungai. Gemuruhnya pun semakin besar terdengar. Saat menengok ke luar, air bah semakin dekat. Seketika Musrizal meraih istri dan anak perempuan yang ada di dekatnya dan segera berlari. Sang anak laki-laki yang sedang tertidur tak sempat diselamatkan.
"Saya langsung bawa istri dan anak perempuan saya untuk lari dan menyelamatkan diri. Tapi saya tidak bisa menyelamatkan anak perempuan saya," sesalnya.
Saat berlari menyelamatkan diri, anak perempuannya terjatuh ke got dan terseret air yang cukup deras. Tidak hanya itu, sang anak langsung tertimpa oleh bangunan yang roboh.
"Saya langsung berlari bersama istri saya yang sedang hamil 8 bulan menuju tempat yang lebih aman. Saya tidak bisa lagi menyelamatkan kedua anak saya," tutur Musrizal berkaca-kaca.
Tak bisa langsung mencari
Hal yang paling disesali oleh Musrizal, ketika dirinya tidak bisa melakukan pencarian sang anak sesegera mungkin lantaran luka-luka yang dialaminya saat menyelamatkan diri.
"Tangan kiri saya luka dan dijahit. Tangan kanan saya juga dijahit dan tidak bisa ditekuk sampai sekarang," katanya.
Ia hanya bisa menunggu hasil pencarian yang dilakukan oleh tim Kepolisian, TNI, Basarnas dan masyarakat yang berjibaku menelusuri material yang hanyut terbawa air.
"Saya sangat berharap anak saya segera ditemukan. Walaupun dalam keadaan meninggal dunia, yang penting anak saya bisa ditemukan," katanya.
Sebanyak 112 korban tewas di Palembayan
Kapolres Agam, AKBP Muari mengatakan, hingga saat ini pihaknya telah menemukan sebanyak 112 korban tewas di Kecamatan Palembayan.
"Untuk hari ini ada sebanyak 16 jenazah yang ditemukan oleh tim di lapangan. Dari 112 korban itu, 86 diantaranya sudah teridentifikasi dan 27 lainnya masih belum," katanya.
Muari mengungkapkan, untuk mengetahui identitas 27 jenazah lainnya itu pihaknya dibantu oleh tim Kedokteran dari Polda Sumbar untuk melakukan identifikasi.
"Mudah-mudahan hasil identifikasi segera keluar dan identitas jenazah saudara kita yang 27 orang itu segera diketahui untuk diberitahukan kepada keluarganya," katanya.
4. Keadaan bencana di Sumbar
Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi menyebut data tersebut dihimpun berdasarkan laporan resmi dari kabupaten/kota terdampak. Hasil pencatatan terbaru, terdapat peningkatan signifikan jumlah korban meninggal dunia dan hilang di Kota Padang Panjang.
"Perubahan jumlah korban paling signifikan di Kota Padang Panjang. Laporan sebelumnya, di sana hanya tujuh orang meninggal dan tidak ada korban yang hilang, sekarang jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 21 orang dan 32 hilang," katanya.
Ia menegaskan, data akan terus diperbarui sesuai kondisi terbaru. Dengan masuknya laporan terbaru dari masing-masing daerah tersebut, maka total jumlah korban bencana hidrometeorologi di Sumbar hingga saat ini berjumlah 129 orang meninggal dunia dan 86 orang masih dinyatakan hilang.
Arry menjelaskan, dari 16 kabupaten/kota terdampak, terdapat 8 daerah yang melaporkan nihil korban jiwa maupun orang hilang. Sementara, 8 daerah lainnya melaporkan adanya korban jiwa atau orang hilang. Jumlah korban terbanyak ada di Kabupaten Agam.
5. Rincian korban tewas di Sumbar
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat merilis jumlah korban hingga Minggu (30/11/2025) lagi sebanyak 129 orang korban tewas di 7 Kabupaten/Kota. Sementara itu sebanyak 86 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan belum ditemukan keberadaannya oleh tim yang melakukan pencarian di lapangan.
"Untuk di delapan daerah lainnya di Sumbar sampai saat ini kami tidak menerima adanya laporan adanya korban meninggal dunia ataupun yang hilang," kata Arry Yuswandi.
Arry merinci, sebaran 87 orang korban meninggal dunia di Kabupaten Agam dan 76 diantaranya masih dinyatakan hilang. Sementara di Kota Padang Panjang sudah ditemukan sebanyak 21 orang meninggal dunia dan 32 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Sementara, di Kota Padang sudah terdata sebanyak 10 orang dinyatakan meninggal dunia dan sudah tidak ada lagi yang dinyatakan hilang. di Kabupaten Tanah Datar terdata sebanyak 2 orang dinyatakan meninggal dunia dan satu orang dinyatakan hilang.
Di Kabupaten Pasaman Barat menurutnya sudah ada satu orang meninggal dunia dan 6 lainnya masih dinyatakan hilang. Di Kabupaten Padang Pariaman sebanyak 7 orang dinyatakan meninggal dunia dan 2 diantaranya dinyatakan hilang.
Untuk di Kota Solok terdata satu orang korban meninggal dunia dan di Kabupaten Pesisir Selatan masih ada satu orang yang dinyatakan hilang sampai saat ini.

















