Sekolah di Palembang Pilih Tak Terima MBG saat Libur Lebaran

- Beberapa sekolah di Palembang, termasuk SMP N 3 Palembang, memutuskan tidak menerima penyaluran program Makanan Bergizi Gratis (MBG) selama libur Idul Fitri 2026 agar tidak terjadi pemborosan.
- Selama Ramadan 2026, program MBG tetap berjalan dengan pembagian makanan kering di jam pelajaran terakhir dan sistem distribusi disesuaikan dengan jadwal full day sekolah.
- SMP N 3 Palembang sempat mengganti penyedia layanan gizi (SPPG) karena kendala menu dan kualitas, kini layanan baru dinilai lebih baik serta mencakup seluruh siswa, guru, dan staf.
Palembang, IDN Times - Sejumlah sekolah di Palembang memilih untuk tidak menerima penyaluran program Makanan Bergizi Gratis (MBG) selama libur Lebaran Idul Fitri 2026, meski pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan komitmen untuk melakukan distribusi.
"Kami juga sudah berkomitmen dengan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) di waktu libur, tidak menerima MBG. Karena nanti mubazir dan anak-anak juga belum tentu mau datang ke sekolah untuk mengambil (MBG)," ujar Kepala Sekolah SMP N 3 Palembang Novrita Firdaus, dikutip Rabu (11/3/2026).
1. MBG terakhir dibagikan tanggal 13 Maret

Dia mengatakan, sesuai kalender akademik, jadwal libur sekolah jelang momen Idul Fitri 2026 mulai tanggal 13 Maret dan sesuai komitmen, penyaluran MBG juga setop sementara dan akan kembali dilanjutkan pada saat para siswa masuk kembali.
"Pembagian terakhir di bulan puasa sesuai jadwal sekolah," kata dia.
2. Pembagian MBG berupa makanan kering saat Ramadan 2026

Novrita menyampaikan, selama periode Ramadan 2026, program MBG di sekolahnya tetap berjalan. Namun, pembagian dilaksanakan pada jam pelajaran terakhir, dan menu yang dibagikan berupa makanan kering, serta jatah di hari Sabtu langsung diberikan pada Jumat secara bersamaan karena SMP Negeri 3 Palembang menerapkan sistem full day.
"Selama bulan Ramadan berjalan dengan lancar (MBG). Alhamdulillah, SPPG sekarang menyenangkan dan makanannya variatif. Mereka (SPPG) juga kadang nanya menu ke sekolah biar bisa request," jelasnya.
3. Sekolah sempat mengalami pergantian SPPG

Dia mengaku sepanjang program MBG berjalan, beberapa kali mengalami masalah negatif. Tetapi pihak sekolah langsung melakukan protes dan ada evaluasi serta perbaikan sistem.
"Kami baru ganti SPPG baru di awal Januari tadi. Sebelumnya, di dapur banyak kendala, mulai dari menu yang tidak sesuai, bikin tidak selera, dan MBG negatif, tapi tidak kami viralkan, hanya langsung kami sampaikan keluhan dan minta pergantian (SPPG). Sekarang yang baru ini menyenangkan," kata Novrita.
Sementara untuk jumlah penerima MBG di sekolah saat ini tercatat dibagikan kepada 1.050 orang, termasuk seluruh siswa, guru dan staf sekolah. Sebelumnya, distribusi hanya untuk siswa saja.
"Aturan baru semua dapat (yang ada di sekolah) awalnya untuk siswa sebanyak 995 orang," jelas dia.

















