Dinkes Sumsel Ingatkan Peralihan Musim jadi Waktu Mewabahnya DBD

- Dinkes Sumsel catat 5.243 kasus DBD di Bumi Sriwijaya, naik dari 2023
- Kasus DBD menurun saat musim kemarau, namun ada 36 kasus kematian akibat DBD
- Penanganan medis diperlukan karena masyarakat kurang sadar akan bahaya DBD
Palembang, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel mengingatkan bahaya penyebaran wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) saat memasuki musim peralihan hujan ke panas. Berdasarkan tren kasus penyebaran virus DBD kerap terjadi pada musim hujan ketika curah hujan tinggi terjadi.
"Perkembangannya (Nyamuk Aedes Aegypti) paling tinggi di musim hujan atau November hingga Januari, dimana trennya akan tinggi," ungkap Pj Pengendali DBD Dinkes Sumsel, Didid Haryanto, Jumat (8/11/2024).
1. Ada 5.243 kasus DBD selama 11 bulan di Sumsel

Periode Januari-November 2024, Dinkes Sumsel mencatat ada 5.243 kasus DBD di Bumi Sriwijaya. Temuan ini tercatat lebih besar dibanding 2023 yang hanya 2.804 kasus.
Lonjakan kasus sempat terjadi mencapai 1.598 pada Januari disusul Februari .227 kasus. Menurutnya angka sebaran DBD terus mengalami penurunan saat memasuki musim kemarau dari semula 1.000 kasus turun menjadi 200 kasus dalam sebulan.
"Kasus DBD kita saat ini statis menurun ya, dibandingkan dengan bulan-bulan yang lalu," jelas dia.
2. 36 kasus kematian akibat DBD di Sumsel sepanjang 2024

Didid menambahkan, untuk angka kematian akibat DBD di Sumsel sepanjang Januari-November ada 36 kasus. Kasus kematian terbanyak ada di wilayah Palembang utamanya di wilayah padat penduduk.
"Angka kematian tercatat juga turun statis. Kita melakukan pelatihan kepada nakes dan mengedukasi masyarakat untuk membawa pasien DBD ke rumah sakit guna mendapat penanganan medis," jelas dia.
Kematian akibat wabah DBD disebabkan oleh terlambat penanganan. DBD memiliki ciri-ciri kasus seperti demam biasa sehingga masyarakat kerap abai dan tidak mengetahui ada bahaya yang mengintai.
"Karena kalau DBD itu kan demam tinggi, kemudian menurun, nah demam yang menurun ini terkadang dianggap sembuh, padahal disana masa kritisnya," jelas dia.
3. Ajak masyarakat cegah sebaran wabah DBD

Dirinya meminta masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dengan memberantas sarang nyamuk dimulai dari rumah masing-masing. Salah satunya dengan cara menutup penampungan air dan mencegah adanya barang bekas yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti.
"Kita sekarang sedang menggencarkan giat PSN ya, karena pada bulan-bulan seperti ini sangat cocok dilakukan untuk menekan tingginya kasus yang akan terjadi di awal tahun depan nanti," kata Didid.


















