Pengamat: Kenaikan Harga Emas Palembang Isyarat Buruk Perekonomian Daerah

- Harga emas di Palembang terus naik sejak awal Januari 2026, menunjukkan ketidakstabilan ekonomi daerah.
- Kenaikan harga emas mempengaruhi daya beli masyarakat, membuat mereka lebih berhati-hati dalam pembelian emas dan mengalihkan pengeluaran ke kebutuhan pokok.
- Perubahan perilaku masyarakat terhadap emas juga dirasakan oleh pelaku usaha, dengan harga yang tinggi berpotensi menahan konsumsi dan perputaran ekonomi lokal.
Palembang, IDN Times - Harga emas di Palembang sejak awal Januari 2026 menunjukkan tren kenaikan yang konsisten. Bahkan lonjakan harga emas kian melejit memicu core inflasi atau inflasi inti terhadap situasi ekonomi daerah.
Menurut Pengamat Ekonomi Sumatra Selatan Sri Rahayu, kondisi harga emas terus melambung, harus menjadi perhatian serius. Sebab katanya, keadaan saat ini menjadi isyarat kondisi keuangan dan ekonomi wilayah tidak stabil.
"Kondisi ekonomi saat ini sedang tidak stabil dan penuh ketidakpastian," ujarnya, Rabu (26/1/2025).
1. Investasi jangka pendek terhadap emas lebih baik ditunda sementara

Dia menilai, tren kenaikan harga emas tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi sekarang yang belum sepenuhnya stabil. Hal tersebut katanya, memicu harga emas terus merangkak naik karena investor cenderung beralih ke aset lebih aman.
Menurutnya, dampak paling cepat terasa di Palembang adalah melemahnya daya beli masyarakat. Warga yang sebelumnya rutin membeli emas kini lebih berhati-hati dan cenderung mengalihkan pengeluaran ke kebutuhan pokok.
"Pembelian emas untuk kebutuhan jangka pendek banyak yang ditunda sambil menunggu harga lebih stabil," kata Rahayu.
2. Investasi emas salah satu bentuk menjaga aset kekayaan

Perubahan perilaku terhadap daya beli emas, jelasnya, turut dirasakan pelaku usaha. Meski secara umum, minat masyarakat untuk investasi emas belum sepenuhnya hilang. Tetapi kata Rahayu, transaksi emas kini melambat di sebagian orang.
"Banyak calon pembeli datang hanya untuk memantau harga tanpa langsung bertransaksi. Jika kondisi ini berlangsung lama, perputaran uang di sektor perdagangan emas dan perhiasan berpotensi ikut melambat," kata dia.
Sementara, lanjut Rahayu, harga emas yang terus naik juga mendorong pergeseran cara pandang masyarakat. Emas makin diposisikan sebagai instrumen investasi jangka panjang, bukan lagi sekadar barang konsumsi atau simbol sosial.
"Sebagian warga memilih menahan emas yang dimiliki atau membeli dalam jumlah terbatas sebagai bentuk perlindungan kekayaan," jelasnya.
3. Kenaikan harga emas picu perlambatan ekonomi

Dia melanjutkan, dalam situasi seperti sekarang, pergerakan harga emas menempatkan ekonomi Palembang pada posisi yang dilematis. Di satu sisi, emas menjadi pilihan aman di tengah ketidakpastian. Namun di sisi lain, harga yang terlalu tinggi berpotensi menahan konsumsi.
"Karena harga tinggi memicu perlambatan perputaran ekonomi lokal yang selama ini banyak bergantung pada belanja rumah tangga," kata dia.
Lebih lanjut jelas Rahayu, apabila tren harga emas tetap bertahan di level tinggi sepanjang 2026, dia menilai masyarakat perlu lebih cermat dalam mengatur keuangan. Pembelian emas sebaiknya disesuaikan dengan tujuan dan kemampuan finansial agar tidak justru menekan kondisi ekonomi rumah tangga.
"Lonjakan harga emas bukan sekadar soal mahalnya perhiasan, melainkan sinyal penting tentang arah ekonomi daerah di tengah tekanan global," kata dia.


















