Pemain Sriwijaya FC Rendy Juliansyah pamit undur diri (Dok. Kolase/Instagram pribadi Rendy Juliansyah)
Masa sulit Sriwijaya FC makin jadi polemik. Keseriusan ancaman gagal finansial tim kian terasa pada tahun 2023–2026. Apalagi ketika SFC menjalani kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026.
Sejak kompetisi berjalan, performa SFC sangat buruk, bahkan klub belum pernah menang. Kondisi ini menunjukkan klub berada dalam keterpurukan kompetitif, hingga berujung pada tim turun ke Liga 3 pada akhir Februari 2026.
Masalah keuangan Sriwijaya FC dimulai sejak tim tidak memiliki sponsor. Sejak 31 Desember 2025, dukungan dana dari sponsor utama mereka, PT Digi Sport Asia, melalui pemilik saham terbesar, Alexander Rusli, berhenti total.
Akibatnya, klub ini tidak lagi memiliki sponsor atau investor tetap, yang membuat operasional sehari-hari sangat berat. Tanpa pemasukan tetap, manajemen hanya dapat menjalankan klub melalui dana patungan internal, bukan dukungan profesional atau finansial kuat yang biasanya dibutuhkan klub profesional. Bahkan, Pemprov Sumsel pun tidak ada dorongan untuk membantu tim mendapatkan sponsor utama.
Tak hanya masalah keuangan, masalah internal juga makin buruk. Selain masalah dana, kondisi internal klub menunjukkan gejala tidak ideal. Sebelum degradasi, Sriwijaya FC tidak memiliki pelatih kiper profesional dalam staf pelatih. Padahal hal tersebut penting di level kompetisi profesional.
Sriwijaya FC akhirnya minim persiapan dan rendah dukungan teknis. Para pemain tidak mendapat persiapan intensif yang layak, kekurangan pelatihan mengakibatkan performa tim melemah.
Pada awal 2026, Pelatih kepala Budi Sudarsono bahkan memilih kembali ke Jakarta karena ketidakjelasan operasional dan masa depan klub. Ini, menunjukkan lemahnya struktur kepelatihan dan manajemen. Kemudian, akibat dana terhenti dan ada keterlambatan pembayaran gaji serta ketidakpastian kompensasi, moral pelatih dan pemain menurun. Akhirnya, pemain utama pun hengkang.