Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sriwijaya FC Tinggal Nama: Pernah Jaya, Kini Degradasi ke Liga 3

Sriwijaya FC Tinggal Nama: Pernah Jaya, Kini Degradasi ke Liga 3
Sriwijaya FC vs Sumsel United (Media Officer)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
  • Sriwijaya FC resmi terdegradasi ke Liga 3 usai kalah 0-3 dari Sumsel United di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, menandai berakhirnya era kejayaan klub legendaris asal Palembang itu.
  • Klub yang berdiri sejak 2004 ini pernah berjaya dengan gelar Double Winner tahun 2007 dan juara ISL 2012, serta tampil di ajang internasional seperti AFC Cup pada periode 2008–2011.
  • Krisis finansial berkepanjangan, hilangnya sponsor utama, dan lemahnya manajemen internal membuat performa Sriwijaya FC terus merosot hingga akhirnya tak mampu bertahan di kompetisi profesional.
  • Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
    Is this "Intinya Sih" helpful?

Palembang, IDN Times - Klub legendaris Sriwijaya FC (SFC) tinggal kenangan. Nama besar Laskar Wong Kito terhenti usai Skuad Elang Andalas menyerah dan terdegradasi liga 3 Nusantara. Masa jayanya tim asal Sumatra Selatan tersebut kini hanya menjadi sejarah.

Sriwijaya FC terpaksa turun kasta usai kalah dari laga derby se-kota kontra Sumsel United pada Sabtu (28/2/2026) malam di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) Palembang.

Pada pertandingan Pegadaian Championship 2025/2026 pekan ke-21, skuad Elang Andalas tumbang di lapangan hijau. Kekalahan dengan skor 0-3 membuat SFC tampak tak berdaya di hadapan kulit bundar. Kejayaan Sriwijaya FC tinggal cerita.

1. Sriwijaya FC tak mampu bertahan di Liga 2

Uji coba Nusantara Lampung FC vs Sriwijaya FC di Stadion Pahoman
Uji coba Nusantara Lampung FC vs Sriwijaya FC di Stadion Pahoman. (IDN Times/Muhaimin)

Meski masih harus menjalani laga sisa di musim ini, 6 pertandingan yang akan dilakoni Sriwijaya FC tak akan mampu mengangkat posisi Elang Andalas dalam posisi aman, walaupun klub memenangkan seluruh pertemuan lanjutan.

Posisi Sriwijaya FC yang terdegradasi ke Liga 3, bukan tanpa alasan. Lika-liku masalah dan polemik dalam tubuh Laskar Wong Kito telah berlangsung menahun. Sejak awal SFC berada di Liga 2, sejumlah persoalan tak kunjung selesai dan bahkan menumpuk.

Padahal, dilihat dari usia klub, tahun 2026 Sriwijaya FC memasuki usia 22 tahun. Umur tersebut, jika dilihat dalam dunia bola, seharusnya mampu berdiri kuat dalam kondisi finansial stabil dan keadaan matang secara struktural manajemen.

Tetapi takdir berkata lain. Segala usaha dan doa tak mampu menyelamatkan Sriwijaya FC dari mimpi buruk turun kasta. Liga Nusantara akhirnya menjemput tim.

Apa pun kondisinya, Sriwijaya FC pernah mengangkat kebesaran Sumsel. Sebab hingga kini belum ada tim yang bisa menyamai prestasi double winner, mengangkat Piala Liga dan Copa Indonesia selain Sang Elang Andalas di Indonesia.

2. Memori Era Kejayaan Sriwijaya FC

Ilustrasi permain Sriwijaya FC di Liga 2 Indonesia.
Ilustrasi permain Sriwijaya FC di Liga 2 Indonesia (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Rekam sejarah mencatat masa jayanya sejak SFC lahir pada 23 Oktober 2004. Tim ini menunjukkan tren positif hingga tahun 2018. Semula, Sriwijaya FC adalah hasil akuisisi Persijatim Solo FC oleh Pemerintah Provinsi Sumsel pada masa Gubernur Syahrial Oesman. Tujuan utamanya adalah memiliki klub sepak bola profesional yang menjadi kebanggaan dan identitas masyarakat Sumsel.

Sedari awal, klub dibangun untuk langsung berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, didukung dengan fondasi manajerial dan struktur tim yang kuat meskipun prestasi besar belum langsung diraih.

Kemudian, kejayaan Sriwijaya FC mulai terlihat pada 2007 ketika mereka menjadi Double Winner (menang di Divisi Utama Liga Indonesia dan Copa Indonesia dalam satu musim). Keberhasilan ini terjadi di masa pelatih Rahmad Darmawan dan membuat klub disegani di Indonesia.

Prestasi klub makin konsisten dengan partisipasi Sriwijaya FC di kompetisi internasional seperti AFC Cup pada periode 2008–2011. Tahun itu, kejayaan SFC kian populer pada masa kepemimpinan Gubernur Sumsel Alex Noerdin. Saat ini beliau telah tutup usia pada 25 Februari 2026. Pada momen tersebut, SFC yang banyak berlaga secara internasional makin memperkuat reputasi Elang Andalas yang tenar dan memiliki pengalaman di Asia.

Selanjutnya, pada tahun 2012, Sriwijaya FC kembali meraih gelar di Indonesia Super League (ISL). Klub Laskar Juari pada masa itu diperkuat oleh pemain-pemain bintang, meliputi Keith Jerome Gumbs (Kayamba), Firman Utina, dan Ferry Rotinsulu. Kehadiran para pemain menjadikan periode ini sebagai masa paling gemilang klub.

3. Sriwijaya FC mulai mengalami gejolak prestasi dan finansial

Sumsel United vs Sriwijaya FC
Sumsel United vs Sriwijaya FC (Dok. Media Officer)

Momen Sriwijaya FC menunjukkan penurunan prestasi mulai terlihat pada 2015-2018. Puncaknya, tahun 2019 Sriwijaya FC terpaksan turun kasta Liga 2. Sriwijaya FC mengalami gejolak di internal klub yang berkaitan dengan masalah finansial dan manajerial. Pergantian pelatih serta banyak pemain keluar masuk memengaruhi stabilitas tim selama tahun-tahun tantangan.

Usai Sriwijaya FC terdegradasi ke Liga 2, klub ini tampil dengan titik nadir terendah. Apalagi sebelum degradasi ke kasta kedua, klub ini dikenal sebagai salah satu raksasa sepak bola Indonesia.

Sejak degradasi, klub berupaya keras untuk kembali promosi ke Liga 1 tetapi belum berhasil, sehingga fokus realistisnya bertahan di Liga 2, hingga akhirnya harus ke Liga Nusantara usai klub tak mampu memperbaiki struktur internal.

Secara garis besar berikut perjalanan Sriwijaya FC sejak 2004-2026:

  • 2004: Klub lahir dari akuisisi Persijatim Solo FC.
  • 2007: Mencetak prestasi Double Winner
  • 2008–2012: Dominasi lokal + penampilan di AFC Cup dan juara ISL.
  • 2013–2018: Krisis internal dan turunnya performa
  • 2019-2025: Degradasi ke Liga 2 dan perjuangan kebangkitan
  • 2026: Sriwijaya FC turun kasta Liga 2 Nusantara

4. Krisis finansial Sriwijaya FC yang berlangsung menahun

Rendy Juliansyah
Pemain Sriwijaya FC Rendy Juliansyah pamit undur diri (Dok. Kolase/Instagram pribadi Rendy Juliansyah)

Masa sulit Sriwijaya FC makin jadi polemik. Keseriusan ancaman gagal finansial tim kian terasa pada tahun 2023–2026. Apalagi ketika SFC menjalani kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026.

Sejak kompetisi berjalan, performa SFC sangat buruk, bahkan klub belum pernah menang. Kondisi ini menunjukkan klub berada dalam keterpurukan kompetitif, hingga berujung pada tim turun ke Liga 3 pada akhir Februari 2026.

Masalah keuangan Sriwijaya FC dimulai sejak tim tidak memiliki sponsor. Sejak 31 Desember 2025, dukungan dana dari sponsor utama mereka, PT Digi Sport Asia, melalui pemilik saham terbesar, Alexander Rusli, berhenti total.

Akibatnya, klub ini tidak lagi memiliki sponsor atau investor tetap, yang membuat operasional sehari-hari sangat berat. Tanpa pemasukan tetap, manajemen hanya dapat menjalankan klub melalui dana patungan internal, bukan dukungan profesional atau finansial kuat yang biasanya dibutuhkan klub profesional. Bahkan, Pemprov Sumsel pun tidak ada dorongan untuk membantu tim mendapatkan sponsor utama.

Tak hanya masalah keuangan, masalah internal juga makin buruk. Selain masalah dana, kondisi internal klub menunjukkan gejala tidak ideal. Sebelum degradasi, Sriwijaya FC tidak memiliki pelatih kiper profesional dalam staf pelatih. Padahal hal tersebut penting di level kompetisi profesional.

Sriwijaya FC akhirnya minim persiapan dan rendah dukungan teknis. Para pemain tidak mendapat persiapan intensif yang layak, kekurangan pelatihan mengakibatkan performa tim melemah.

Pada awal 2026, Pelatih kepala Budi Sudarsono bahkan memilih kembali ke Jakarta karena ketidakjelasan operasional dan masa depan klub. Ini, menunjukkan lemahnya struktur kepelatihan dan manajemen. Kemudian, akibat dana terhenti dan ada keterlambatan pembayaran gaji serta ketidakpastian kompensasi, moral pelatih dan pemain menurun. Akhirnya, pemain utama pun hengkang.

5. Penyebab Sriwijaya FC degradasi Liga 3

Klub Laskar Wong Kito kembali alami kekalahan saat bertandang menghadapi FC Bekasi City di Stadion Patriot Bekasi
Klub Laskar Wong Kito kembali alami kekalahan saat bertandang menghadapi FC Bekasi City di Stadion Patriot Bekasi (Dok: MO Sriwijaya FC)

Keburukan finansial menjadi hal utama prestasi Sriwijaya FC merosot. Dari kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026, tim memang belum pernah memenangkan laga. Laskar Wong Kito jari juru kunci klasemen bawah di wilayah barat. Hingga pekan ke-21, nama besar SFC pun runtuh di tangan klub sesama Sumsel, Sumsel United.

Pada pertandingan yang berlangsung 28 Februari 2026 di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) Palembang pukul 20:30 WIB, kemenangan Sumsel United memang sudah terlihat sejak menit-menit awal.

Ketika pertandingan baru berjalan 5 menit, pemain Sumsel United, Oktovianus Kapisa, mencetak gol usai mendapat umpan Diego Dall'Oca. Hanya berselang 17 menit, Laskar Juaro menggandakan keunggulan lewat Juninho Cabral usai menerima umpan Rachmad Hidayat pada menit ke-22.

Hingga turun minum, skor 2-0 tak berubah. Memasuki babak kedua, Sumsel United tak mengendorkan permainan. Namun Azis Hutagalung berhasil menambah keunggulan Laskar Juaro lewat sundulannya, usai menerima umpan sepak pojok dari Dall'Oca menit ke 64

Dalam pertandingan itu, dua gol yang terjadi sempat dianulir wasit. Pertama, oleh Azis Hutagalung karena kedapatan offside lebih dulu usai dicek melalui VAR. Kedua adalah gol milik Sriwijaya FC yang juga offside usai dicek melalui VAR.

Hasil tak berubah, skor tetap 3-0 bagi kemenangan Sumsel United. Hasil ini membuat poin Sumsel United bertambah menjadi 37 dan tetap di peringkat 3 klasemen sementara grup 1 wilayah barat. Sedangkan skor tersebut membawa Sriwijaya FC mengucapkan selamat tinggal dari Liga 2.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hafidz Trijatnika
EditorHafidz Trijatnika
Follow Us

Latest Sport Sumatera Selatan

See More