Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenang Masa Jaya Sriwijaya FC, Kini di Kasta Terendah Sepak Bola Indonesia
Pemain Sriwijaya FC (dok. Media officer untuk IDN Times)
  • Sriwijaya FC, klub kebanggaan Sumsel yang berdiri tahun 2004, pernah berjaya dengan gelar Double Winner 2007 dan menjuarai Indonesia Super League 2012.
  • Sejak 2015 performa Sriwijaya FC menurun akibat konflik internal, krisis finansial, dan lemahnya manajemen hingga akhirnya terdegradasi ke Liga 3 pada Februari 2026.
  • Meski kini terpuruk di dasar klasemen tanpa kemenangan, Sriwijaya FC masih menyisakan empat laga musim ini dan tetap dikenang sebagai klub legendaris dengan sejarah gemilang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
23 Oktober 2004

Sriwijaya FC resmi berdiri setelah Pemerintah Provinsi Sumsel mengakuisisi Persijatim Solo FC di masa Gubernur Syahrial Oesman.

2007

Di bawah pelatih Rahmad Darmawan, Sriwijaya FC meraih gelar Double Winner dengan menjuarai Divisi Utama Liga Indonesia dan Copa Indonesia.

2008 hingga 2011

Sriwijaya FC berpartisipasi di AFC Cup dan tampil sebagai wakil Indonesia di level Asia saat Alex Noerdin menjabat Gubernur Sumsel.

2012

Sriwijaya FC kembali berjaya dengan menjuarai Indonesia Super League (ISL) bersama pemain bintang seperti Keith Gumbs dan Firman Utina.

2015-2018

Performa klub menurun akibat konflik internal, masalah finansial, dan lemahnya manajemen.

2019

Sriwijaya FC terdegradasi ke Liga 2 setelah gagal mempertahankan performa di kompetisi tertinggi.

2023

Klub mengalami kesulitan finansial karena minimnya sponsor yang memperburuk kondisi tim.

31 Desember 2025

Dukungan utama bagi Sriwijaya FC dihentikan sehingga operasional klub terganggu berat.

awal 2026

Pelatih Budi Sudarsono mundur dan sejumlah pemain hengkang akibat keterlambatan gaji serta ketidakjelasan masa depan klub.

25 Februari 2026

Alex Noerdin, tokoh penting dalam sejarah kejayaan Sriwijaya FC, meninggal dunia.

28 Februari 2026

Sriwijaya FC kalah dari Sumsel United dan dipastikan terdegradasi ke Liga 3 setelah kekalahan Derby Sumsel di Palembang.

1 Maret 2026

Sriwijaya FC genap berusia 22 tahun dalam suasana duka karena baru saja turun kasta ke Liga 3.

12 April 2026

Sriwijaya FC dijadwalkan bertandang ke markas Persekat Tegal untuk mencoba memutus tren negatif musim ini.

19 April 2026

Tim akan menghadapi PSMS Medan di Stadion Utama Sumatra Utara dalam laga tandang berat berikutnya.

25 April 2026

Sriwijaya FC menjamu Garudayaksa FC di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring sebagai laga kandang penting bagi suporter setia.

Mei 2026

(Jadwal belum ditentukan) Sriwijaya FC akan menutup musim dengan laga tandang melawan Adhyaksa FC Banten di Banten International Stadium.

Dalam musim Pegadaian Championship 2025/2026, Sriwijaya FC hanya meraih dua poin dari 23 pertandingan dan dipastikan tidak lolos dari degradasi.

kini

Sriwijaya FC resmi berada di Liga 3 dengan empat laga sisa musim ini, mencoba mencari kemenangan pertama meski berada pada masa sulit dalam sejarah klub.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Sriwijaya FC resmi terdegradasi ke Liga 3 Indonesia setelah kekalahan 0-3 dari Sumsel United, menandai berakhirnya masa kejayaan klub legendaris asal Sumatra Selatan tersebut.
  • Who?
    Klub sepak bola Sriwijaya FC, termasuk pelatih Iwan Setiawan dan para pemain yang masih bertahan, serta sebelumnya dipimpin oleh pelatih Budi Sudarsono yang telah mengundurkan diri.
  • Where?
    Pertandingan penentu degradasi berlangsung di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) Palembang, Sumatra Selatan. Laga-laga berikut dijadwalkan di Tegal, Medan, Palembang, dan Banten.
  • When?
    Kekalahan penentu terjadi pada 28 Februari 2026. Klub merayakan ulang tahun ke-22 pada 1 Maret 2026 dan dijadwalkan melanjutkan empat laga sisa hingga Mei 2026.
  • Why?
    Penurunan performa disebabkan masalah finansial berkepanjangan, minimnya sponsor sejak 2023, konflik internal manajemen, serta mundurnya pelatih dan hengkangnya sejumlah pemain utama.
  • How?
    Krisis dimulai dari keterlambatan gaji dan hilangnya dukungan sponsor hingga operasional terganggu. Kekalahan beruntun membuat tim hanya
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dulu Sriwijaya FC itu tim bola yang hebat sekali dan sering juara. Tapi sekarang mereka kalah terus dan turun ke Liga 3, yang paling bawah. Banyak pemain pergi karena gajinya telat, pelatih juga mundur. Sekarang mereka cuma punya sisa empat pertandingan lagi. Orang-orang masih berharap timnya bisa menang lagi walau susah sekali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah keterpurukan Sriwijaya FC yang kini berlaga di Liga 3, artikel ini menampilkan sisi keteguhan identitas klub legendaris Sumatra Selatan. Meski hasil musim ini belum memuaskan, keberadaan empat laga tersisa dan dukungan suporter menunjukkan bahwa semangat Laskar Wong Kito masih hidup, berakar pada sejarah kejayaan dan kebanggaan masa lalu yang tetap dikenang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Pernah jadi raja di tahta tertinggi sepak bola Indonesia, kini klub legendaris Sumatra Selatan, Sriwijaya FC (SFC) tinggal cerita. Tim dengan sejuta prestasi pada masa jayanya terpaksa turun kasta ke Liga 3 pada musim ini.

Nama besar Laskar Wong Kito akhirnya runtuh. Klub berjuluk Elang Andalas terpaksa meninggalkan masa jaya usai takluk 0-3 dari Sumsel United dalam Derby Sumsel di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) Palembang 28 Februari 2026 lalu.

Kekalahan itu memastikan tim berada di kasta terendah sepak bola Tanah Air. Sebelum performa mereka merosot, SFC tenar sebagai pemilik gelar Double Winner saat dipimpin oleh pelatih Rahmad Darmawan pada 2007 lalu.

1. Sriwijaya FC kehilangan sosok di balik masa kejayaan pada Februari 2026

Sriwijaya FC kontra Persikad (Dok. Media Officer)

Berdasarkan sejarah panjang, Sriwijaya FC lahir pada 23 Oktober 2004 saat Pemerintah Provinsi Sumsel dipimpin Gubernur Syahrial Oesman. Kala itu, beliau membantu mengakuisisi tim dari Persijatim Solo FC yang beralih jadi Sriwijaya FC.

Dari langkah itu, berdirilah klub yang kemudian menjelma menjadi simbol kebanggaan masyarakat Sumsel. Seiring perjalanan klub, Laskar Wong Kito meraih puncak kejayaan pada tahun 2007. SFC mencatat sejarah sebagai Double Winner.

Klub sukses menjuarai Divisi Utama Liga Indonesia dan Copa Indonesia sekaligus. Prestasi tersebut berhasil mengangkat derajat klub sebagai kekuatan baru di sepak bola nasional.

Kejayaan tim berlanjut, pada tahun 2008 hingga 2011, Sriwijaya berkesempatan berlaga di level Asia dalam partisipasi klub di AFC Cup. Ketika itu, Sumsel dipimpin oleh Gubernur Alex Noerdin yang saat ini telah tutup usia pada 25 Februari 2026.

2. Perayaan ulang tahun Sriwijaya FC di 2026 diselimuti kabar turun kasta Liga 3

Sriwijaya FC kontra Persikad (Dok. Media Officer)

Usai terlibat dalam even Asia, nama Sriwijaya FC makin dikenal luas sebagai tim elit Indonesia. Pada 2012, kejayaan pun kembali terulang. Klub ini memiliki pemain bintang seperti Keith Gumbs, Firman Utina, dan Ferry Rotinsulu. Tahun itu, SFC sukses menjadi juara Indonesia Super League (ISL).

Namun, pada medio 2015–2018, performa klub mulai menurun. Konflik internal, masalah finansial, dan lemahnya manajemen perlahan menggerus kekuatan tim. Hingga akhirnya pada 2019, SFC harus menerima kenyataan pahit: degradasi ke Liga 2.

Sepanjang tahun itu, alih-alih bangkit, krisis klub justru kian dalam. Sejak 2023, Sriwijaya FC dilanda kesulitan finansial akibat minimnya sponsor. Puncaknya terjadi pada 31 Desember 2025, saat dukungan utama dihentikan dan operasional klub terganggu berat.

Pada awal 2026, situasi makin memburuk. Pelatih Sriwijaya FC, Budi Sudarsono, memilih mundur karena ketidakjelasan masa depan tim, diikuti para pemain yang hengkang akibat keterlambatan gaji.

Di tengah kondisi itu, kabar duka datang pada 25 Februari 2026 dengan wafatnya Alex Noerdin, sosok penting di balik masa kejayaan Sriwijaya FC. Tiga hari kemudian, pada 28 Februari 2026, SFC pasrah terdegradasi ke Liga 3.

Ironisnya, pada 1 Maret 2026, klub ini genap berusia 22 tahun. Perayaan Sriwijaya FC, bukan dikenang dengan kejayaan, melainkan kenyataan pahit turun kasta terendah sepak bola Indonesia.

3. Sriwijaya FC akan menghadapi Persekat di laga terdekat

Persiraja Banda Aceh melawan Sriwijaya FC. (Dokumentasi Media Office Persiraja Banda Aceh untuk IDN Times)

Sekarang? Sriwijaya FC resmi berada di Liga 3. Klub yang dahulu disegani hanya menyisakan kenangan tentang masa kejayaan. Namun, perjalanan musim ini belum sepenuhnya berakhir.

Berdasarkan jadwal, Laskar Wong Kito masih harus menjalani empat laga penutup yang menantang. Pertanyaannya, mampukah Elang Andalas memberikan setidaknya satu kemenangan di sisa musim?

Pada 12 April 2026, Sriwijaya FC dijadwalkan bertandang ke markas Persekat Tegal di Stadion Trisanja. Laga ini menjadi peluang awal untuk memutus tren negatif yang membayangi sejak awal musim. Di bawah arahan pelatih Iwan Setiawan, harapan itu tetap ada, asal tim mampu menunjukkan kekompakan dan performa terbaik.

Tantangan berikutnya berlangsung pada 19 April 2026. Sriwijaya FC akan menjalani laga tandang menghadapi PSMS Medan di Stadion Utama Sumatra Utara. Pertandingan ini diprediksi berat, mengingat kekuatan PSMS dikenal solid.

4. Sriwijaya FC baru koleksi 2 poin dari Pegadaian Championship 2025/2026

Persiraja Banda Aceh melawan Sriwijaya FC. (Dokumentasi Media Office Persiraja Banda Aceh untuk IDN Times)

Selanjutnya, pada 25 April 2026, Sriwijaya FC bakal kembali ke Palembang untuk menjamu Garudayaksa FC di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) Palembang. Laga kandang ini menjadi momen penting untuk memberikan sedikit kebanggaan bagi suporter setia yang tetap mendukung di tengah keterpurukan.

Lalu pada penutup musim, Sriwijaya FC akan bertandang ke markas Adhyaksa FC, sang pemuncak klasemen, di Banten International Stadium pada Mei 2026. Meski jadwal pasti belum ditentukan, laga ini akan menjadi akhir perjalanan panjang penuh ujian.

Sementara, dari sisi performa, kondisi SFC memprihatinkan. Dari 23 pertandingan yang dijalani, mereka belum meraih kemenangan. Hanya dua hasil imbang yang mampu dikumpulkan dan sisanya berakhir dengan kekalahan.

Sriwijaya FC hanya mampu meraih 2 poin di Pegadaian Championship 2025/2026. Mereka terpuruk di dasar klasemen Grup 1 Wilayah Barat dan dipastikan tak dapat selamat dari degradasi.

Namun, apa pun hasil SFC nanti dari empat laga sisa, tim ini tetaplah klub legendaris Sumsel. Mereka pernah mencatat sejarah sebagai tim pertama dan satu-satunya yang meraih Double Winner di Indonesia. Prestasi dan pencapaian yang akan selalu diingat para pendukungnya, walau menghadapi masa tersulit sekalipun.

Editorial Team