Sriwijaya FC kontra Persikad (Dok. Media Officer)
Usai terlibat dalam even Asia, nama Sriwijaya FC makin dikenal luas sebagai tim elit Indonesia. Pada 2012, kejayaan pun kembali terulang. Klub ini memiliki pemain bintang seperti Keith Gumbs, Firman Utina, dan Ferry Rotinsulu. Tahun itu, SFC sukses menjadi juara Indonesia Super League (ISL).
Namun, pada medio 2015–2018, performa klub mulai menurun. Konflik internal, masalah finansial, dan lemahnya manajemen perlahan menggerus kekuatan tim. Hingga akhirnya pada 2019, SFC harus menerima kenyataan pahit: degradasi ke Liga 2.
Sepanjang tahun itu, alih-alih bangkit, krisis klub justru kian dalam. Sejak 2023, Sriwijaya FC dilanda kesulitan finansial akibat minimnya sponsor. Puncaknya terjadi pada 31 Desember 2025, saat dukungan utama dihentikan dan operasional klub terganggu berat.
Pada awal 2026, situasi makin memburuk. Pelatih Sriwijaya FC, Budi Sudarsono, memilih mundur karena ketidakjelasan masa depan tim, diikuti para pemain yang hengkang akibat keterlambatan gaji.
Di tengah kondisi itu, kabar duka datang pada 25 Februari 2026 dengan wafatnya Alex Noerdin, sosok penting di balik masa kejayaan Sriwijaya FC. Tiga hari kemudian, pada 28 Februari 2026, SFC pasrah terdegradasi ke Liga 3.
Ironisnya, pada 1 Maret 2026, klub ini genap berusia 22 tahun. Perayaan Sriwijaya FC, bukan dikenang dengan kejayaan, melainkan kenyataan pahit turun kasta terendah sepak bola Indonesia.