Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sumsel Makin Kering, Hari ini Titik Panas Karhutla Tembus 600 Hotspot
Ilustrasi karhutla di Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)

  • Jumlah hotspot di Sumatra Selatan mencapai 600 titik di 15 kabupaten dan kota, naik dari 449 titik, seiring kemarau kering akibat El Nino sangat kuat.
  • BPBD menegaskan hotspot adalah indikasi panas pada lahan kering dan tidak selalu berarti titik api atau kebakaran yang benar-benar terjadi.
  • BPBD menjalankan operasi modifikasi cuaca selama lima hari, didukung helikopter water bombing dan patroli, serta mengimbau warga tidak membuka lahan dengan api.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan (Sumsel) semakin meningkat seiring kondisi kemarau yang kian kering. Jumlah titik panas atau hotspot di Sumsel kini mencapai 600 titik di 15 kabupaten dan kota per hari ini.

Angka tersebut meningkat dibanding pantauan sebelumnya yang tercatat 449 hotspot. Kondisi ini menjadi perhatian karena lahan semakin kering dan mudah mengalami peningkatan suhu serta risiko kebakaran.

"Analisisnya yang pertama karena pengaruh cuaca. Ini kan El Nino kita sudah masuk di fase level sangat kuat, jadi otomatis kekeringan," ungkap Kepala BPBD Sumsel Muhammad Iqbal Alisyahbana, Sabtu (22/8/2026).

1. Titik panas tak sama dengan titik api

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

Iqbal menjelaskan, peningkatan titik panas tidak bisa disamakan dengan fire spot atau titik api. Menurutnya, titik panas merupakan indikasi adanya panas yang terdeteksi melalui pemantauan, sedangkan titik api menunjukkan lokasi yang benar-benar mengalami kebakaran.

"Hotspot itu akan terjadi ketika daerah itu yang pertama kering, lalu jadi panas. Namun, titik hotspot belum tentu fire spot," jelasnya.

2. Operasi modifikasi cuaca dilakukan lagi

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

Menghadapi kondisi tersebut, mulai hari ini BPBD Sumsel mendapatkan dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi tersebut berlangsung selama lima hari untuk memaksimalkan potensi hujan di tengah kondisi kemarau.

Iqbal mengatakan, OMC dilakukan dengan menyemai awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan. Tidak hanya pada siang hari, penyemaian juga dilakukan pada malam hari apabila terdapat potensi awan yang mendukung.

"Kita hari ini dapat OMC lagi karena kita sampaikan ada potensi awan hujan. Jadi kita hari ini ada ini, sambil menunggu seberapa besar awan hujan itu untuk bisa disemai," jelasnya.

Perluasan waktu pelaksanaan OMC dilakukan untuk meningkatkan peluang terbentuknya hujan. Upaya tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah menghadapi kondisi Sumsel yang semakin kering.

Selain OMC, penanganan karhutla tetap dilakukan melalui operasi darat dan udara. BPBD Sumsel saat ini mengoperasikan enam helikopter water bombing dan dua helikopter patroli.

"Mulai hari ini kalau bisa siang, siang. Kalau bisa malam, malam, yang mana ada potensi awan akan dilakukan OMC," katanya.

3. Masyarakat diminta tingkatkan kewaspadaan

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

BPBD juga memperkuat upaya pencegahan melalui satgas penegakan hukum dan sosialisasi kepada masyarakat. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak menggunakan api untuk membuka lahan.

"Dengan hotspot yang terus meningkat, BPBD meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah yang rawan karhutla," ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article