Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Padi Apung Disebut jadi Inovasi Baru Penguatan Pangan Sumsel
ilustrasi lahan pertanian (freepik.com/pvp
  • Sumatra Selatan mengembangkan program Padi Apung sebagai inovasi pertanian di atas air untuk mengoptimalkan lahan rawa tergenang dan memperkuat pangan daerah.
  • Program yang telah berjalan dua tahun ini didukung Bank Indonesia melalui media tanam apung, lalu dikembangkan di Kawasan Potensial Jakabaring.
  • Optimalisasi rawa lebak lewat cetak sawah dan Padi Apung ditargetkan mengurangi risiko karhutla serta menjaga produktivitas pangan saat kekeringan atau El Nino.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Program Padi Apung dikembangkan sebagai inovasi pertanian di atas air untuk mengoptimalkan lahan rawa tergenang dan memperkuat pangan di Sumatra Selatan.
  • Who?
    Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel, dipimpin Bambang Pramono, mengembangkan program dengan dukungan Bank Indonesia.
  • Where?
    Pengembangan Padi Apung berlangsung di Kawasan Potensial Jakabaring, Palembang, Sumatra Selatan.
  • When?
    Program telah berjalan selama dua tahun. Bambang Pramono menyampaikan perkembangan tersebut pada Minggu, 20 September 2026.
  • Why?
    Program ditujukan memanfaatkan rawa lebak sebagai lahan produktif, mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan, serta meningkatkan ketahanan pangan wilayah rawa.
  • How?
    Padi ditanam menggunakan media tanam apung dari Bank Indonesia, bersamaan dengan upaya cetak sawah konvensional pada lahan rawa lebak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sumatra Selatan sedang membuat padi apung di atas air rawa. Pak Bambang dari dinas pertanian bilang program ini sudah berjalan dua tahun. Bank Indonesia membantu memberi tempat tanam yang bisa mengapung. Sekarang padi apung sedang dikembangkan di Jakabaring supaya rawa bisa jadi tempat menanam padi dan membantu makanan tetap ada.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pengembangan Padi Apung menunjukkan upaya Sumatra Selatan memanfaatkan karakter lahan rawa sebagai kekuatan pertanian. Dengan dukungan media tanam dan pengembangan di Jakabaring, inovasi ini membuka ruang produktivitas pada area tergenang, sekaligus melengkapi pencetakan sawah konvensional dan membantu menjaga ketersediaan pangan saat kondisi kekeringan mengganggu lahan irigasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Sumatra Selatan berupaya mengoptimalkan lahan potensial dalam langkah penguatan pangan daerah. Salah satu program yang sedang dikembangkan adalah Padi Apung. Program tersebut diyakini menjadi lambang keberhasilan pertanian sekaligus inovasi baru dalam pengembangan lahan rawa tergenang.

"Selain pencetakan sawah konvensional, saat ini dinas pertanian juga mengembangkan inovasi pertanian di atas air lewat padi apung," ujar Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono, Minggu (20/9/2026).

1. Lokasi padi apung berada di area Jakabaring

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Diketahui program Padi Apung sudah berjalan selama dua tahun dan mendapatkan dukungan dari Bank Indonesia. Dukungan itu berupa media tanam apung yang sudah diterima dan sekarang masuk dalam proses pengembangan di Kawasan Potensial Jakabaring.

“Kita di September 2025 melakukan gebyar perbenihan mengundang seluruh stakeholder terkait dan program yang kita tonjolkan adalah Padi Apung," kata dia.

2. Harap potensi lahan rawa lebak dapat mengatasi kekeringan

Lahan pertanian di Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Menurut Bambang, proses pengembangan Padi Apung di Jakabaring merupakan salah satu bukti nyata pemanfaatan lahan rawa lebak menjadi area pertanian yang produktif dan berkelanjutan.

"Dengan mengoptimalkan lahan rawa lebak, baik melalui cetak sawah maupun inovasi Padi Apung, diharapkan dua masalah bisa diselesaikan sekaligus. Yaitu mengurangi risiko karhutla sekaligus meningkatkan ketahanan pangan di wilayah rawa," jelasnya.

3. Sumsel memiliki 73 persen lahan rawa lebak potensial

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Sebelumnya, Bambang menyampaikan, optimalisasi lahan rawa lebak menjadi salah satu opsi dalam kondisi kekeringan dan karhutla karena area tersebut dapat diandalkan sebagai lahan produktif ketika lahan irigasi teknis mengalami kekeringan atau saat terjadi fenomena El Nino.

Lahan rawa lebak merupakan dataran rendah berbentuk cekungan di pedalaman yang tergenang air secara periodik minimal selama satu bulan dalam setahun. Lahan ini sangat bermanfaat sebagai cadangan lumbung pangan nasional untuk mendukung ketahanan pangan di Indonesia.

Tercatat, Sumsel kini memiliki lebih dari 73 persen lahan rawa dari keseluruhan luasan area produktif tanam.

Curated For You

Editorial Team

Related Article