Operasi OMC di Sumsel Sepekan Terakhir, Ini Penjelasan BMKG

- OMC di Sumatra Selatan selama sepekan belum menghasilkan hujan signifikan karena wilayah tersebut masih berada pada puncak musim kemarau yang membatasi pertumbuhan awan.
- BMKG menyebut OMC tidak menciptakan awan hujan, melainkan menyemai NaCl untuk mengoptimalkan awan alami yang memenuhi kriteria atmosfer dan operasional.
- Awan potensial sempat terpantau di beberapa wilayah, tetapi pergerakan serta kondisi atmosfer membuat hujan di area target dan sekitarnya tetap belum signifikan.
Palembang, IDN Times - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama sepekan di Sumatra Selatan (Sumsel) belum menghasilkan hujan dengan intensitas signifikan. Hal ini dikarenakan wilayah Sumsel masih berada pada puncak musim kemarau yang membuat pertumbuhan awan hujan terbatas.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, menjelaskan OMC pada dasarnya tidak dapat menciptakan awan hujan dari kondisi atmosfer yang tidak mendukung.
"Pelaksanaan OMC diarahkan untuk mengoptimalkan awan potensial hujan yang telah terbentuk secara alami, melalui penyemaian bahan semai berupa NaCl pada awan target yang memenuhi kriteria operasional," jelas Siswanto, Sabtu (29/8/2026).
1. Pertumbuhan awan sulit saat kemarau

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC Menurut Siswanto, keberhasilan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Beberapa faktor yang dibutuhkan antara lain suhu muka laut yang relatif hangat, kelembapan udara yang cukup tinggi pada lapisan bawah hingga menengah, serta kondisi atmosfer yang labil.
Kondisi tersebut diperlukan agar awan konvektif dapat tumbuh dan berkembang hingga memiliki potensi menghasilkan hujan.
"Namun, kondisi Sumsel saat ini berada pada puncak musim kemarau. Situasi tersebut membuat potensi pertumbuhan awan hujan tidak selalu tersedia dalam jumlah dan karakteristik yang ideal untuk dilakukan penyemaian," kata dia.
2. Beberapa titik awan hujan sempat terpantau di Sumsel

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi Siswanto menjelaskan, selama pelaksanaan OMC, pertumbuhan awan potensial hujan terpantau di sejumlah wilayah Sumsel, seperti Banyuasin, Musi Banyuasin, OKI, Ogan Ilir, PALI, dan Muara Enim.
"Pada pelaksanaan hari pertama, pertumbuhan awan potensial hujan terpantau cukup baik di sekitar OKI dan Ogan Ilir," ucapnya.
3. OMC hanya mengoptimalkan awan yang tersedia

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi Awan yang memenuhi kriteria tersebut kemudian menjadi target penyemaian. Namun, pergerakan awan turut menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang berpotensi mendapatkan dampak dari OMC.
Meski sudah dilakukan penyemaian, awan tetap dipengaruhi kondisi atmosfer. Pertumbuhan awan dan proses pembentukan hujan dapat berubah menyesuaikan kondisi atmosfer yang dilaluinya.
"Hujan yang terjadi selama pelaksanaan OMC di wilayah target maupun daerah sekitarnya belum menunjukkan intensitas yang signifikan. Hal tersebut tidak terlepas dari kondisi atmosfer yang masih berada dalam periode puncak musim kemarau," kata dia.
Dari proses tersebut, Siswanto menegaskan OMC bukan metode untuk mendatangkan hujan secara instan. Teknologi ini hanya mengoptimalkan potensi hujan dari awan yang sudah terbentuk.
"OMC dalam hal ini berpotensi memberikan kontribusi dalam mengoptimalkan proses presipitasi pada awan yang telah tersedia dengan harapan mengendalikan dampak kabut asap," jelas Siswanto.

















