Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kualitas Udara Palembang Membaik, BMKG Pantau Penurunan Partikel PM2,5
Kondisi cuaca Palembang saat ini (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Konsentrasi PM2.5 di Talang Betutu dan Musi II turun dari pukul 08.00 hingga 11.00 WIB pada 24 Oktober 2026, meski kualitas udara Palembang tetap perlu dipantau.

  • BMKG menyebut perubahan angin, pencampuran udara, dan lapisan inversi memengaruhi penumpukan atau penyebaran asap; faktor utama perbaikan belum dapat dipastikan tanpa data aktual.

  • Penurunan PM2.5 belum bisa langsung dikaitkan dengan penggunaan dry ice dalam OMC; BMKG mencatat potensi awan masif hingga 28 Oktober serta meminta pemantauan karhutla berlanjut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kualitas udara di Kota Palembang menunjukkan perbaikan pada Sabtu (24/10/2026). Konsentrasi partikel halus PM2.5 di dua stasiun pemantauan mengalami penurunan sejak pagi hingga menjelang siang.

Berdasarkan data Stasiun Talang Betutu, konsentrasi PM2.5 pada pukul 08.00 WIB tercatat sebesar 57,7 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut turun menjadi 57,2 mikrogram per meter kubik pada pukul 09.00 WIB. Penurunan berlanjut pada pukul 10.00 WIB menjadi 51,3 mikrogram per meter kubik dan kembali turun menjadi 39,8 mikrogram per meter kubik pada pukul 11.00 WIB.

Sementara data Stasiun Musi II juga menunjukkan tren serupa. Konsentrasi PM2.5 yang semula mencapai 69,1 mikrogram per meter kubik pada pukul 08.00 WIB, turun menjadi 51,4 mikrogram per meter kubik pada pukul 09.00 WIB.

Pada pukul 10.00 WIB, konsentrasi PM2.5 kembali turun menjadi 39 mikrogram per meter kubik dan mencapai 35,5 mikrogram per meter kubik pada pukul 11.00 WIB.

Penurunan tersebut menunjukkan konsentrasi PM2.5 di kedua lokasi pemantauan berkurang dalam rentang tiga jam. Meski demikian, kondisi kualitas udara perlu terus dipantau karena konsentrasi polutan dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer dan sumber emisi.

1. BMKG sebut kondisi atmosfer turut memengaruhi penyebaran asap

Kondisi kabut asap di Palembang pagi ini (IDN Times/Rangga Erfizal)

Berdasarkan pengamatan radiosonde di BMKG SMB II Palembang pada 24 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, energi pembentukan awan terpantau relatif terbatas. Meski demikian, peluang pertumbuhan awan hujan masih ada.

Siswanto menjelaskan, kondisi atmosfer berperan dalam menentukan apakah asap menumpuk di dekat permukaan atau menyebar ke lapisan udara yang lebih tinggi.

“Data ini menjadi sangat penting karena kondisi dinamika atmosfer, terutama pergerakan angin dan kemampuan udara untuk bergerak naik-turun, turut menentukan apakah konsentrasi asap akan menumpuk di dekat permukaan atau menyebar ke lapisan udara yang lebih tinggi,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberadaan lapisan inversi juga perlu diperhatikan karena dapat menghambat pergerakan udara secara vertikal. “Ketika lapisan ini kuat atau stabil, konsentrasi asap cenderung terperangkap di dekat permukaan sehingga udara terasa lebih pekat dan jarak pandang mendatar lebih pendek, terutama pada malam hingga pagi hari,” katanya.

Sebaliknya, ketika atmosfer mendukung pencampuran udara dan angin membantu penyebaran polutan, konsentrasi asap di dekat permukaan berpotensi berkurang.

“Karena itu, membaiknya kualitas udara hari ini dan jarak pandang mendatar di Kota Palembang dapat berkaitan dengan perubahan kondisi angin dan atmosfer, tetapi perlu didukung data pengamatan aktual untuk memastikan faktor yang paling berpengaruh,” ungkapnya.

2. Efek penggunaan dry ice dalam OMC belum bisa dipastikan

Kondisi kabut asap di Palembang pagi ini (IDN Times/Rangga Erfizal)

Perbaikan kualitas udara Palembang juga terjadi ketika Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara hybrid, termasuk penggunaan dry ice atau es kering berbahan karbon dioksida (CO2), menjadi bagian dari upaya penanganan kondisi atmosfer.

Meski demikian, Siswanto mengingatkan penurunan konsentrasi PM2.5 dan kondisi udara yang terlihat lebih cerah belum cukup untuk memastikan keberhasilan metode tersebut.

“Penyemaian OMC menggunakan bahan dry ice (CO2) ditujukan untuk memengaruhi kondisi atmosfer tertentu, termasuk lapisan inversi, tetapi keberhasilannya tidak dapat dipastikan hanya dari udara yang terlihat lebih jernih atau penurunan PM2.5 dalam satu waktu pengamatan,” jelasnya.

Menurutnya, diperlukan evaluasi dengan membandingkan data sebelum dan sesudah pelaksanaan operasi. “Namun, diperlukan perbandingan data sebelum dan sesudah pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, termasuk kondisi angin, lapisan inversi, dan konsentrasi PM2.5, untuk menilai kontribusinya secara objektif,” katanya.

Penurunan PM2.5 yang terpantau di Stasiun Talang Betutu dan Musi II belum dapat langsung dikaitkan sebagai dampak penggunaan dry ice tanpa analisis lebih lanjut.

3. Potensi pertumbuhan awan hingga 28 Oktober

Kondisi kabut asap di Palembang pagi ini (IDN Times/Rangga Erfizal)

Di tengah perbaikan kualitas udara, BMKG juga mencatat potensi pertumbuhan awan yang masif di Sumatera Selatan pada periode 24–28 Oktober 2026.

Siswanto mengingatkan agar pemantauan kondisi cuaca dan kualitas udara tetap dilakukan, terutama karena penanganan karhutla masih menjadi perhatian.

“Membaiknya udara Palembang merupakan kabar baik yang patut disyukuri, namun kewaspadaan terhadap karhutla dan pemantauan kualitas udara tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article