Ilustrasi buah kelapa sawit sebagai hasil perkebunan rakyat. Gangguan pasokan solar di Sumatra mulai memengaruhi aktivitas pemanenan dan pengangkutan sawit. (dok. Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian/ditjenbun.pertanian.go.id)
Kenaikan harga CPO menjadi penopang harga TBS meski komponen lainnya tidak bergerak seragam. Harga inti sawit justru turun Rp132,35 per kilogram, dari Rp12.830,55 menjadi Rp12.698,20 per kilogram.
Selain itu, indeks K yang menjadi salah satu komponen dalam perhitungan harga TBS juga mengalami penurunan. Angkanya turun dari 93,38 persen pada periode sebelumnya menjadi 92,47 persen atau berkurang 0,91 poin persentase.
"Artinya, pergerakan harga tidak sepenuhnya seragam. Kenaikan CPO menjadi faktor positif, sementara penurunan harga inti sawit dan indeks K menjadi faktor penahan," ujar Rudi.
Meski terdapat penurunan pada harga inti sawit dan indeks K, harga TBS secara keseluruhan tetap menguat. Kondisi ini menunjukkan pergerakan harga TBS tidak hanya ditentukan oleh satu indikator, melainkan merupakan hasil perhitungan dari sejumlah komponen.
Bagi petani, kenaikan harga TBS tentu menjadi kabar baik. Namun, harga yang lebih tinggi belum cukup jika tidak diikuti dengan kualitas buah dan produktivitas kebun yang baik.
Rudi menilai kualitas bahan tanaman menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pekebun, terutama petani swadaya.
"Pesannya jelas, kualitas bahan tanaman dan potensi rendemen bukan persoalan kecil," katanya.