Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Penjualan Pertashop di Sumatra Barat Turun Usai Harga Pertamax Naik
Pertashop (dok. Pertamina)
  • Kenaikan harga Pertamax sejak 10 Juni 2026 membuat penjualan di Pertashop Sumatra Barat anjlok drastis hingga mencapai 50 persen pada hari pertama.
  • Banyak warga beralih dari Pertamax ke Pertalite karena selisih harga yang cukup tinggi, meski harus mengantre di SPBU yang lebih jauh.
  • Pemilik Pertashop khawatir usahanya terancam tutup akibat penurunan penjualan signifikan dan masih menunggu perkembangan dalam beberapa hari ke depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Padang, IDN Times - Pemilik Pertashop di Sumatra Barat mengaku sangat terpukul dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang dilakukan oleh pemerintah, sejak Rabu (10/6/2026).

Pasalnya, setelah kenaikan harga tersebut, penjualan para pemilik Pertashop di Sumatra Barat jauh merosot dibanding sebelum adanya kenaikan harga yang dilakukan.

Kenaikan harga Pertamax itu membuat kebanyakan masyarakat yang biasanya menggunakan BBM dengan ron 92 itu beralih ke Pertalite dengan ron 90.

1. Penjualan Pertamax merosot

Pertashop di Jalan Pondok Raya, Kelurahan Condongcatur, Depok, Sleman. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Ketua Asosiasi Pertashop Sumbar, Rahmad Danur, mengatakan bahwa terjadi penurunan konsumen yang menggunakan Pertamax sejak terjadinya kenaikan harga kemarin.

"Penurunannya cukup drastis. Bahkan salah satu anggota kita ada yang menyatakan penurunan penjualannya mencapai 50 persen pada hari pertama kemarin," katanya.

Dengan penurunan jumlah konsumen itu, Rahmad menyatakan kekhawatiran para pemilik Pertashop yang ada di Sumatra Barat untuk menutup usahanya.

"Kekhawatiran tentu ada. Tapi untuk saat ini kami mencoba dulu untuk menjalani penjualan seperti saat ini. Karena kami mau melihat dulu seperti apa perkembangannya," katanya.

2. Banyak warga beralih ke Pertalite

Pertashop di Jalan Pondok Raya, Kelurahan Condongcatur, Depok, Sleman. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Rahmad mengatakan, meski lokasi Pertashop lebih dekat dengan warga di daerah perkampungan, tetapi banyak yang memilih untuk mengantre pertalite di SPBU yang berjarak cukup jauh.

"Karena perbedaan harga yang cukup tinggi membuat banyak yang memilih untuk mengantre Pertalite di SPBU dan tidak mau menggunakan Pertamax," katanya.

Menurutnya, beralihnya para pengguna Pertamax ke Pertalite tersebut karena selisih harga yang cukup tinggi antara BBM subsidi dan nonsubsidi tersebut.

3. Penjualan Pertamax di Pertashop

Pertashop (dok. Pertamina)

Rahmad mengatakan, sebelum terjadinya kenaikan harga, ia bisa menjual BBM nonsubsidi tersebut sebanyak 900 liter setiap harinya. Tetapi, setelah kenaikan harga itu, ia belum menghitung jumlah penjualannya karena baru hari kedua.

"Biasanya saya melakukan penghitungan itu setiap 10 hari sekali dan nanti saya akan melihat dulu bagaimana perkembangannya selama sepekan ini," ujarnya.

Menurutnya, dengan kenaikan harga yang cukup signifikan tersebut maka akan membuat pemilik Pertashop memilih untuk menutup usahanya itu.

Editorial Team

Related Article