Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kisah Kakak-Adik Gantikan Orangtua Berangkat ke Tanah Suci
Doni dan Dona saat kembali dari tanah suci (Foto: Istimewa)
  • Dona dan Doni berangkat haji menggantikan kedua orangtua mereka yang telah wafat sebelum jadwal keberangkatan, melanjutkan amanah yang sudah direncanakan sejak 2013.

  • Keduanya menghadapi tantangan biaya pelunasan haji, namun hasil panen kebun keluarga yang melimpah menjadi jalan rezeki untuk menunaikan ibadah tersebut bersama-sama.

  • Demi memenuhi amanah itu, Dona memutuskan berhenti dari pekerjaannya agar bisa fokus menjalankan ibadah haji bersama sang kakak di Tanah Suci.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Padang, IDN Times - Bagi sebagian besar jemaah haji, perjalanan menuju tanah suci adalah sebuah panggilan untuk menyelesaikan rukun Islam ke-5. Tetapi hal berbeda dinyatakan oleh Dona Putra dan kakaknya Doni yang menjadi jemaah haji kelompok terbang (kloter) 14 debarkasi Padang.

Perjalanan menuju tanah suci bagi keduanya bukan hanya sekedar perjalanan spiritual semata, tetapi lebih dari itu. Bagi mereka, perjalanan itu untuk mewujudkan harapan kedua orangtuanya.

Pasalnya, ayah dan ibu Dona dan Doni tidak sempat menunaikan ibadah haji yang telah didaftarkan sejak tahun 2013 silam. Kedua orangtuanya telah meninggal dunia sebelum jadwal pemberangkatan.

1. Kepergian kedua orang tua

Jemaah Haji embarkasi Padang menaiki pesawat untuk melakukan perjalanan Haji 2026 (Foto: Kemenhaj Sumbar)

Belum genap hilang duka kepergian sang ayah, keluarga kembali diuji dengan wafatnya sang ibu hanya dua bulan kemudian. Dalam waktu yang singkat, Dona dan saudaranya kehilangan dua sosok yang selama ini menjadi tempat mereka pulang.

Di tengah duka itu, tersimpan sebuah amanah yang tak pernah mereka bayangkan akan datang begitu cepat. Dona Putra dan kakak keduanya Doni ditakdirkan menjadi jemaah Kloter 14 Embarkasi Padang asal Kabupaten Limapuluh Kota.

Kedua orangtua mereka telah memiliki porsi haji sejak 2013 dan menanti waktu keberangkatan ke Tanah Suci. Namun takdir berkata lain. Sebelum panggilan itu tiba, keduanya lebih dahulu berpulang.

“Awalnya memang ada rasa sedih. Kami berangkat menggantikan orangtua yang sudah tidak ada. Tapi kami berdua memantapkan niat, mudah-mudahan haji yang kami lakukan juga menjadi kebaikan untuk almarhum dan almarhumah,” ujarnya, Sabtu, 20 Juni 2026.

Di usia 32 tahun, Dona tak pernah membayangkan akan berangkat haji secepat ini.

Bersama sang kakak, ia menerima pelimpahan porsi haji kedua orangtuanya. Namun, menerima amanah tersebut bukan berarti seluruh persoalan selesai.

2. Perjuangan pelunasan biaya haji

Jemaah Haji embarkasi Padang menaiki pesawat untuk melakukan perjalanan Haji 2026 (Foto: Kemenhaj Sumbar)

Setelah proses pelimpahan dimulai, mereka dihadapkan pada kenyataan lain. Biaya pelunasan yang harus segera disiapkan.

Saat itu, Dona dan keluarganya belum memiliki gambaran dari mana dana pelunasan akan diperoleh. Bahkan di awal, mereka sempat berpikir hanya satu orang yang akan berangkat lebih dulu.

“Kami sempat berpikir mungkin hanya satu orang yang bisa berangkat karena biaya pelunasan belum jelas. Tapi kami tetap berusaha dan berdoa,” kenangnya.

Harapan itu kemudian tumbuh dari kebun yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga.

Sejak orangtua meninggal dunia, sang kakak memilih melanjutkan usaha keluarga dengan mengelola kebun jeruk dan sawah di kampung halaman mereka di Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota. Tak ada yang menyangka, menjelang masa pelunasan haji, hasil panen justru datang melebihi perkiraan.

Awalnya keluarga hanya memperkirakan hasil panen sekitar 500 kilogram. Namun ketika musim panen tiba, hasil yang diperoleh mencapai dua hingga tiga kali lipat dari perkiraan semula.

Bagi keluarga itu, panen tersebut bukan sekadar hasil kerja pertanian. Panen itu menjadi jalan yang membuka kesempatan bagi dua bersaudara tersebut untuk melunasi biaya haji dan berangkat bersama menggantikan kedua orangtua mereka.

“Alhamdulillah, kami diberi rezeki oleh Allah. Dari hasil kebun itulah pelunasan bisa dilakukan,” katanya.

3. Berhenti dari pekerjaan

Doni dan Dona saat kembali dari tanah suci (Foto: Istimewa)

Jika sang kakak bertahan mengelola kebun keluarga, Dona harus mengambil keputusan berbeda. Demi menunaikan amanah tersebut, ia memilih melepaskan pekerjaannya sebagai karyawan perusahaan aplikasi di Dharmasraya.

Menurutnya, waktu pelaksanaan ibadah haji yang cukup panjang membuatnya sulit memperoleh izin dari perusahaan tempat ia bekerja.

“Setelah Lebaran kemarin saya memutuskan resign. Karena waktu haji cukup lama dan tidak memungkinkan mengambil cuti panjang,” ujarnya.

Keputusan itu bukan perkara mudah. Namun baginya, kesempatan menggantikan kedua orangtua untuk menunaikan ibadah haji adalah amanah yang tidak datang dua kali.

Kini, ketika akhirnya tiba di Tanah Suci bersama sang kakak, perasaan yang hadir masih bercampur aduk.

Ada syukur karena dapat memenuhi panggilan Allah. Namun ada pula kerinduan kepada kedua orangtua yang sejak lama mendambakan perjalanan tersebut. Terlebih sang ibu semasa hidup sering menanyakan kapan jadwal keberangkatan haji mereka.

“Kalau perasaan memang campur aduk. Ada sedih karena kami menggantikan orangtua. Apalagi ibu sering bertanya kapan berangkat haji. Tapi Alhamdulillah akhirnya kami bisa melaksanakan amanah ini,” tuturnya.

Editorial Team

Related Article