Walhi: Sumsel Bisa Alami Bencana Jika Tata Kelola Lingkungan Tak Berubah

- Walhi Sumsel mengingatkan bahwa tata kelola lingkungan tak berkelanjutan dapat menyebabkan longsor dan banjir di beberapa daerah di Sumatera Selatan.
- Pemerintah diminta untuk menghentikan aktivitas merusak lingkungan, melakukan rehabilitasi daerah aliran sungai kritis, dan mengetatkan izin lingkungan di wilayah rawan bencana.
- Peringatan dini, tata ruang yang aman, dan pengawasan ketat harus dilakukan bersama untuk mencegah potensi korban jiwa dan kerugian masyarakat akibat bencana alam.
Palembang, IDN Times - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel mengingatkan bencana alam turut mengintai Bumi Sriwijaya, seperti wilayah lain di Sumatra saat ini. Persoalan tata kelola lingkungan yang tak berkelanjutan dapat menyebabkan longsor dan banjir di sejumlah daerah seperti, Musi Rawas, Muara Enim, Lahat, Musi Banyuasin hingga Palembang.
"Jika pola pembangunan tidak berubah, hari ini Aceh yang terendam, besok Sumsel bisa bernasib sama," ungkap Ketua Walhi Sumsel, Yuliusman, Minggu (30/11/2025).
1. Rehabilitasi DAS di Sumsel adalah keseharusan

Dirinya mendesak, pemerintah menghentikan aktivitas yang merusak lingkungan seperti pembukaan tambang baru bara terbuka serta pembukaan kawasan gambut. Terlebih perlu upaya dalam memulihkan daerah aliran sungai (DAS) yang kritis akibat ulah manusia.
"Rehabilitasi DAS bukan pilihan tetapi keharusan. Jika tidak dilakukan, bencana (hidrometeorologi) seperti ini akan terus berulang," ungkap dia.
2. Bencana alam rugikan masyarakat

Selain itu, dirinya meminta ada upaya dalam pengetatan izin lingkungan terutama di wilayah yang memiliki catatan banjir dan longsor. Dengan begitu, diharapkan potensi korban jiwa dan kerugian masyarakat dapat dicegah.
"Peringatan dini, tata ruang yang aman, dan pengawasan ketat harus berjalan bersama. Jangan menunggu bencana terjadi baru tergerak," jelas dia.
3. Bencana bukti kerusakan ekologis

Yuliusman mengatakan, apa yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kali ini menjadi sinyal dan ancaman kerusakan ekologis di Sumatra. Hal ini merupakan konsekuensi dari rusaknya sumber daya alam yang berorientasi eksploitasi.
"Bencana ini menunjukkan bahwa alam semakin kehilangan daya dukungnya. Kerusakan ekologis lah yang jadi faktor utama," jelas dia.


















