Pakar Sebut Investasi Emas Lebih Baik Saat Ekonomi Sedang Lesu

- Investasi emas dipilih sebagai instrumen investasi stabil di tengah ketidakpastian ekonomi.
- Harga emas cenderung naik saat kondisi ekonomi lesu, rata-rata naik 10-12% setiap tahun dalam sepuluh tahun terakhir.
- Kenaikan harga emas hanya berdampak pada kalangan menengah atas, sementara kalangan menengah bawah berpikir dua kali untuk membeli emas.
Palembang, IDN TImes - Di tengah gejolak dan ketidakpastian ekonomi membuat masyarakat memilih emas sebagai instrumen investasi. Emas dianggap lebih stabil dibanding investasi lain seperti valuta asing, saham, atau kripto yang cenderung mengalami fluktuasi.
"Dalam kondisi seperti ini, masyarakat cenderung mengalihkan likuiditas atau dana mereka ke bentuk investasi yang lebih aman seperti emas," ungkap Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri), Soekanto Sairuki, Senin (21/4/2025).
1. Emas cenderung tidak terganggu fluktuasi dan inflasi

Soekanto mengatakan, investasi emas merupakan instrumen investasi safe haven atau pelindung nilai yang stabil meski di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil. Saat pasar sedang lesu, emas cenderung mengalami kenaikan harga.
"Emas dianggap sebagai investasi yang aman karena tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga barang atau inflasi. Kenaikan harga emas lebih banyak mengikuti ketidakpastian ekonomi global dan juga nilai tukar rupiah terhadap dolar," jelas dia.
2. Permintaan tinggi sebabkan kelangkaan emas

Menurutnya, dalam sepuluh tahun terakhir, kenaikan harga emas rata-rata naik sebesar 10-12 persen setiap tahun. Dengan kondisi yang lebih stabil dan aman tersebut lah investasi emas layak dalam melindungi nilai kekayaan.
"Secara logika umum, orang pasti akan melirik emas sebagai pilihan investasi jangka panjang," jelas dia.
Sebagai investasi aman, kelangkaan emas juga dapat terjadi karena mengalami permintaan yang tinggi. Dalam jangka pendek Kondisi ini berdampak pada penurunan penjualan dan jangka panjang bisnis perhiasan akan tetap stabil.
"Kelangkaan emas karena permintaan tinggi juga menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga. Untuk pelaku usaha, ini mungkin menjadi tantangan jangka pendek, tapi dalam jangka panjang tidak akan terlalu terganggu," jelas dia.
3. Invesitasi emas cenderung dipilih kalangan menengah atas

Soekanto menambahkan, kenaikan harga emas hanya berdampak pada kalangan menengah atas. Mereka tidak terpengaruh kenaikan dan lebih siap secara finansial untuk membeli emas. Sedangkan bagi kalangan menengah bawah, kenaikan harga emas membuat mereka berpikir dua kali untuk membeli emas.
"Ada dua jenis pembeli emas. Yang satu membeli untuk dipakai sebagai perhiasan, yang lainnya membeli logam mulia untuk disimpan dan dijual kembali saat harga naik. Keduanya terpengaruh secara berbeda oleh pergerakan harga," jelas dia.



















