Ekonom Unsri: Daya Beli Masyarakat saat Ramadan Tertekan

- Pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan di sekitar lima persen akibat inflasi global dan ketidakpastian geopolitik.
- Konsumsi domestik masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, namun masyarakat lebih berhati-hati dalam belanja.
- Faktor yang membentuk pola konsumsi masyarakat saat ini antara lain inflasi, perdagangan digital, media sosial, dan ketidakpastian ekonomi.
Palembang, IDN Times - Pelemahan daya beli masyarakat terus menjadi sorotan dalam problem ekonomi yang sedang dihadapi saat ini. Kelas menengah dan menengah bawah semakin berhati-hati dalam pengeluaran sambil menantikan perkembangan kondisi ekonomi ke depan, terutama saat momen Ramadan dan Lebaran, yang memicu pengeluaran lebih besar dari biasanya.
Ekonom Universitas Sriwijaya (Unsri), Dr Abdul Bashir mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hari ini tidak lepas dari resiliensi di tengah tantangan global. Meski menghadapi banyak tantangan akibat inflasi global dan ketidakpastian geopolitik, masih membuat ekonomi Indonesia bertahan di kisaran lima persen yang artinya pertumbuhannya stagnan.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca pandemi COVID-19 relatif stagnan di sekitar lima persen. Angka ini terindikasi mengalami perlambatan. Beberapa faktor penyebabnya adalah kondisi ketenagakerjaan, lapangan pekerjaan, dan tingkat upah yang sulit, sehingga menimbulkan ketidakpastian ekonomi yang tinggi," ungkap Abdul Bashir, kepada IDN Times, Jumat (14/3/2025).
1. Konsumsi domestik sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi

Bashir menjelaskan, saat ini konsumsi domestik tetap menjadi pendorong utama dalam laju pertumbuhan ekonomi. Namun, ada pergeseran sikap masyarakat yang lebih berhati-hati dalam belanja. Kondisi ini tercermin dalam belanja rumah tangga yang memprioritaskan barang dan jasa penting, yang berpotensi membatasi pengeluaran untuk barang-barang yang bersifat diskresioner.
"Apabila tekanan inflasi terus berlanjut, maka akan terus mengikis daya beli riil masyarakat akan tergerus, yang memaksa rumah tangga untuk lebih strategis dalam mengalokasikan anggaran mereka. Tren ini juga akan dipengaruhi oleh intervensi pemerintah, seperti program bantuan sosial, dan stabilitas ekonomi global secara keseluruhan," jelas dia.
2. Empat faktor pembentuk pola konsumsi masyarakat

Dirinya menjelaskan ada empat faktor yang membentuk pola konsumsi masyarakat saat ini. Pertama adalah inflasi, yang mempengaruhi kebiasaan konsumsi di berbagai kelompok pendapatan. Kedua, perdagangan digital dan dompet elektronik yang semakin berkembang, menawarkan kemudahan dan akses ke berbagai macam produk.
Ketiga, media sosial dan influencer daring juga memainkan peran besar dalam mempengaruhi preferensi konsumen dan menciptakan tren yang mendorong permintaan untuk barang-barang tertentu.
"Faktor selanjutnya adalah ketidakpastian ekonomi, yang didorong oleh peristiwa global dan kebijakan domestik. Hal ini mempengaruhi keyakinan konsumen, yang mengarah pada pengeluaran yang lebih konservatif. Keberlanjutan dan konsumsi etis semakin memengaruhi keputusan pembelian, khususnya di kalangan demografi yang lebih muda," jelas dia.
3. Masyarakat cenderung lebih cermat dalam mengalokasikan pengeluaran

Di tengah situasi ekonomi yang lesu, masyarakat kini semakin peka terhadap harga dan cenderung memilih barang atau jasa berdasarkan nilai. Selain itu, tren pun bergeser dimana masyarakat kian memprioritaskan kebutuhan dari pada keinginan dengan mengurangi pengeluaran untuk barang-barang yang dianggap tidak penting.
"Banyak konsumen yang beralih ke merek label lokal dan produk generik untuk menghemat uang. Selain itu, pasar barang bekas dan barang sewaan juga semakin berkembang, mencerminkan meningkatnya kesadaran akan konservasi sumber daya dan langkah-langkah penghematan biaya," jelas dia.
Kondisi ini juga dipengaruhi oleh kemudahan berbelanja secara daring, yang memungkinkan konsumen membandingkan harga dan mencari alternatif yang lebih murah.
"Perubahan perilaku ini menunjukkan adaptasi strategis terhadap tantangan ekonomi, dengan penekanan pada kepraktisan dan keterjangkauan," tambah Bashir.
4. Ketidakpastian ekonomi masih menjadi tantangan ke depan

Bashir melihat ke depan, ekonomi Indonesia masih akan dipengaruhi oleh ketidakpastian. Hal ini terlihat dalam penurunan belanja konsumtif masyarakat, khususnya menjelang Ramadan. Kondisi ini akan bergantung pada faktor ekonomi seperti inflasi. Jika inflasi terus berlanjut, pertumbuhan ekonomi akan tetap lambat, dan konsumen akan mempertahankan kebiasaan berbelanja dengan hati-hati.
"Ada risiko berlanjutnya penurunan permintaan yang dapat berdampak pada bisnis dan berpotensi menyebabkan stagnasi ekonomi," ujar dia.
Saat ini masyarakat masih menunggu arah kebijakan pemerintah dalam menstabilkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Semua itu sangat bergantung pada kebijakan yang tepat dari pemerintah.
"Jika kepercayaan konsumen pulih maka akan mendorong peningkatan daya belu masyarakat. Dampak jangka panjang juga akan bergantung pada bagaimana bisnis beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen ini, dengan menekankan nilai, keberlanjutan, dan keterlibatan pasar digital," jelas dia.


















