Keluarga Sempat Berkomunikasi Sebelum Brigadir J Dikabarkan Meninggal

Jambi, IDN Times - Samuel Hutabarat dan Rosti Simanjuntak beserta dua anak perempuannya sedang pulang ke kampung halaman di Balige, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatra Utara (Sumut), saat mendengar kabar anak laki-laki pertama di keluarganya meninggal dunia.
Keluarga tak menyangka percakapan antara Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J dengan ibunya Rosti Simanjuntak, Jumat (8/7/2022), menjadi yang terakhir sebelum ada kabar dari Jakarta yang menyatakan anaknya itu meninggal dunia.
Keluarga syok, karena kabar buruk tersebut datang secepat kilat. Tak ada sakit, korban tiba-tiba dinyatakan meninggal dunia. Pihak keluarga awalnya tak mengetahui secara detail penyebab kematian Brigadir J hingga perjalanan pulang dari Balige.
"Apa yang sudah tidak ada, tidak bisa kembali. Hanya satu keinginan pihak keluarga selain pemulihan nama baik pengungkapan kasus ini bisa mengobati hati keluarga," ungkap Perwakilan Advokat Dongantubuh Hutabarat yang juga sekaligus perwakilan keluarga, Ferdy Marsel Kesek kepada IDN Times di rumah duka Desa Suka Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Senin (18/7/2022).
1. Brigadir J sempat bertanya soal rencana ziarah keluarganya

Ferdy menjelaskan, percakapan terakhir antara korban dengan keluarga sekitar pukul 12.00-14.00 WIB, Jumat (8/7/2022). Saat itu korban menanyakan perihal ziarah yang dilakukan kedua orangtuanya di kampung halaman. Saat itu pula, keluarga Brigadir J akan pergi ke Simalungun untuk berziarah.
"Karena dengar kabar itu, keluarga langsung mempersiapkan diri untuk pulang ke Jambi," jelas dia.
Dua hari berselang tepatnya pada Minggu (10/7/2022), jenazah mendiang tiba di Sungai Bahar, rumah orangtuanya di komplek Sekolah Dasar (SD) 74 Desa Suka Makmur. Jenazah korban dibawa menggunakan pesawat udara dan diteruskan perjalanan hampir dua jam dari kota Jambi.
Pihak keluarga yang belum mengetahui penyebab kematian Brigadir J, histeris saat dilarang membuka peti jenazah. Petugas kepolisian yang menyerahkan jenazah tak mengizinkan keluarga membukanya.
Namun pihak keluarga tak bergeming, mereka lalu membuka peti untuk memberi formalin tambahan sebagai pengawet jasad Brigadir J.
"Pihak keluarga menganggap formalin yang diberikan tim dari Polri kurang sehingga ingin menambahnya," ujar dia.
2. Pihak keluarga terus mempertanyakan kronologis kejadian

Kecurigaan keluarga muncul ketika melihat tubuh Brgadir J, mulai dari tubuh yang lecet hingga lebih dari satu lubang dari peluru yang menembus tubuh. Pihak keluarga tak menyangka cara anaknya meninggal. Apalagi selama ini Brigadir J selalu bercerita tak memiliki masalah apalagi berlaku kurang ajar dengan keluarga Irjen Pol Ferdy Sambo, Kadiv Propam Mabes Polri.
"Saat itu keluarga tahu kalau Yosua ikut kegiatan keluarga Irjen Pol Ferdy Sambo ke Magelang. Dari sana mereka mengantar anak Jenderal tersebut masuk sekolah Taruna Nusantara. Setelah itu, korban pulang ke Jakarta, informasinya lewat jalur darat," ujar dia.
Pihak keluarga sampai hari ini masih mempertanyakan kronologis meninggalnya Brigadir J. Jika melihat kronologis perjalanan, keluarga menyangkal jika Brigadir J telah sampai di kediaman sang jenderal secepat kilat.
"Kami terima informasinya mereka pulang lewat jalur darat. Karena informasi terakhir di tanggal 8 itu ketika korban mengabari keluarga sedang perjalanan pulang," jelas dia.
3. Keluarga yakin orang terdekat anaknya terlibat

Hal janggal lainnya diterangkan Ferdy Marsel ketika keluarga melihat luka memar di bagian wajah korban. Lalu setelah diperiksa lebih teliti, jumlah peluru yang tembus ke tubuh korbannya lebih dari satu.
"Artinya ada penganiayaan luar biasa yang dibarengi pembunuhan. Sebelum ditembak diduga memang disiksa lebih dahulu," jelas dia.
Pihak keluarga sejauh ini hanya berharap tim yang dibentuk dan diketuai Wakapolri bisa bekerja maksimal untuk mengungkap kasus tersebut. Dari dugaan pihak keluarga, ada pihak-pihak yang disinyalir terlibat untuk mencoba menghilangkan barang bukti.
"Proses hukum harus dikawal. Publik sebenarnya sudah bisa menjawab, di mana ada oknum yang berhubungan langsung dengan adik kami. Tapi kami bukan penyidik, sehingga tidak bisa memutuskan. Kami serahkan ke Komnas HAM, Kompolnas, dan lawyer, supaya objektif dan transparan," jelas dia.
4. Rosti masih terpukul dan trauma

Ibu korban Rosti Simanjuntak masih terpukul melihat nasib anaknya Brigadir J yang meninggal di rumah dinas Irjen Pol Ferdy Sambo, Komplek Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7/2022) lalu. Rosti masih tertunduk saat menyambut tamu yang datang ke rumahnya untuk menyampaikan belasungkawa.
"Ibu (Rosti) masih sangat terpukul. Dia trauma setelah melihat kondisi anaknya," ungkap Roslin Simanjuntak bibi Brigadir J.
Menurut keluarga, Rosti tak terima melihat luka yang cukup parah di tubuh anaknya. Hal itu juga memicu kematian Brigadir J karena baku tembak sebagai hal yang janggal.
"Saat ini kondisi ibunya semakin lemah. Kaki dan tubuhnya sejak pagi lemas, karena sampai saat ini dia masih terus menangis," jelas dia.


















