Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Tanda Kamu Punya Kebiasaan Sabotase Hubungan Percintaan

3 Tanda Kamu Punya Kebiasaan Sabotase Hubungan Percintaan
potret pasangan menghabiskan waktu bersama (unsplash.com/Toe Heftiba)

Ada banyak orang yang mendambakan percintaan ideal atau impian mereka. Di sisi lain, ahli juga melihat ada banyak orang yang tanpa sadar menepis peluang datangnya cinta tersebut. Ahli terapis menyebut, orang-orang ini terjebak di dalam siklus konflik, kekecewaan, atau kesepian, sering kali mereka juga menyalahkan pasangan hingga keadaan mereka.

Saat kamu mengalisis kembali penyebab konflik dan ketidaknyamanan itu terus terjadi, ternyata asalnya dari diri kamu sendiri. Sikap menyabotase diri tidak hanya berkaitan dengan saat kamu sedang meraih mimpi. Sabotase juga bisa terjadi saat kamu berhadapan dengan hubungan asmara yang sedang dijalani.

Kondisi ini dapat terjadi dipengaruhi oleh pengalaman di masa kecil, trauma hubungan di masa lalu, hingga masalah hubungan kamu dengan dirimu sendiri. Kali ini, mari kita bahas bagaimana tiga cara paling umum saat orang menyabotase hubungan cinta mereka!

1. Pola pikir 'semua' atau 'tidak sama sekali'

potret pasangan menghabiskan waktu bersama (pexels.com/Mental Health America (MHA))
potret pasangan menghabiskan waktu bersama (pexels.com/Mental Health America (MHA))

Pernahkah kamu mengalami putus cinta atau gagal dalam hubungan cinta berkali-kali dalam waktu berdekatan? Mungkin salah satunya, karena kamu memiliki sikap perfeksionisme yang sangat tinggi diterapkan pada pasangan atau ekspektasi akan hubungan tersebut. Ahli terapis bercerita mengenai bagaimana seseorang bisa putus sebanyak lima kali, hanya dalam kurun waktu dua tahun.

Penyebabnya, entah karena pasangan yang kurang ambisius, pasangan kurang pandai berekspresi, dan terus berlanjut. Jika kamu terus melihat kekurangan dari pasangan sebagai alasan untuk mengakhiri hubungan, kamu mungkin tidak akan pernah menemukannya. Dalam situasi ini kamu terjebak dalam pola pikir 'semua' kriteria pasangan ideal itu harus ada atau lebih baik tidak sama sekali.

Padahal, terlepas memiliki standar tinggi dapat melindungi kamu dari hubungan yang kurang sehat, standar tersebut juga dapat terus-menerus membuat kamu tidak puas. Jika kamu sedang berada dalam situasi perfeksionisme dalam menilai pasangan, sekarang cobalah untuk mencari pasangan yang kekuatannya sejalan dengan nilai-nilai inti kamu.

Kamu harus belajar, bahwa pasangan yang baik bukan seseorang yang sempurna, tetapi seseorang yang memperkaya hidupnya, sekaligus mau berbagi visi untuk masa depan bersama. Pasalnya, kamu akan selalu menemukan kekurangan dari setiap pasangan yang ditemui dan itulah yang membuat mereka jadi manusia.

2. Berpegang teguh pada luka masa lalu

potret pasangan menghabiskan waktu bersama (pexels.com/cottonbro studio)
potret pasangan menghabiskan waktu bersama (pexels.com/cottonbro studio)

Jika seseorang masih memiliki luka dari masa lalu yang menjelma menjadi sebuah trauma, pada akhirnya dapat berpengaruh pada hubungannya di masa sekarang. Mungkin kamu setuju jika pasangan saat ini sangat baik, perhatian, mau berkomitmen, namun di sisi lain kamu masih terbayang-bayang pengkhianatan dari mantan. Kenangan buruk tersebut mungkin membawa kamu pada pemikiran bahwa pasangan kamu yang sekarang juga pasti nantinya akan berkhianat. 

Bahkan, terkadang tak peduli saat ini ia kelihatan sangat baik. Jika kamu sedang terjebak dalam pemikiran tersebut, artinya kamu sedang menyabotase diri akan kesempatan untuk membangun hubungan baru, dengan berasumsi sejarah yang sama akan terulang kembali. Cara paling penting dalam mengatasi trauma masa lalu ini adalah dengan terlebih dahulu menyembuhkan diri sendiri, sebelum memulai yang baru.

Luangkan waktu untuk memproses luka yang belum terselesaikan dari hubungan masa lalu. Pasangan kamu bukanlah mantan kamu, perlakukan mereka seperti manusia apa adanya.

3. Jebakan kalimat 'kamu melengkapiku'

potret pasangan menghabiskan waktu bersama (pexels.com/Kampus Production)
potret pasangan menghabiskan waktu bersama (pexels.com/Kampus Production)

Ahli terapis cinta juga menemukan, seseorang dapat menyabotase diri dalam hubungan yang dijalaninya, saat berpikiran bahwa menjalin hubungan artinya kamu dan pasangan harus saling melengkapi. Pemikiran ini memiliki kepercayaan bahwa cinta berarti kehilangan dirimu sendiri demi pasanganmu. Pendekatan ini dapat menyebabkan hubungan terasa tak tertahankan, sangat mencekik, hingga menimbulkan masalah bagi salah satu pasangan, dan perasaan tidak aman bagi pasangan lainnya.

Hubungan asmara yang ideal bukan berarti menuntutmu harus mengorbankan seluruh dirimu untuk pasangan, hingga kamu pun rela kehilangan jati diri. Hubungan yang sehat dibangun atas dasar saling memiliki, bukan saling ketergantungan. Jadi, kamu sebaiknya tetap mempertahankan individualitas dengan meluangkan waktu untuk passion, persahabatan, dan self-care. Justru, saat kamu menjadi diri sendiri, pasangan yang baik akan dapat melihat bagaimana nilai dirimu dan membuat ia jauh lebih jatuh cinta padamu.

Memiliki kebiasaan suka menyabotase hubungan cinta kamu sendiri bukanlah hukuman seumur hidup, kamu masih bisa mengubahnya. Kuncinya adalah kesadaran diri, coba tanya kembali pada dirimu, apakah kamu ingin pasangan sangat sempurna, terjebak dengan masa lalu tanpa berkesudahan, atau kehilangan jati diri sendiri karena pasangan? Kemudian, carilah dukungan untuk mengatasi ini dan berkomitmenlah untuk tumbuh lebih baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hafidz Trijatnika
EditorHafidz Trijatnika
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More

Jadwal Imsak dan Buka Puasa Palembang 4 Maret, Hari Ke-14 Ramadan

04 Mar 2026, 01:05 WIBNews