Mengenang Masa Jaya Sriwijaya FC, Kini di Kasta Terendah Sepak Bola Indonesia

- Sriwijaya FC, klub kebanggaan Sumsel yang berdiri tahun 2004, pernah berjaya dengan gelar Double Winner 2007 dan menjuarai Indonesia Super League 2012.
- Sejak 2015 performa Sriwijaya FC menurun akibat konflik internal, krisis finansial, dan lemahnya manajemen hingga akhirnya terdegradasi ke Liga 3 pada Februari 2026.
- Meski kini terpuruk di dasar klasemen tanpa kemenangan, Sriwijaya FC masih menyisakan empat laga musim ini dan tetap dikenang sebagai klub legendaris dengan sejarah gemilang.
Palembang, IDN Times - Pernah jadi raja di tahta tertinggi sepak bola Indonesia, kini klub legendaris Sumatra Selatan, Sriwijaya FC (SFC) tinggal cerita. Tim dengan sejuta prestasi pada masa jayanya terpaksa turun kasta ke Liga 3 pada musim ini.
Nama besar Laskar Wong Kito akhirnya runtuh. Klub berjuluk Elang Andalas terpaksa meninggalkan masa jaya usai takluk 0-3 dari Sumsel United dalam Derby Sumsel di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) Palembang 28 Februari 2026 lalu.
Kekalahan itu memastikan tim berada di kasta terendah sepak bola Tanah Air. Sebelum performa mereka merosot, SFC tenar sebagai pemilik gelar Double Winner saat dipimpin oleh pelatih Rahmad Darmawan pada 2007 lalu.
1. Sriwijaya FC kehilangan sosok di balik masa kejayaan pada Februari 2026

Berdasarkan sejarah panjang, Sriwijaya FC lahir pada 23 Oktober 2004 saat Pemerintah Provinsi Sumsel dipimpin Gubernur Syahrial Oesman. Kala itu, beliau membantu mengakuisisi tim dari Persijatim Solo FC yang beralih jadi Sriwijaya FC.
Dari langkah itu, berdirilah klub yang kemudian menjelma menjadi simbol kebanggaan masyarakat Sumsel. Seiring perjalanan klub, Laskar Wong Kito meraih puncak kejayaan pada tahun 2007. SFC mencatat sejarah sebagai Double Winner.
Klub sukses menjuarai Divisi Utama Liga Indonesia dan Copa Indonesia sekaligus. Prestasi tersebut berhasil mengangkat derajat klub sebagai kekuatan baru di sepak bola nasional.
Kejayaan tim berlanjut, pada tahun 2008 hingga 2011, Sriwijaya berkesempatan berlaga di level Asia dalam partisipasi klub di AFC Cup. Ketika itu, Sumsel dipimpin oleh Gubernur Alex Noerdin yang saat ini telah tutup usia pada 25 Februari 2026.
2. Perayaan ulang tahun Sriwijaya FC di 2026 diselimuti kabar turun kasta Liga 3

Usai terlibat dalam even Asia, nama Sriwijaya FC makin dikenal luas sebagai tim elit Indonesia. Pada 2012, kejayaan pun kembali terulang. Klub ini memiliki pemain bintang seperti Keith Gumbs, Firman Utina, dan Ferry Rotinsulu. Tahun itu, SFC sukses menjadi juara Indonesia Super League (ISL).
Namun, pada medio 2015–2018, performa klub mulai menurun. Konflik internal, masalah finansial, dan lemahnya manajemen perlahan menggerus kekuatan tim. Hingga akhirnya pada 2019, SFC harus menerima kenyataan pahit: degradasi ke Liga 2.
Sepanjang tahun itu, alih-alih bangkit, krisis klub justru kian dalam. Sejak 2023, Sriwijaya FC dilanda kesulitan finansial akibat minimnya sponsor. Puncaknya terjadi pada 31 Desember 2025, saat dukungan utama dihentikan dan operasional klub terganggu berat.
Pada awal 2026, situasi makin memburuk. Pelatih Sriwijaya FC, Budi Sudarsono, memilih mundur karena ketidakjelasan masa depan tim, diikuti para pemain yang hengkang akibat keterlambatan gaji.
Di tengah kondisi itu, kabar duka datang pada 25 Februari 2026 dengan wafatnya Alex Noerdin, sosok penting di balik masa kejayaan Sriwijaya FC. Tiga hari kemudian, pada 28 Februari 2026, SFC pasrah terdegradasi ke Liga 3.
Ironisnya, pada 1 Maret 2026, klub ini genap berusia 22 tahun. Perayaan Sriwijaya FC, bukan dikenang dengan kejayaan, melainkan kenyataan pahit turun kasta terendah sepak bola Indonesia.
3. Sriwijaya FC akan menghadapi Persekat di laga terdekat

Sekarang? Sriwijaya FC resmi berada di Liga 3. Klub yang dahulu disegani hanya menyisakan kenangan tentang masa kejayaan. Namun, perjalanan musim ini belum sepenuhnya berakhir.
Berdasarkan jadwal, Laskar Wong Kito masih harus menjalani empat laga penutup yang menantang. Pertanyaannya, mampukah Elang Andalas memberikan setidaknya satu kemenangan di sisa musim?
Pada 12 April 2026, Sriwijaya FC dijadwalkan bertandang ke markas Persekat Tegal di Stadion Trisanja. Laga ini menjadi peluang awal untuk memutus tren negatif yang membayangi sejak awal musim. Di bawah arahan pelatih Iwan Setiawan, harapan itu tetap ada, asal tim mampu menunjukkan kekompakan dan performa terbaik.
Tantangan berikutnya berlangsung pada 19 April 2026. Sriwijaya FC akan menjalani laga tandang menghadapi PSMS Medan di Stadion Utama Sumatra Utara. Pertandingan ini diprediksi berat, mengingat kekuatan PSMS dikenal solid.
4. Sriwijaya FC baru koleksi 2 poin dari Pegadaian Championship 2025/2026

Selanjutnya, pada 25 April 2026, Sriwijaya FC bakal kembali ke Palembang untuk menjamu Garudayaksa FC di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) Palembang. Laga kandang ini menjadi momen penting untuk memberikan sedikit kebanggaan bagi suporter setia yang tetap mendukung di tengah keterpurukan.
Lalu pada penutup musim, Sriwijaya FC akan bertandang ke markas Adhyaksa FC, sang pemuncak klasemen, di Banten International Stadium pada Mei 2026. Meski jadwal pasti belum ditentukan, laga ini akan menjadi akhir perjalanan panjang penuh ujian.
Sementara, dari sisi performa, kondisi SFC memprihatinkan. Dari 23 pertandingan yang dijalani, mereka belum meraih kemenangan. Hanya dua hasil imbang yang mampu dikumpulkan dan sisanya berakhir dengan kekalahan.
Sriwijaya FC hanya mampu meraih 2 poin di Pegadaian Championship 2025/2026. Mereka terpuruk di dasar klasemen Grup 1 Wilayah Barat dan dipastikan tak dapat selamat dari degradasi.
Namun, apa pun hasil SFC nanti dari empat laga sisa, tim ini tetaplah klub legendaris Sumsel. Mereka pernah mencatat sejarah sebagai tim pertama dan satu-satunya yang meraih Double Winner di Indonesia. Prestasi dan pencapaian yang akan selalu diingat para pendukungnya, walau menghadapi masa tersulit sekalipun.














