Warga Temukan Jejak Kaki Harimau di TKP Jenazah Desa Batu Gane Mura

Warga menemukan banyak jejak kaki harimau berukuran besar di sekitar TKP
Warga menemukan jala milik korban tergeletak di tepi sungai
Pihak TNKS langsung mengecek kondisi lapangan atas laporan warga
Musi Rawas, IDN Times - Suasana Desa Batu Gane, Kecamatan Selangit, Kabupaten Musi Rawas (Mura), hingga saat ini masih mencekam usai penemuan jasad Sahanan (45), warga setempat yang tewas diduga diserang binatang buas.
Pasalnya, warga menemukan banyak jejak kaki harimau berukuran besar di sekitar lokasi penemuan jenazah di tepian Sungai Bal, Dusun Sri Pengantin, Sabtu (28/2/2026) dini hari. Hal ini diakui Pj. Kepala Desa Batu Gane, Ahmad Iskani, yang menyebutkan dugaan kuat korban telah diincar dan diikuti oleh pemangsa sebelum diterkam.
"Di lokasi banyak jejak kaki harimau. Bahkan di jalan menuju lokasi kejadian, tepat di belakang jejak kaki korban juga terlihat jejak kaki harimau. Kemungkinan besar korban sudah diikuti sebelum akhirnya diterkam," ujarnya, Minggu (1/3/2026).
1. Warga menemukan jala milik korban tergeletak di tepi sungai

Ahmad menambahkan, korban kesehariannya biasa berkebun dan sering mencari ikan dengan berjalan kaki selama satu jam dari pondok menuju Sungai Bal. Biasanya, korban sudah kembali ke desa antara pukul 16.00-17.00 WIB untuk menjual hasil tangkapannya.
"Namun menjelang Magrib korban tak pulang dan memicu kekhawatiran keluarga. Selanjutnya, bersama warga menyisir aliran sungai dan warga menemukan jala milik korban tergeletak di tepi sungai, ungkapnya.
Dari petunjuk itulah warga mencari korban dengan menyusuri Sungai Bal. Sekitar 3 meter, jasad korban akhirnya ditemukan dengan kondisi tak lagi utuh dan mengenaskan.
"Saat ditemukan, kondisinya sudah meninggal dan tidak utuh. Antara badan dengan kepala ditemukan terpisah, dengan jaraknya mungkin sekitar 1 meter," terang Kades.
2. Pihak TNKS langsung mengecek kondisi lapangan atas laporan warga

Sementara itu, pihak Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) wilayah V Lubuk Linggau langsung mengambil tindakan dengan menurunkan tim untuk mengecek kondisi di lapangan terkait kejadian tersebut. Petugas juga mendatangi rumah duka untuk menggali informasi sekaligus menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
“Informasi awal yang kami dapat, korban biasanya mencari ikan di dalam kawasan hutan TNKS. Setelah itu biasanya dia pulang ke rumah. Namun saat ditunggu hingga malam tidak pulang, keluarga kemudian menyusul ke dalam,” ujar Kepala SPTN Wilayah V BBTNKS, Faried.
3. Dilihat dari luka yang dialami korban, dugaan mengarah pada serangan hewan buas

Faried menjelaskan, akses menuju lokasi kejadian memang berada di dalam kawasan hutan TNKS. Membutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan dari Dusun Sri Pengantin.
“Kalau dilihat dari luka yang dialami korban, dugaan sementara mengarah pada serangan hewan buas yang diindikasikan lebih besar ke arah harimau," ungkapnya.
Pihaknya juga menerima informasi dari warga mengenai adanya jejak kaki harimau di sekitar lokasi kejadian. Namun, untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, tim TNKS akan turun langsung ke TKP.
"Kalau informasi dari warga, ada jejak. Kami belum ke lokasi, rencananya pagi tim akan masuk ke dalam untuk mengecek TKP,” jelasnya.
4. Masyarakat tidak diperbolehkan beraktivitas di dalam kawasan hutan TNKS

Faried mengakui bahwa beberapa waktu sebelum kejadian, petugas TNKS memang telah melakukan patroli pengawasan di kawasan tersebut dan menemukan jejak kaki harimau di sekitar lokasi.
“Itu memang kawasan TNKS. Beberapa waktu lalu petugas juga mendapati jejak-jejak harimau di sekitar sana,” tegasnya.
Maka itu masyarakat sebenarnya tidak diperbolehkan beraktivitas di dalam kawasan hutan TNKS yang merupakan habitat satwa liar, termasuk harimau. Apalagi jika masuk seorang diri tanpa pendamping.
"Terkadang masyarakat mencari ikan atau keperluan sehari-hari. Kami tidak bisa sepenuhnya melarang, tetapi beraktivitas sendirian di habitat hewan buas tentu berisiko dan bisa menimbulkan kejadian fatal,” ujarnya.















