Kenapa Curah Hujan Sumsel Masih Tinggi Saat Ini? Ini Penjelasan BMKG

- BMKG menjelaskan hujan di Sumsel masih tinggi karena April merupakan masa pancaroba, di mana atmosfer belum stabil sehingga perubahan cuaca cepat dari panas ke hujan.
- Curah hujan di sebagian besar wilayah Sumsel masih tergolong menengah hingga tinggi, menunjukkan suplai uap air dan pembentukan awan hujan masih aktif.
- Kondisi global seperti ENSO dan IOD netral serta angin baratan dan aktivitas MJO turut memperkuat potensi hujan, meski masyarakat diminta tetap waspada cuaca ekstrem.
Palembang, IDN Times - Memasuki peralihan musim ke kemarau, sebagian besar wilayah Sumatra Selatan justru masih diguyur hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi. Kondisi ini membuat banyak warga bertanya-tanya, kenapa hujan masih sering turun?
Kepala Stasiun Klimatologis Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mencatat fenomena ini dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer yang masih mendukung terbentuknya awan hujan di wilayah Sumsel. Berikut penjelasan Stasiun Klimatologis yang dirangkum IDN Times.
1. April masih masa pancaroba, cuaca cenderung tidak stabil

Secara klimatologis, April merupakan masa peralihan atau pancaroba. Pada fase ini, cuaca cenderung tidak stabil. Pada periode ini, perubahan cuaca bisa terjadi dengan cepat dari panas ke hujan dalam waktu singkat.
Artinya, meski arah musim menuju kemarau, hujan belum langsung berhenti karena sistem atmosfer belum stabil sepenuhnya.
"Pada fase ini, atmosfer cenderung labil sehingga hujan masih sering terjadi, meskipun durasinya tidak selalu lama," ungkap Wandayantolis, Jumat (17/4/2026).
2. Curah hujan masih berada di level menengah hingga tinggi

BMKG mencatat, mayoritas wilayah Sumsel masih berada di kategori curah hujan menengah (50–150 mm), bahkan sebagian berpotensi tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa suplai hujan masih cukup konsisten, bukan hanya hujan sesekali.
"Sebagian besar wilayah Sumatera Selatan diprediksi masih mengalami curah hujan kategori menengah, dengan peluang hujan tinggi di beberapa daerah," jelasnya.
3. ENSO dan IOD netral, tidak menghambat hujan

Secara global, tidak ada fenomena iklim yang menekan pembentukan hujan di Indonesia saat ini. Dalam kondisi ini, pola cuaca berjalan normal, sehingga hujan tetap terbentuk sesuai dinamika lokal.
"Indeks ENSO dan IOD berada pada fase netral, sehingga tidak ada pengaruh signifikan yang mengurangi potensi hujan," jelasnya.
4. Angin baratan masih membawa banyak uap air

Angin dari arah barat masih dominan dan berperan penting dalam pembentukan awan hujan. Semakin banyak uap air di atmosfer, semakin besar peluang terbentuknya hujan.
"Aliran angin baratan masih aktif membawa uap air dari wilayah perairan, yang kemudian mendukung pembentukan awan hujan," ujarnya.
5. Aktivitas atmosfer seperti MJO ikut memperkuat hujan

Selain angin, gangguan atmosfer skala besar juga ikut berperan. Inilah yang sering menyebabkan hujan tiba-tiba turun deras meski sebelumnya cuaca panas.
"Aktivitas MJO dan gelombang atmosfer dapat meningkatkan pertumbuhan awan konvektif, yang memicu hujan dengan intensitas tertentu," jelasnya.
6. Beberapa wilayah bahkan mencatat hujan sangat tinggi

Pada awal April, ada wilayah yang mencatat curah hujan sangat tinggi hingga di atas 300 mm. Angka ini menunjukkan bahwa potensi hujan ekstrem masih bisa terjadi di beberapa titik.
"Curah hujan tertinggi tercatat di Kecamatan Sanga Desa, Musi Banyuasin, mencapai 338 mm," ungkapnya.
7. Waspada cuaca ekstrem dan dampaknya

Meski rata-rata hujan berada di kategori menengah, potensi cuaca ekstrem tetap ada. Risiko seperti banjir genangan, jalan licin, hingga pohon tumbang bisa terjadi jika hujan turun dengan intensitas tinggi.
"Masyarakat perlu waspada terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, serta dampak bencana hidrometeorologi," jelasnya.


















